Showing posts with label Manchester United. Show all posts
Showing posts with label Manchester United. Show all posts

Sunday, April 24, 2022

United Lucky 8th?

Manchester United incoming new manager, Erik ten Hag, is unlikely to compete in next year Champion league competition. The interim boss Ralf Rangnick had given up hope qualifying for next season's Champions League.  Saturday's 3-1 defeat at Arsenal moved the fourth-placed Gunners six points clear of United, who are sixth. 

The last time United lifted the Champion League trophy was in 2008. They beat Chelsea in Moscow, 6-5 on penalties after 1-1 draw. The soonest for United to compete back in Champion League competition would be in 2024 which 16 years had passed by.

The brutal reality of what Ten Hag is letting himself in for can be illustrated by the fact he is inheriting a bigger, more problematic task at United than Jurgen Klopp did when he succeeded the sacked Brendan Rodgers at Liverpool in October 2015. At least Klopp inherited a unified dressing room devoid of players who thought themselves better than they were, who actually wanted to be at the club, and a base of decent characters to launch Liverpool's road to redemption. In contrast, Ten Hag will be taking on a dysfunctional dressing room inhabited by players who do not want to be there, who are not good enough to be there and a team that embarrassed the club's good name in the 4-0 defeat against Liverpool at Anfield.

In terms of valuation, United  is leading the other premier league clubs. Forbes 2021 ranked United at no. 4 (below Barcelona, Real Madrid and Bayern Munich) above (Liverpool, Manchester City, Chelsea, Arsenal and Tottenham Hotspur). Hence United has the resources to improve their performance. Of course the question would be how? (or who?)

Real Madrid could be used as the template. The club had won 13 Champion League Titles. To be fair the first title, 1955–56 European Cup was without and English club participation (interestingly there was one Scottish club among the 16 participants). The second time Madrid won (1956-57) United was one of the 21 participants. Hence we might use 12 Madrid titles to United 3 titles in this comparison.   

If money could be titles it looks like Madrid could be one of the proofs. Real Madrid CF (La Liga) Total Gross Salaries for the 2021-2022 Season is £5,296,643 per week. Manchester United FC (Premier League) Total Gross Salaries is £4,119,423 per week. Certainly there is some room to sign expensive footballer stars. Of course the question would be who? which position?   

United did spend more than Madrid in season 21/22. United net spending (Total market value of arrivals minus departures) was €170m to Madrid €90m. But Madrid has a better position in terms of local competition table. They were second in 20/21 and 1st in 21/22 (still 5 games to play with 15 points gap to Barcelona on 2nd). United were 2nd last year and now 6th with 4 more games to play. The gap to 1st place Manchester City is 26 points. 

Sir Fergusson was the manager the last time United won Champion League trophy, He retired in 2013 and since then there are seven managers/care takers: Moyes, Giggs, Van Gaal,  Mourinho,  Solskjær, Carrick and Rangnick. Would Ten Hag be the lucky 8th?



Saturday, February 5, 2022

Football magic

I haven't written about football for a while now but the lost of ManUtd  to Boro - specifically the question of what next for Manchester United has made ponder about professional football. I have been working in Oil and Gas  business for more than two decades and I completely understand that it is business and nothing but business. Yes we do care about environment, employee safety etc but those are part of business necessities. We do that to comply with regulations as failing to do so means loosing license to operate which means loosing money

So money is the driver of all professional clubs like both United and Boro. There is a pretty wide gap between the two. United is pushing to the 4th position of premier league while Boro is currently 7th in the Championship which a league below Premier League. The game was played in United's home and the most expensive of Boro player is less than 10% of the most expensive player on United side. The odds were of course against Boro and yet they were drawn and United lost on the sudden death part of penalty shoot out. United fans would certainly complained about the equalizer but of course they should know better than United should simply kill the game by the end of the first half. 


Why would United fail to win the game ? Boro's supporters would not care how but they might say it was magic or luck. Human beings do believe such thing as luck - otherwise how would you explain Ronaldo -of all players- missed the penalty? but of course human made mistakes and that would be more plausible to explain the lost of Giants like United. There is uncertainties and randomness, but human brain would resist to see that and instead believes that somehow order would prevail. 

This uncertainty if favors minnows like Boro would certainly gives impression of magic, being lucky and believe in fairytale. If the game were to be replayed in another alternative universe United might simply won it easily. Statistically they should but of course there is always chance for the unthinkable. And that would makes life more interesting, isn't it - specially if you were no fan of United 

     


Wednesday, May 27, 2009

Arrivederci Roma: Visca el barca !

Anti klimaks ! Di Roma Ferguson nampak putih pucat, seputih seragam anak-anak asuhannya di lapangan. Sampai sembilan menit pertama Ronaldo and co kelihatan menjanjikan sejarah berhadapan depan Barcelona yang nampak gugup. Tapi gol dimenit kesepuluh seperti hendak menegaskan bahwa sejarah bukan milik setan merah, tetapi milik pasukan biru merah dari semenanjung Iberia. 

Terjawab pula spekulasi - siapa yang lebih baik Ronaldo atau Messi ? Ronaldo kena kartu kuning, Messi menjaringkan gol kedua Barca. Juga tercatat prestasi manager debutan Barcelona yang dalam tahun pertamanya mengukir prestasi emas - treble. Yang pertama dalam sejarah Spanyol. 

United datang ke Roma sebagai juara bertahan, setelah berhasil mempertahankan juara liga Inggris Ferguson. Benitez dari Liverpool  dengan getir membandingkan jumlah gol timnya dengan United. Jumlah gol Liverpool lebih baik dari United. Bila dibandingkan dengan Barcelona di kancah Champion league pun United masih kalah bagus. Sebelum final Barcelona mencetak 12 gol versus 9 gol United. 

Mental menang secukupnya mungkin sudah lekat pada Ferguson [pernah dibahas disini pula]. Tapi mungkin bukan cuma Ferguson, karena statistik menyatakan bahwa jumlah gol di liga Inggris di musim kompetisi 08-09 ini memang menurun. Mungkin orang berpikir - untuk apa susah payah membuat banyak gol, tokh nilainya sama-sama tiga ? Tidak heran pula kalau sirkus balapan F1 memutuskan tahun depan akan menggunakan sistem perhitungan jumlah kemenangan balapan sebagai ganti hitungan poin.

Dari sisi ini boleh dibilang dewi fortuna memihak mereka yang suka bekerja keras. Mungkin United tidak malas juga, tetapi Barcelona kiranya bersedia walk the extra mile. The extra mile ini pula yang membuat Barca menganulir gol kemenangan Chelsea di Stamford Bridge. Dengan semangat ini Barcelona menaklukan Roma. 

Ribuan tahun yang silam -dalam perjalanan merebut Roma- Julius Caesar sejenak berhenti diseberang sungai Rubicon. Namun kemudian tekadnya dibulatkan dan ia menyeberang dan berhasil merebut Roma kedalam tangannya. Mungkin Barca tidak pernah seragu Caesar. Seperti semboyan mereka - Més que un club, mereka bukan sekadar klub. Mereka Barcelona !

Visca el barca !

Tuesday, May 5, 2009

ngluruk tanpo bolo menang tanpa perang, ngalake tanpo ngasorake

Pepatah jawa ini kita kutip setelah mendengar Ferguson berujar : "I watched Barcelona on Saturday night [when they beat Real Madrid 6-2] and I was drooling. They could have scored 10 and, if they had concentrated, they probably would have scored 10. They have the quality to beat anyone but they have a big problem at centre-back, with no [Carlos] Puyol or [Rafael] Márquez, so I think Chelsea might get through. But if you're asking me who I would like to play, I would say neither of them – I think we should be given a bye!"

Di Jawa konsep menang tanpa perang kiranya bermakna bagaimana kita dapat menyelesaikan konflik tanpa merusak harmoni. Bagaimana cara menang tanpa menghinakan lawan. Pasalnya lawan yang kehilangan muka karena kalah bisa kalap dan malah bikin gegeran.

Di Manchester kiranya yang jadi hasrat adalah menang (bila perlu tanpa bertanding). Menang di Roma berarti prestasi luar biasa, United akan masuk tim elit yang dapat mempertahankan gelar jawara dalam dua tahun berturut-turut (sejauh ini hanya 7 klub yang berhasil berbuat demikian) - prestasi yang cukup luar biasa.

Tapi macam mana hendak menang tanpa bertanding ? Apa Kakek Ferguson sudah mulai pikun ? atau sekadar mau menjadi "orang Skot asli " (konon di Hungaria kata Skot adalah slang untuk "pelit" - tahu saja orang Hungaria ini)

Mungkin dia bercanda - tetapi disisi lain adalah terbersit kesan bahwa ia sudah jerih menghadapi Barcelona (ataupun Chelsea yang ia kalahkan tahun lalu, kemenangan berbau kemujuran). Mungkin pula Ferguson sudah merasa terlalu tua untuk menanti tahun depan. Kalau ia dapat menutup buku kariernya dengan riuh rendah kemenangan di Roma, plus jadi jawara di liga, tentu ia boleh pensiun dengan kebanggaan luar biasa. Mimpi yang indah. Dan dialam mimpi Ferguson tentu boleh berharap apa saja yang ia mau. Sayang di Roma ia harus bangun dan menghadapi kenyataan


Wednesday, April 22, 2009

The enemy of my enemy is my friend

Menonton pertandingan Liverpool akhir-akhir ini mungkin dapat berakibat buruk bagi kesehatan kita. Yang pertama kita bangun dini hari, yang lebih fatal lagi adalah pertandingan yang menegangkan. Semalam lagi-lagi kita disuguhi extravaganza pesta gol (Liverpool 4 - Arsenal 4), dan Liverpool yang jelas membutuhkan kemenangan harus puas dengan hasil seri yang itupun diperoleh di injury time. Sport Jantung !

Benitez dan pasukannya hanya berhasil meraih satu angka, dan mimpi kejayaan Anfield jadi terasa menjauh. Memang masih tersisa beberapa pertandingan (yang mestinya lebih mudah dibandingkan pertandingan semalam), tetapi Setan Merah boleh bernafas lebih lega.

Yang mau dicatat disini adalah komentar menejer perancis bernama Wenger itu: "Liverpool should not worry," katanya, "because we will try to win at United too." Memang repot menggantungkan nasib pada tangan orang lain, tetapi apa hendak dikata, itulah keadaannya. Wenger tidak main-main kiranya, karena mereka akan berhadapan dengan sang Setan dalam laga Champion. Pertandingan semalam dapat dipandang macam ajang latihan bagi mereka, dan hasil positif semalam menjadi bekal mereka menjajal peruntungan di liga akbar eropa ini. Mereka kiranya menjadi lebih percaya diri. Karena meski tampil tanpa sederet nama utama, mereka berhasil mencuri angka vital dari Sang Merah.

Liverpool hanya bisa berusaha memenangi sisa pertandingan dan berharap bahwa segenap team calon lawan United bersatu hati untuk berkelahi habis-habisan menumpas Sang Setan. Pepatah lama mungkin berlaku disini "The enemy of my enemy is my friend".

Walk On

Wednesday, April 8, 2009

When I'm Sixty Four

Kapan engkau menjadi tua ? Mungkin bukan kalau engkau sudah ubanan, pikun atau malah botak. Tapi waktu engkau menyadari bahwa "waktu"mu sudah lewat. Bahwa mimpimu ternyata harus kau akui akan tetap tinggal jadi mimpi. Bahwa "cara"mu sudah usang dan ketinggalan kereta api. Waktu tiba-tiba zaman melewati engkau begitu saja.

Malam tadi Ferguson kiranya tersadar bahwa ia bukan Ferguson yang kemarin dulu. Pasukannya seperti kehilangan inspirasi, letih dan nampak usang. Dalam empat laga terakhir kemarin United macam jago tua yang terengah-engah berupaya berjalan sok gagah sembari menenteng emblem juara masa lalu yang lapuk.

Tidak hendak dikatakan bahwa Ferguson (nama ini berarti pilihan unggul) adalah kegagalan. Sama sekali tidak. Tetapi mungkin zaman Ferguson yang sudah aki-aki (kelahiran sebelum PD II) sudah mulai memudar. Dan Ferguson sendiri sadar bahwa ia bisa dan telah salah ambil keputusan. Sebuah pengakuan yang bersahaja sekaligus juga pernyataan bahwa mungkin saja waktu lengser sudah dekat

Menjadi tua berarti kehilangan kekuatan fisik. Endurance tidak tersisa banyak lagi. Yang tersisa adalah uban dan kebijaksanaan karena belajar dari banyak pengalaman. Namun demikian pengalaman yang adalah terikat pada masa lalu dan bahwa masa depan tidak selalu dapat diselesaikan dengan pengalaman masa lalu. Yang sering jadi soal adalah banyak orang (tua) menjadi terlalu gegabah dan menyangka bahwa semua masa adalah sama saja. Masa depan tidak lain dari perulangan masa lalu. Jelas ini salah kaprah yang parah

Ferguson tidak hendak menggantung sepatu atau berhenti mengunyah permen karetnya. Masih ada sisa masa bermimpi. Kita lihat saja - apakah sungguh waktunya telah tiba. Atau masih tersisa segenggam mimpi untuk dikunyah.

Will you still need me
Will you still feed me
When I'm sixty-four
(Lagu the Beatles - ditulis Mc Cartney waktu berusia 16 tahun)