Showing posts with label Yesus. Show all posts
Showing posts with label Yesus. Show all posts

Thursday, May 21, 2009

Ku tau yang Ku mau

Saya membaca satu buku bahwa kata CG Jung hidup adalah soal pemenuhan panggilan dan kita tidak pernah akan tenang kalau panggilan hidup kita belum dipenuhi Konon Jung juga bilang bahwa ada beda antara 'harus' dan 'mau' - 'harus' itu ada unsur desakan dari luar - kalau desakan itu hilang maka tidak harus lagi , 'mau' itu dari dalam dari hati

Di Getsemani Yesus menjumpai 'mau' nya dan panggilan hidupNya - maka keesokaan harinya Ia berjalan ke Golgota dengan menyeret palang - berdarah-darah dan sakit tapi Ia berdamai dalam hatiNya. Kata satu penginjil dia berteriak macam protes pada BapaNya tapi penginjil lain tidak tahu soal ini, mungkin disensor - mungkin di edit, entahlah. Tapi pemuda ini mestinya meninggal dengan senyum. karena sudah menemukan yang Dia 'mau'

Mar 3, 2004

belajar jadi gondrong

Yesus sering digambarkan gondrong sendirian ditengah kawan2 sebangsa dan setanah airNya. Rasul2Nya tidak ada yang digambarkan berdandan mirip Dia.

Tidak tahu apa ini sengaja atau memang dari sononya. Namun demikian Yesus sebagai orang suci sepertinya tidak sejalan dengan model orang suci zaman itu Dia tidak ekstrem macam Yohanes Baptista yang berpakaian bulu unta dan makan serangga. Dia tidak mengajarkan orang untuk berdoa panjang sembari pamer macam Farisi. Dia tidak memencilkan diri macam kaum Esseni. 

Dia malah dicibir orang sebagai  " ....seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut  cukai dan orang berdosa. .." (Mt 11:19). Dan mestinya orang berdosa tidak sungkan dekat dengan dia, wanita (yg dibilang) nakal tidak ragu bergaul dengan dia, orang Kusta yang dinista tidak khawatir dekat dia.

Wahai orang macam apa ini ? Ia orang suci yang gondrong ! Tapi tidak seperti pemain band rock gondrong masa kini, Yesus kita ini suci ! Suci tapi gondrong. Ini unik.

Gondrong mungkin melambangkan pilihan sikap lepas bebas. Dalam Dia kita jumpai bahwa Allah dekat dan menyapa, Allah yang mementingkan manusia yang terlunta-lunta, tersia-sia, dihimpit kemalangan, didera sedih dan duka nestapa. Dia gondrong karena Dia bebas mencinta tanpa mau dibatasi oleh jijik, hukum agama, rasa, kepentingan sendiri, dsb

Tapi Dia juga suci sebab korupnya dunia tidak mencemarkanNya. Orang suci yang palsu butuh membuat jarak dengan khalayak ramai supaya dia keliatan suci- hence Yesus menghardik Farisi adalah kuburan karena (sok) putih diluar tapi busuk didalam Orang suci gadungan mencerca  perempuan (yang katanya) nakal sambil diam2 ereksi. Orang munafik memagari diri dari kaum nista kusta karena tidak sanggup berbuat kasih untuk meringankan mereka

Lalu kalau kita diajak menjadi alter christi kiranya yang pertama perlu dilakukan adalah periksa mata ! Sebab menjadi alter christi pertama2 adalah punya mata seperti Yesus. Mata yang penuh belas kasihan, mata yang menangis bersama orang malang, mata yang penuh ampun dipuncak salib, mata yang menatap kelangit meski mulut berkata haruskah cawan ini ya Abba ?

Mata yang dimiliki orang gondrong yang suci. Orang bebas yang tidak terkorupsi dosa dunia ini. 

Hidup Yesus - hidup gondrong :)

November 27, 2003

mugi tuwung punika kapundhuta saking Kawula

Dhuh Rama,
manawi Paduka marengaken
mugi tuwung punika kapundhuta saking Kawula
Nanging sampun pikajeng Kawula,
namung karsa Paduka ingkang kalampahana
(Luk 22:42)

Bahkan dalam bahasa Zawa tetap saja terasa bagaimana beratnya Yesus ditaman Getsmani.
Pasrah itu tidak mudah

Tidak tahu andai Yesus sungguh orang zawa. Apakah doanya di taman sriwedari akan lebih lancar ? Meski konon orang zawa "mudah" pasrah sumarah.

Pasrah tidak mudah - apa lagi bagi kita 
Kenapa tidak mudah ?
Karena kita selalu butuh jaminan bahwa ada yang menahan badan kita andai tali yang kita pegang erat2 ini kita lepaskan. Kita perpegang erat pada banyak jaminan, semakin "secure" hidup orang, semakin "establish" ia, semakin justru "insecure" hatinya

Mahasiswa ITB yang punya uang pas-pasan dengan kalem makan gorengan + cabai + air banyak2 (diwarung belakang jurusan Geologi). Tidak terlalu rumit hidupnya. Tapi sekarang ia lebih mudah kuwatir- meski jelas tidak lagi makan gorengan. Atau justru karena tidak makan gorengan lagi ?

Dimana hatimu ? disitu hartamu
Lihatlah burung2 diudara yang tidak menanam namun diberi makan Bapakmu
Lihat bunga bakung ditaman, yang esok dibuang - namun didandani Bapakmu
wahai..bukalaha matamu dan lihatlah

Tapi pasrah tetap tidak mudah. Dalihnya: bagaimana dengan anggota keluarga ? anak - isteri ? Seolah dunia berputar oleh jasa kita - seolah mentari terbit hanya untuk kita ? Kita tidak dipusat alam semesta - alam semesta tidak sadar akan kehadiran kita, hanya kitalah yang memeluk khawatir kita erat2

Begitulah kita diajar dunia ini. Berani melepaskan khawatir barang sejenak ? Ini macam kita yang tetap memakai masker selam mesi sudah sampai didarat - dan kita tetap percaya bahwa tanpa masker ini kita akan mati lemas

Dan Yesus yang taat - setelah berpeluh darah habis2an akhirnya melepas life support semuNya. Dia berkata

Nanging sampun pikajeng Kawula,
namung karsa Paduka ingkang kalampahana

dan Dia sambut kayu palang Nya sampai kesudahannya. 
Tidak berpaling - tiada ragu
Dia lepaskan peganganNya dan terjun
seraya berkata
Dhuh Rama
Kawula masrahaken nyawa Kawula
wonten ing asta Paduka
(Luk 23:46)

Dan kepada "asta Paduka" Ia pergi

Mau ikut ?
Mungkin kita mesti belajar pasrah sepertiNya

Yesus lah Hodos...

Dalam Ensiklopedi Perjanjian Baru (Kanisius 1990) ditulis bahwa Yoh menggunakan kata "hodos" dalam ayat kondang yang kerap jadi perbantahan - Yoh 14:4-6. Dalam ayat ini Yesus mengklaim bahwa Dialah sang hodos. Dan hodos harafiah bermakna "jalan yang tahap demi tahap terbentuk oleh mereka yang melewatinya berulang kali", jadi macam jalan setapak dilapangan rumput yang terbentuk lantaran kerap dilewati orang, bukan jalan official yang dibuat, tapi jalan yang dirintis dan dimantapkan belakangan. Masih dibuku ini , dalam kurung "hodos" dimaknakan juga sebagai "cara hidup". Dan seperti jalan setapak, cara hidup juga dirintis dan kemudian dimantapkan dalam perulangan, kebiasaan, tradisi.

Kalau hal sampai kepada Allah adalah hal menjalani hodos Yesus, maka tidak perlu keselamatan ekslusif hanya ada dalam gereja. Sebab "way of life" yang dirintis Yesus bisa dilepaskan dari agama kristen. Orang yang menjalankan kehendak Bapa -tanpa perlu beragama kristen- akan sampai pada ujung jalan "hodos" Yesus.

Disisi lain, hodos perlu tekun dijalani. Ide hodos bukan macam jalan bebas hambatan yang lebar dimana kita tinggal tancap gas dan duduk relaks. Sama sekali tidak, hodos mengandaikan perulangan, perjuangan, dan ikut tradisi sebelumnya/pendahulu. Demikian hal sampai pada Bapa mengandaikan ketekunan kita masing-2. Jalan memang sudah dipetakan, tapi perjuangan individu tetap dituntut. Tidak ada yang gratuit disini, tidak juga tersedia cara mudah. Hodos Yesus diantaranya adalah jalan ke Kalvari yang berdarah-darah dan mendaki.

Akhirnya, hodos juga mengisyaratkan bahwa kita dapat menggunakan khazanah yang sudah ditinggalkan pendahulu kita. Bukan mau tutup mata ikut tradisi, sudah tentu aggionarmento dituntut disini, tapi setidaknya kita bisa menggunakan tradisi yang cocok bagi kita masing2. Maka galilah spiritualitas bapa gereja, orang2 kudus, kaum mistik yang sudah terlebih dahulu lewat.

June 09, 2003