Monday, January 17, 2022

Silence of Straw


Somehow I would like to reduce my social radius to minimum, the smallest reasonable that is possible. Looking back in time when I was in my University years I was actively involved in many organizations, mostly related to Catholicism. In my campus and my local church. I was convinced that it was my calling to contribute to Catholic communities where ever I was. 

When I moved to another city due to job, my wife (who shares the same passion) and I were active in our church. When maintained the same passion even when we moved to other countries. However after my 55th birthday last year I see things differently. I want to lead a simple quiet life. I am sure the Catholic church would still be there, just like it has always been whether I am involved or not. Suddenly I see those activism as meaningless noise. 

Looking to the rearview mirror I could see that there was nothing I changed in the church. No one pray more because of me. No one have deeper faith, no one converted to Catholicism. Nothing. I was only noise. And no more

I remember I inherit this passion from my Mom. My Mom and My Dad were very active in church (my Dad was converted later from Protestantism). They both had passed away many years ago (My Mom 2014, Dad 2001). I doubt that I lost this passion because of the passing of my parents. 

I do not think I could explain this change of heart. Of anything the experience of St Thomas Aquinas when we famously said mihi videtur ut palea. All that I have written seems like straw compared to what has now been revealed to me

I am no Aquinas, but I see all my activism like straw

Our imperfectness


I followed this person on twitter - he is a doctor living in US. His tweets are informative and I refer to  his postings for Covid related information (Some of his tweets are in Indonesian. He claimed that he does not speak Bahasa Indonesia at all). I am not sure how to react to this tweet. Is he a hypocrite or a mere imperfect person ?    


I would say he is imperfect. See above. He used his mistake to re-emphasize the thing that he preached: Masks work! We could also see that we human could just lower our discipline when we are among family or people that we assumed are safe. But of course we could never tell

 

Alas he took this opportunity to underline his credential. I would see that this thread as example for all of us. Fall down seven times, stand up eight. From spiritual point of view as Christian we could see the lesson of aiming for perfection. Yes we all made mistakes, weak and imperfect. But those are not reasons to give up. 

Keep walking on. If you fell, stand up and walk on

Sunday, January 16, 2022

The best story ever

When I was in my elementary school one of my favorite past times was reading stories. Gramedia the leading publisher had this story books series called "Cerita dari Lima Benua" (stories from five continents). I love many reading many of those but to me the best ever is Leo Tolstoy'  What Men Live By. Gramedia titled the book as "Simon dan Malaikat" (Simon and an angel). I have been searching for this book but no luck. When I knew that in fact the story was written by Tolstoy and I could find it online I could not tell how happy I was

To me Tolstoy wrote to confess his philosophical/religious view about God and humanity. I was no older than twelve when I first read the story but it had made a deep impression to my childhood brain. I was not sure why Gramedia has picked that title (Simon dan Malaikat) which to me did not give any clue what the story all about. I remember the cover depicted Simon (wearing ushanka, that unique Russian hat) and the pale angel lying naked with half his body covered with snow.

I remember I was also fascinated by the illustration (I think those drawings were by Dwi Koen). I am sure one of the reasons why I love this book was the illustrations. I adored Dwi Koen's drawing.  Anyway when I finished I experienced that moment of awe, similar when the singer mesmerized the audience to complete silence. 

Tolstoy was a genius

PS: I would want to spoiled the reader by hinting the plot of the story here. I would not want to steal that awe moment from you  

When Nokia was King

I remember the time when Nokia was king. I needed to learn the skill of typing SMS. How to type words using those 12 keyboards. The screen was monochrome and drawings made out of ASCII characters were awesome. Those Nokia are bulky, hot and cumbersome. But of course it was a dawn. We could make phone call anywhere. We were no longer tied by cables

When Blackberry offered QWERTY keyboard the end of NOKIA time had arrived. Now people could type text just like typing using the typewriter or computer keyboard. For business people Blackberry offers the ability to access their emails, anytime and anywhere. During the 911 attack all providers were blacked out but blackberry.

When Blackberry ignored the touchscreen technology of Iphone and Android it was their time to extinct. Blackberry insisted that their physical QWERTY would never persuaded people to migrate to the competitor. Of course they were completely fooling themselves. They could have still able to pocket some money were they not too proud to license the famous BBM to their competitors. Whatsapp was sold for $16 billion. But of course they were too proud to do such

Looking back it would be easy to see why consumer moved from one technology to another one. But of course from Nokia or Blackberry the future is where the gambles were. Blackberry were so stubborn to ignore the touchscreen completely. Nokia did not see that QWERTY was their Achilles heel. 

There other thing that I learned experiencing these changes of era is that the future is non linear. If you asked me what would people be using in 20 years time I might imagine smaller phone (like those Star Trek badges). But I would bet that I would be completely wrong. The future is hard to predict. Just ask those smart people in Nokia or Blackberry



Monday, January 13, 2014

Jerami Santo Thomas

Santo Thomas Aquinas pujangga gereja adalah santo pelindung kaum terpelajar, sekolah dan universitas, filsuf, pelajar, teolog, juga penerbit dan penjual buku, sampai-sampai juga pembuat pensil. Maklumlah buah karya tulisnya (yang paling tersohor Summa Theologica dan Summa Contra Gentiles) menjadi salah satu tonggak dalam gereja Katolik.

Thomas lahir dari keluarga bangsawan Italia (28 Januari 1225. Tanggal 28 Januari dirayakan gereja sebagai pesta wajib). Sejak usia lima tahun Thomas mendapatkan pendidikan yang unggul. Rupa-rupanya latar belakang pendidikannya ini membuatnya memilih menjadi Imam Dominikan meski mendapat tentangan hebat dari keluarganya (sampai-sampai mereka sempat memenjarakan Thomas selama setahun dalam sebuah Puri supaya Thomas mengurungkan niatnya ini).

Saat Thomas melanjutkan studi di Paris, bentuk fisik dan sifat pendiamnya membuat ia  dijuluki "kerbau dungu" oleh teman-temannya. Julukan yang tidak elok ini sungguh tidak tepat. Seperti sudah disebutkan, Thomas tumbuh menjadi pujangga gereja yang menulis puluhan karya tulis yang sampai hari ini (Thomisme) masih dipelajari dibangku kuliah teologi.
Minat utama Thomas adalah soal studi,pendidikan dan intelektual. Maka ia menolak tawaran menjadi Uskup di Napoli atau jabatan-jabatan lain dalam hirarki.

Thomas dikanonisasi 50 tahun setelah wafat (1823). Karya tulisnya diajukan sebagai satu bukti mujizat (salah satu syarat mendapat gelar Santo/Santa adalah adanya mujizat). "Tot miraculis, quot articulis" artinya "ada demikian banyak mujizat dalam hidupnya, sebanyak artikel dalam karyanya Summa yang adalah ribuan jumlahnya".

Namun kiranya ada satu keajaiban lain yang dialami Santo Thomas dalam hidupnya. Suatu kali ia nampak bercucur air mata kala berdoa didepan ikon Kristus yang disalib. Kristus bertanya: "engkau sudah menulis demikian bagus tentang aku Thomas. Apakah ganjaran yang engkau dambakan?. Thomas menjawab "Nothing but you, Lord".  Sejak peristiwa itu Thomas mengabaikan penyelesaian karya tulisnya. Manakala ditanya kenapa ia menjawab "mihi videtur ut palea" (semua yang kutulis nampak bak jerami bagiku). Dua tahun kemudian Thomas wafat. Sebelum menghebuskan nafas terakhirnya Thomas berdoa: cinta padaMu-lah yang membuat aku teguh dalam panggilan hidupku.

Pengalaman mistik Santo Thomas -yang memandang karya agung intelektualnya- cuma seukur rumput kering boleh menjadi kiranya sumber renungan kita. Hidup Santo Thomas menjadi teladan kerendahan hati. Sekaligus dapat kita lihat disana bahwa mengalami Allah secara pribadi adalah sebuah pengalaman yang tak terperikan dengan kata-kata. Thomas dalam kapasitas intelektualitasnya menulis ratusan ribu kata demi memerikan Allah yang Maha Agung itu, namun Thomas setelah mengalami Allah secara istimewa berhenti menulis.  Semua cuma jerami. Ut Palea

Friday, November 1, 2013

context, perception, priorities and public taste

Disebuah stasiun metro di ibu kota Amerika, pada suatu pagi yang sibuk, seorang pemusik berdiri memainkan biolanya. Terhitung seribu orang lebih lalu lalang diseputarnya selama "konser"nya berlangsung. Tidak banyak orang memperhatikan, seperti sudah bisa diduga. Siapa punya waktu buat pemusik jalanan? Siapa mau berbagi recehan buat pengamen? Dan demikianlah peristiwa ini terpinggirkan dan lenyap dari ingatan, masuk dalam kategori "tidak penting" dan dilupakan.
Yang berbeda pada hari itu adalah biola yang dimainkannya bernilai sedikitnya 3.5 juta dolar, sebuah masterpiece karya Antonio Stradivari. Dan sang "pemusik jalanan" adalah virtuoso bernama Bell. "Konser" tersebut digelar sebagai eksperimen oleh The Washington Post tentang context, perception, priorities and public taste.
Jika pemusik tiba-tiba muncul saat kita berhenti dilampu merah, memainkan sebuah lagu jazz  dengan penuh kecanggihan apakah anda bisa dengan cepat mengenali bahwa sesungguhnya dia ini pemusik papan atas? Mestinya tidak. Perhentian lampu merah terhitung dalam bilangan detik, kita mungkin sedang kesal menunggu dan mana ada pemusik handal mau menyamar jadi pengamen? Konteks peristiwa menumpulkan kemampuan apresiatif kita
Kiranya Natal pun adalah sebuah pertanyaan tentang context, perception, priorities and public taste. Dalam Injil Matius (Mat 2:2-6) kita baca raja Herodes heran setengah bingung manakala ditanya: dimana Raja orang Yahudi lahir? Raja yang mana lagi ? Bagaimana mungkin dia tidak tahu ada Raja lahir ? Dari kalangan mana ? Tidak mungkin ia tidak tahu? Tidak mungkin pula Raja lahir di kota bernama Betlehem? Kota kecil yang tidak penting itu!
Bagi kita yang sudah tahu persis bahwa Sang Raja memang lahir di Betlehem mungkin yang jadi soal adalah bagaimana meletakkan peristiwa Yesus itu dalam skala prioritas hidup kita masing-masing. Apakah ia kita letakkan sebagai pusat? sebagai rutinitas mingguan (bahkan mungkin lebih jarang lagi: 2 kali setahun saja?) Sebagai apakah Ia bagi hidup kita? Sebagai teladan dan teman perjalanan? Sebagai hakim dan wasit yang tidak pernah berhenti mendelik pada kita? Sebagai ban serep yang dirindukan saat krisis?
Yang terakhir Natal adalah soal public taste. Apakah Natal kita hargai sebagai festival tahunan dimana kita menyanyikan jingle bells dan berbagi kado belaka? Atau kesempatan kontemplasi tentang solidaritas - Immanuel, Allah beserta kita?
Sebelum kita sibuk menyiapkan (liburan) Natal (dan ..ehh...pesta tahun baru), mari sejenak kita renungan dimanakah gema Natal kita dengar dalam hati kita ?

Selamat Natal 

Friday, August 2, 2013

Terima Kasih, Mauliate, Kamsia

Seorang teman mengatakan bahwa konon disurga sana kotak berisi doa ucapan "terima kasih" cukup jarang dijumpai, sementara kotak doa "permohonan" berserak-serak dimana-mana.
Sebuah satire yang menarik. Kalau mau sejenak dihitung sepertinya kita memang lebih cenderung meminta-minta ketimbang berterima kasih.

Pernah dikatakan bahwa salah satu ciri orang yang tidak mengenal Allah alias atheis adalah bahwa ybs tidak pernah berdoa meminta. Kita bisa saja berdebat soal ini, tetapi satu hal sudah jelas bahwa manakala kita meminta kita berfokus pada diri kita, kepentingan kita, kesejahteraan diri kita, kita,kita dan kita. Kita sibuk memandang pada apa yang belum ada, pada apa yang kita sangka kita perlukan.

Sementara manakala berterima kasih kita pun memang memandang kedalam tetapi memusatkan pada apa yang sudah ada, yang sudah diterima, entah apapun itu kita terima dengan syukur dan amen. Kita tidak sok tahu seolah ada yang masih kurang pada diri kita, seakan masih ada yang terlewat dianugerahkan pada kita. Saat berterima kasih kita memandang keatas dengan penuh syukur, alih-alih sibuk merengek dan ingat diri. Berterima kasih juga membuat kita ingin berbagi pada mereka yang memerlukan. Hati yang penuh syukur memandang hidup dari sisi yang berbeda, dibandingkan dengan mereka yang meratap dan memohon. Boleh ditanya apa mereka yang merasa kekurangan sedia berbagi pada sesama? Apa yang hendak dibagikan kalau kita sendiri masih merasa berkekurangan?

Sudah tentu kita memerlukan banyak hal dalam kehidupan kita. Kita perlu sandang, papan dan pangan. Tapi boleh sebentar ditanya seberapa banyakkah yang kita perlukan dalam hidup? Adakah batas keinginan? Pernahkan manusia menjadi puas? Tidakkah kita selalu ingin yang baru, yang lebih besar, lebih mewah, dsb? Jika batas keinginan adalah langit maka siang-malam kita tidak akan berhenti dalam permintaan. Lalu bagaimana dengan ajaran bahwa kita disuruh untuk meminta. Mintalah maka engkau akan diberi. Ketuklah maka pintu akan dibukakan. Kiranya yang menjadi soal bukan meminta atau tidak meminta. Namun memahami bahwa yang kita perlukan untuk hidup kiranya tidak sebanyak yang kita mintakan. Bahwa penyelenggaraan Ilahi sesungguhnya sudah cukup. Bahwa kita semua sudah dianugerahi berkah melimpah.

Dan yang juga penting adalah bahwa kita tidak sungguh tahu apa yang kita perlukan dalam hidup ini. Keperluan kita mungkin hanyalah hasrat sesaat, ikut2an mode, bahkan keinginan untuk lari dari salib hidup kita. Salib yang sesungguhnya menjadi sumber pendewasaan dan pematangan iman.
Maka lain kali naluri minta terbersit dihati boleh sebentar durenungkan sudah cukupkah kita berterima kasih? Lagipula, omong-omong sebenarnya  kita ini anak Raja atau peminta-minta?
(Kredit buat Agnes B untuk cerita tentang  kotak terima kasih disurga)