Saturday, February 28, 2009

Tentang Derita : tidak ada jawabnya

Pernah baca buku Harold Kushner (kalau tidak salah gini ejaannya) terbitan Kanisius: "Berlimpah Namun Gersang". Dia membahas "what if bad thing happen to good people". Harold in penganut agama Yahudi, tapi tulisannya bagus. Soalnya adalah: gugatan dalam kitab Ayub

Pernah baca kitab Ayub ya ? Dia bertanya: apa salah saya? Kenapa saya menderita ? Tuhan tidak menjawab ! Dia malah balik bertanya (pertanyaan-nya panjang...kalau di komik karangan HA Opusunggu..bagus sekali ilustrasi-nya). Basically Tuhan bilang : siapakah kamu sehingga berperrkara dengan aku. Ayub yang sadar dia kecil ya jadi bungkam 1000 bahasa. Tapi Tuhan tidak menjawab paradox penderitaan

Yesus juga tidak menjawab soal penderitaan. (kataNya; orang miskin akan selalau ada padamu)
Yesus malah memeluk penderitaan dengan mati disalib dan kemudian dibenarkan.Allah dengan kabangkitan

Tetap, kenapa ada penderitaan tidak dijawab. Kata filsuf: dunia ini bukan yang terbaik yang mungkin diciptakan Allah. Allah mestinya bisa membuat yang lebih baik. (kenapa tidak ya ?)

Atau mungkin penderitaan itu bagian inherent dari dunia dan bahwa memeluk derita dan menjalaninya adalah bagian dari menjadi manusia

Kata sebuah lagu (Gema Bandung..you Gema-ers must know this small tune)
Jadikan kami seperti Kristus orang terbuka bebas serius berani hidup berani mati orang sempurna orang yang utuh
Dec 9, 2002

Natal 2004: Gelap Dosa Terang Surga

[versi 3 tanggal 2005-01-07]
[ide cerita: Anang Karana/Lucas Nasution]
[Naskah: Lucas Nasution]

MC:
Para jemaah yang mulia, sebentar kita akan bersama-sama merenungkan puncak dramaturgi perayaan Natal kita. Kami undang anda sekalian untuk ambil bagian dengan bersama-sama memakai topeng yang sudah kami bagikan

NARATOR:
Pada mulanya
jagad raya dikuasai samudera purba kekacauan
Lalu
Yang Maha Cinta turun
mencipta bumi seisinya
Pada puncaknya
Ia mahkotai dengan gambarNya,
manusia
Tetapi
Manusia memilih berkubang dalam lumpur dosa
Dan kuasa kegelapan menemukan lagi jalan
Untuk merebut kembali alam semesta

Manusia dengan putus-asa mencari kebahagian
yang tertinggal di taman sari Gusti
Sudah terlambat untuk kembali
Karat dosa sudah menjangkiti lubuk hati manusia

Namun
Sang Maha Kasih rindu untuk bersatu
dalam kasih mesra
Dengan citraNya
TekadNya bulat sudah
apapun tebusannya
apapun jalannya


MC:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,
sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,
supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal .

Kita telah sampai diambang puncak dramaturgi Natal
Gelap Dosa Terang Surga
Selamat merenungkan
[suara teriakan]

BABAK 1: DUNIA YANG DIKUASAI DOSA
Bagian 1
Adegan:
Tarian kontemporer dengan kain sebagai lambang kekacauan dunia
Perkelahian antara manusia yang sia-sia mencari kebahagiaan
Disambung dengan wayang yang juga menggambarkan hal yang sama
Bagian 1 ditutup dengan bergelimpangannya manusia
Bagian 2
Adegan:
Malaikat dan asistennya meratapi tubuh-tubuh yang bergelimpangan

NARATOR:
KekasihKu,
pulanglah dalam persekutuan cintaKu
Lihat,
Aku berdiri di muka pintu dan mengetok
(tok…tok…tok)
Tak maukah engkau bukakan pintu?
Aku rindu untuk bersantap bersama-sama denganmu

Adegan ditutup dengan manusia-manusia yang merayap keluar panggung

BABAK 2: KERAJAAN GELAP
Adegan:
Prosesi Iblis dengan suara latar gumaman
Dilanjutkan dengan ritual pemujaan Raja Iblis
Raja Iblis lalu murka mengetahui rencana Allah untuk menyelamatkan manusia


RAJA IBLIS:

Apa ini?
Dia mau merampas kesenanganku ?
Oooh…tidak akan kubiarkan Ia mengambil mainanku ini
Lihat saja, aku akan gagalkan rencanaNya
Rencana PenyelamatanNya akan gagal…gagal TOTAL !

Karena aku, Raja Gelap, Penguasa dunia
Aku lebih kenal siapa manusia
Rohnya memang suka menurut, tetapi dagingnya lemah
Ha..ha..ha…

Manusia tidak akan taat
Mereka akan membunuh nabi-nabiNya
Bahkan mereka akan membunuh AnakNya
Ha..ha..ha…

Akan kukirim bala tentaraku untuk menggagalkan rencanaNya
Ibu-bapak manusiawi Anaknya akan kucobai
Herodes -pengikutku yang setia- akan kusuruh membunuh anakNya
Ha..ha..ha....

Dan kamu [sambil menunjuk pada penonton]
Kamu semua adalah milikku
Ha..ha..ha…
Aku tahu apa sisi gelapmu
Aku tahu kotornya nafsumu
Ha..ha..ha…

Sembahlah aku dan sukacita dunia gemerlap akan kuberikan kepadamu
Ayo tunggu apa lagi ?
Serahkan saja nyawamu padaku,
maka akau kupuaskan hasrat gelapmu,
akan kuturuti ketamakanmu

Buat apa kau pertahankan nyawamu ?
Gadaikanlah saja padaku…
Nyawamu …? Ha..ha…ha…
Nyawamu yang sia-sia, dan musnah setelah kamu semua membusuk jadi bangkai
Ayo..hidupmu cuma satu kali ! ayo nikmati ! Jadilah pengikut ku !
Ha..ha…ha…
Ha..ha…ha…

Adegan ditutup dengan silamnya pasukan Iblis

BABAK 3: MARIA DAN YUSUF
Lagu
Adegan: Maria dan Yusuf masuk panggung
NARATOR:
Maria dan Yusuf telah jauh tapaki jalan
Sudah letih jiwa-raga mereka

Impian mereka yang sederhana
Ditelikung setengah putaran

Nasib apapula yang membawa mereka kemari
Kandang nista yang hina-dina

Adegan: wayang
Maria dan Yusuf disisi layar dengan gunungan ditengah
Saat Dalang menokohkan Maria Yusuf digantikan oleh Butho dan juga sebaliknya saat Yusuf yang ditokohkan tempat Maria diisi Raksasi
DALANG:
[Narasi oleh pak Sigit]

BABAK 4: HERODES
Herodes masuk
Herodes menari
NARATOR:
Inilah Herodes,
Raja yang pongah dan mabuk kuasa
Dia lalim dan menghalalkan cara
Dia akan lindas siapa saja yang menghalangi jalannya
Tidak ada yang tabu baginya
Yang penting kekuasaannya langgeng ditangannya
Herodes menari

NARATOR:
Mendengar sudah lahir Raja yang lebih besar
Dengan gelap mata
ia titahkan
untuk bunuh semua balita
hati nuraninya
sudah dirasuk gelapnya dosa


Herodes menari dan berbicara pada mahkotanya
NARATOR:
Oh Mahkotaku…
Engkaulah segalanya bagiku
Tidak akan kubiarkan siapapun
merebutmu dariku
Herodes silam

BABAK 5: HERODES AMUK
Adegan: dolanan anak-anak ditemani ibu-ibu mereka, tiba-tiba Herodes datang dan mengamuk dilanjutkan dengan adegan pembantaian yang brutal
Adegan ditutup dengan Herodes yang memegang kepala anak-anak yang dipenggal

NARATOR:
Demi kekuasaan
anak-anak tak bersalah sudah dibantai
Gelapnya dosa
membutakan nurani manusia - citra Allah
Sesama
bukanlah saudara
melainkan musuh
atau alat pemenuhan hasrat sesatnya

Lalu
masihkah ada harapan damai?
Adakah tempat bagi cinta kasih?

Apakah kegelapan telah menang?

Herodes silam

BABAK 6: TERANG SURGA
NARASI:
Adegan:
Tarian ranting2 padang rumput
Canda ria gembala-gembala
NARATOR:

Kabar sukacita pertama-tama diterima
para gembala miskin sederhana
Mereka polos dan apa adanya

Sinar kebenaran menembus juga tempat-tempat yang jauh
Dari timur datang pula kaum terpelajar
Mereka penuh tanya, ingin tahu semuanya
Hati mereka belum tenteram
jika belum dapatkan terang sejati

Pada mereka warta tentara surga berkumandang:
Jangan takut,
Ku beritakan kesukaan teramat besar
Hari ini telah lahir bagimu
Sang Juruselamat
di kota Daud .

Lalu mereka bergegas berangkat
Untuk mendapatkan sang bayi terang

Mereka sama-sama berangkat menjemput Maria-Yusuf dan pendeta

BABAK 7: KOTBAH PENDETA
Pendeta bersama-sama dengan Maria, Yusuf, gembala dan orang Majus naik ke pentas
Pendeta lalu berkotbah tentang suka cita Natal
Ditengah kotbah Ia mengajak umat melepas topeng
[Ini tanda untuk juru lampu – padamkan segenap lampu, nyalakan lampu siluet]

BABAK 8: KUASA KEGELAPAN DISEKITAR KITA
Tiba-tiba panggung gelap, lalu iblis berteriak-teriak dan merangsek menyerang, tetapi mereka gagal dan terkapar disekitar pentas

BABAK 9: PENUTUP
Pendeta menutup kotbahnya [singkat saja- kasihan orang2 yang kebagian terkapar ] – kurang lebih bahwa meski terang sudah datang, meski topeng sudah dileapakan, iblis dan kuasa kegelapan masih mengintai , jika kita tetap dekat sang terang – maka kita akan selamat.


TAMAT

Didalam hati mu ada terang – Natal 2005

Adegan 1 :
Gamelan Intro
Suluk
Narasi cerita natal (tidak urut):
Terang itu berasal dari Tuhan sebagai anugerah
Setan tidak tinggal diam untuk menggagalkan rencana keselamatan dan selalu menunggu waktu yang baik (Luk 4:11)
Manusia punya roh yang penurut meski daging lemah – Jika mau manusia dapat menjadi sarana keselamatan Tuhan
Kasih yang diberikan Allah mengundang manusia untuk membalas dengan kasih
Waspadalah dan berjaga-jagalah: roh memang penurut tetapi daging lemah
Setan tidak pandang-bulu. Ia akan mengganggu/menggoda siapa saja demi menggagalkan rencana keselamatan
Gelap mata, tuli suara hati adalah jalan menuju kebinasaan. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.
Setan keluar, berbicara ttg rencananya – monolog dibikin pendek (Budi sbg setan – life)
Perkenalan diri
Meninggikan diri
Mengajak – memberi janji
akan ada beberapa orang akan maju Iblis akan wawancara dengan orang yang maju (dialog oleh narator – dibikin lucu)
o anak SMA – narkoba, bolos, trek-trekan
o eksekutif - tentang penyeludupan minyak
o pendeta – hamba Tuhan yang menyeleweng
o anggota gamelan – mewakili orang pendatang – logat jawa tapi mengaku dari manado/batak)
Adegan Tivi dan pengutusan – kalimat sama dengan Mat 28 : 18, dst
Semua mundur termasuk setan

Kotbah 1:
(Berpakaian penjaga malam lengkap dengan kentongannya)
Topik yang dibahas
Siapakah Iblis
Hati-hati terhadap godaan iblis
Waspadalah dan berjaga-jagalah: roh memang penurut tetapi daging lemah
Pendeta silam

Koor: Lagu jawa dengan kentongan

Adegan 2:
Gamelan
Suluk
Narasi (untuk mengantar adegan Maria yang berlutut)
Kegundahan Maria
Maria masuk dalam posisi berlutut berdoa
histeria/chaos
memuncak lalu gamelan hening pada klimaks
Narasi ttg keputus-asan Maria (jangan panjang-2 hanya untuk mengantar Maria berjalan kebalik layar siluet)
Dibelakang layar Maria telah disediakan bangku dan tali gantungan
Iblis muncul didepan layar
Narasi Iblis yang mendorong Maria untuk melakukan bunuh diri – Ayo Maria, apa gunanya, dsb
Pada saat klimaks Maria siap-2 mati (sambil dikompori Iblis) lalu gelap dan soundtrack gedebuk
Setan masuk – Yusuf keluar dengan pasukan kain
Gamelan
Suluk
Adegan full Jawa
Iblis muncul sebagai siluet
Ujungnya Yusuf terengah-engah dalam keadaan terlilit
Maria datang dan berupaya melepaskan Yusuf
Yusuf tersemangati
mBah Suro datang dengan menyan untuk memberkati mereka
Narasi menemani kehadiran mBah Suro : isinya manusia punya terang dan jika terang ini disatukan akan datang kemenangan
Setan menyatakan kekalahan sementara saat tatapi selalu akan datang mencobai dan kamu2 akan saya godai. Jangan pikir engkau sudah menang.
Berjalan kearah penonton sambil silam (follow spot)
Sementara panggung disiapkn untuk adegan 3

Koor: ????

Adegan 3 dan Kotbah 2:
Maria dan Yusuf muncul dari arah penonton
VG menyanyi “O Holly Night”
Maria dan Yusuf berjalan menuju panggung
Pendeta sudah berdiri di undak2an
Adegan ini sekadar mengantar kotbah pendeta
Topik yang dibahas
Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.
Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang
Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.
Pendeta mengajak penonton menyalakan teplok
Lalu penonton yang sudah dipilih maju dan menyalahkan 8+ teplok (Maria dan Yusuf ikut silam disini)
Lalu kotbah dilanjutkan

Adengan 4:
Gamelan keras
Kain2 bergelombang melambangkan samudera kegelapan
Chaos
Narasi Iblis (ssat narasi gamelan lebih pelan dengan tema yang sama)
Setelah Narasi
Gamelan mengeras
Pendeta masuk ketengah kain
Gamelan sirep
Pendeta bicara – menghardik ombak. Tinju dikepalkan keudara: Hai maut, dimanakah sungutmu.
Gamelan dan kain diam

Kotbah penutup
Natal adalah pernyataan berani menentang kegelapan. Perjuangan bukan jadi ringan, tapi yang bersatu dengan terang akan menang. Harapan tidak pernah menjadi kesia-siaan yang hampa. Tuhan mungkin menunda, tetapi Ia tidak menolak dan kesukaan ceria yang paling murni hanya ada padaNya

Konsep Drama Paska

Sinopsis
Kisah penyelamatan manusia berputar disekitar pohon kehidupan. Buah pohon kehidupan (disini disamakan begitu saja dengan pohon pengetahuan) yang dimakan membuat bibit pemberontakan dalam hati manusia menyeruak keluar (macam kotak Pandora) dan manusia menjadi tercemar. Dan segenap cara untuk menyelamatkan manusia gagal – sebab bibit itu sudah tertanam dalam dan hanya bisa dicerabut oleh satu manusia yang juga Allah – Isa Alahi salam

Adegan 1
Ge 2:9 Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Adegan Allah sebagai orang tua/tukang kebun menyiangi taman sari. Tapi Ia sendirian dan dia mencipatakan manusia – citranya
Adegan penciptaan atau pemisahan pria dari wanita bisa dikemas unik – mungkin bayangan, gaya cermin (laki-laki berkaca dan memandang perempuan) – lalu bingkai hilang dan jadilah dua makhluk. Atau adegan wanita lahir dari pria dan sebaliknya. Atau adegan macam kepompong – yang mengelupas dan jadi dua makhluk

Adegan 2
Ge 3: 4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati,

Adegan kejatuhan manusia dalam pemberontakan. Ular dijadikan siluet saja – karena sebenarnyalah manusia sedang bermonolog dengan bibit pemberontakan dalam hatinya (mungkin narator bisa omong dengan mendesis-desis seperti ular).

Akhirnya suara semakin keras dan akhirnya laki-laki dan perempuan bersama-sama berdosa. Kalau mau dibuat unik mungkin setting erotik – simbolisasi senggama (dimana dua yang terpisah menjadi satu, namun justru rentan terhadap inflitrasi unsur “non kasih”)

Adegan 3
Ge 3:23 Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil.

Tidak mungkinlah pemberontakan berdampingan dengan kekudusan. Jurang sudah terlanjur tercipta. Air bah sudah menyibak memisahkan. Dan manusia hanyut menjauh. Bibit dosa tumbuh mencekik macam alang-alang dan semak berduri. Manusia berupaya kembali namun terlambat, sisi gelapnya sudah mengisi angkasa dan membuat udara menjadi busuk
Mungkin lukisan michelanglo (adam dan Tuhan yang bersentuhan ujung tangan) bisa dipanggungkan disini. Allah memegang sepotong kayu dan manusia memegan potongan lain, tapi gagal. Dan masing2 menyimpan potongan kayunya

Adegan 4
Lu 3:7 Lalu ia berkata kepada orang banyak yang datang kepadanya untuk dibaptis, katanya: "Hai kamu keturunan ular beludak! Siapakah yang mengatakan kepada kamu melarikan diri dari murka yang akan datang?

Yohanes pembaptis berkotbah ditengah pasar. Dia membawa tongkat yagn dia acung-acungkan. Tongkat yang ia ambil setelah bertapa dibawah pohon kehidupan. Tapi manusia tetap lena dalam dosa bak Sodom dan Gomorah sebelum dihancurkan Allah

Adegan 5
Joh 1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia

Yesus memberi diri dibaptis dan langit terbuka menyatakan bahwa Ia adalah penyelamat. Namun murid-murid dan orang banyak salah paham. Mereka pikir Ia adalah penyelamat dalam arti politis

Adegan 6
Mt 20: 21 Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu."
Mt 21:9 Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"
Mr 15:13 Maka mereka berteriak lagi, katanya: "Salibkanlah Dia!"

Yesus diarak masuk Yerusalem macam jenderal gerilyawan memasuki Ibu kota. People power dan murid2 yang picik mengemuka. Ditengah kerumuman massa Yesus mengatakan bahwa Ia harus mati disalib. Tapi Petrus mencegah dan massa mengitari Dia. Tetapi Yeus tetap pada panggilanNya.
Adegan Yesus memperlihatkan palang kayu salibNya. Tapi Ia dicegah murid2nya dan massa juga. Melihat kekerasan hati Yesus massa berbalik menghujat Dia – kata mereka Salibkan Dia.

1Co 15:21 Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia.

Luk 18:35-43

Luk 18:35-43
35 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis.
36 Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?"
37 Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat."
38 Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
39 Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"
40 Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:
41 "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!"
42 Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!"
43 Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

Tokoh-tokoh dalam kisah ini
Seorang buta
-Duduk di dekat gerbang masuk kota
-Mengemis
-Mendengar dan bertanya: apa itu
-Berseru-seru minta dikasihani
-Berteriak lebih keras saat ditegor
-Menjawab pertanyaan Yesus
-Disembuhkan
-Mengikuti Dia sambil memuliakan Allah
Mereka yang berjalan didepan
-Mengikuti Yesus dalam perjalanannya – para rasul ?
-Menegor si buta dia supaya diam – mengapa ?
Yesus
-Berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya
-Bertanya
-Menyembuhkan

Mari bercermin dari tokoh-tokoh kisah ini
Orang Buta
Dalam Luk beberapa kali kita baca tentang orang buta
Lu 7:21 Pada saat itu Yesus menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan dan dari roh-roh jahat, dan Ia mengaruniakan penglihatan kepada banyak orang buta.
Lu 7:22 Dan Yesus menjawab mereka: "Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.
Jadi, Yesus sudah kerap berhadapan dengan orang buta. Agak mengherankan bahwa Yesus tokh bertanya juga apa yang dikehendaki orang buta dari Yerikho ini – kita akan bahas ini belakangan
Rupanya orang buta ini pernah mendengar berita tentang Yesus – karena begitu Ia mendengar nama Yesus dia langsung berseru-seru
Ia menyebut Yesus sebagai Anak Daud sebuah pernyatakan pengharapan. Menyebut Yesus Anak Daud setara dengan memamnggil di Al Masih – Juru selamat. Si buta tidak pernah melihat karya Yesus, modal dia hanyalah mendengar tentang Yesus. Seperti kita juga bukan ? tidak langsung melihat Yesus – kita mulai dari mendengar – namun bagaimanakah sikap kita dibandingkan si buta ? Apakah pekabaran mengenai Yesus sungguh menggemakan iman dalam hati kita ? ataukah kita ragu-ragu ? Apakah kita menuntut bukti yang lebih terang lagi ? Mungkin dalam hal ini sibuta mempunyai kelebihan dari kita yang melihat – yaitu Ia tidak punya jalan lain yang dapat digunakannya untuk mendasari imannya. Kita yang melek malah menuntut dasar lain untuk membangun iman kita. Mungkin dalam hal ini kita kalah dari si buta dari Yerikho ini
Rupanya teriakan si buta ini mengganggu – paling tidak menurut mereka yang berjalan didepan karena mereka lantas menegor (kita akan bahas nanti) namun si buta tidak ambil peduli – ia malah lebih keras lagi berteriak
Dan akhirnya Ia disembuhkan lalu Ia mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah

Mereka yang berjalan didepan
Mereka berjalan didepan karena mereka orang-orang dekat Yesus.
Orang-orang dekat Yesus kita dengar arogan misal Luk 9:51-56
51 Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem,
52 dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya.
53 Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.
54 Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?"
55 Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.
56 Lalu mereka pergi ke desa yang lain.
Misal Lu 18:15-16
15 Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
16 Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata: "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
Menjadi orang dekat Yesus – merasa dekat dengan Yesus – ternyata tidak otomatis sepikiran dengan Yesus
Bagaimana dengan kita ? apakah kita merasa dekat dengan Yesus ? karena kita merasa sering berdoa, banyak membaca/mepelajari kitab suci, banyak membaca buku-buku rohani, tidak absen dari misa mingguan (bahkan harian), ikut retret, rekoleksi, menjadi pengurus kelompok rohani, dsb. Apakah kita sudah sepikiran dengan Yesus yang konon kita ikuti dari dekat ?

Yesus
Meski Yesus sudah kerap berurusan dengan orang buta – dia bertanya : "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?". Bahwa orang itu buta sudah amat jelas – kenapa Ia bertanya lagi ?
Kiranya teriakan minta tolong- permohonan yang sangat perlu diuji juga. Sibuta ini berteriak sekuat tenaga dan Yesus –bertanya ulang.
Yang pertama berlawanan dengan orang-orang dekatNya Ia tidak menjadi sok dan main kuasa – langsung menyembuhkan, namun yang lebih mendasar kiranya adalah ; kerap kita tidak persis tahu apa sebenarnya yang kita butuhkan. Yang kita minta belum tentu sungguh apa yang kita butuhkan dan dapat juga dipertanyakan apakah kita siap dengan konsekuensinya
Misal Lu 18:18-23
18 Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
19 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
20 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu."
21 Kata orang itu: "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
23 Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.
Pemimpin ini tidak siap untuk apa memenuhi syarat untuk apa yang ia inginkan (beroleh hidup kekal).
Demikianlah Yesus minta agar si buta menegaskan apa yang ia minta. Apakah ini tidak dengan sendirinya jelas ? tidak selalu. Orang dapat terbiasa dengan kebutaan dan kebiasaannya meminta-minta sehingga malah tidak mau disembuhkan. Anugerah kesembuhan membuat si buta tidak lagi bisa mengandalkan belas kasihan orang untuk nafkahnya. Ia harus berjuang untuk hidup dan dapat kita bertanya apakah ia mempunyai kecakapan untuk mencari makan ? Pendeknya – orang sakit bisa tidak siap dengan segenap konsekuensi kesembuhan penyakitnya. Maka perlu ia ditanya agar ia bisa refleksikan apa sesungguhnya yang ia minta dengan segenap konsekuansinya.
Yesus berkata : "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" (ay 44). Kata imanmu telah menyelamatkan muncul sedikitnya 4 kali dalam Luk.
Lu 7:50 Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: "Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Yesus diurapi oleh perempuan berdosa)
Lu 8:48 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Wanita yang dua belas tahun menderita pendarahan)
Lu 17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau." (orang kusta)
Lu 18:42 Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" (si buta dari Yerikho)
Yang menyelamatkan adalah iman, Iman apa ? Iman bahwa Allah menyelamatkan. Yesus selalu menunjuk kepada BapaNya manakala Ia menyembuhkan. Bisa kita bertanya: iman seperti apakah yang kita punya ? apakah iman kita sama dengan iman mereka-mereka yang disembuhkan Yesus ? Memang kuasa Yesus menyembuhkan, namun dari pihak manusia harus ada iman. Ingatlah
Mt 13:58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ
Mar 6:5-6
5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
6 Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.

Pelajaran hari ini
Setelah sejenak menelaah tokoh-tokoh dan sebentar bercermin dari kisah ini mari kita bertanya pelajaran apa yang kita dapat malam ini ?

Bagaimana iman kita yang kiranya bermula dari pendengaran ?
Santo Paulus menulis dalam Ro 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Tetapi tidak setiap orang punya telinga untuk mndengar. Dalam Perjanjian baru ada 9 kali kalimat (Siapa bertelinga) hendaklah ia mendengar! – jika jumlah menyatakan sesuatu kiranya kita bia lihat bahwa sudah dizaman Perjanjian Baru ada kecenderungan orang tidak mendengar. Atau jikapun orang mendengar, firman Tuhan tidak tumbuh karena macam-macam hal. Ingatlah perumpamaan tentang penabur (Luk 8:5-15)
5 "Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.
6 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.
7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati.
8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat." Setelah berkata demikian Yesus berseru: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"
9 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, apa maksud perumpamaan itu.
10 Lalu Ia menjawab: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.
11 Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah.
12 Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.
13 Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.
14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.
15 Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."
Bagaimana dengan kita masing-masing ? apa yang terjadi setelah kita mendengar firman Tuhan ?

Bagaimana dengan kesiapan kita dengan apa yang kita minta?
Apakah kita punya tujuan yang lebih dari sekadar mendapatkan apa yang kita idamkan ? Apakah kita sanggup/tahu konsekuensi mendapatkan apa yang kita mintakan ? Bagaimanakah sikap kita jika permintaan kita seperti tidak didengarkan ? Apakah kita teguh pada pengharapan kita ? atau menyerah dan bahkan bersungut-sungut. Luk 18:1-8
1 Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
2 Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun.
3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun,
5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku."
6 Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!
7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"
Yesus menyatakan bahwa kita harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu dan beriman. Ingatlah bahwa berdoa dengan tidak jemu-jemu lebih-lebih adalah untuk membangun hubungan pribadi dengan Bapa. Bapa bukan semacam sinterklas dimana kita minta hadiah lalu melupakan begitu saja. Bapa rindu akan hubungan pribadi kita dengan Dia. Bagaimana dengan kita ?

Bagaimana dengan iman kita?
Kita sudah tahu bagaimana pentingnya Iman dalam kisah penyembuhan si buta ini. Si buta yang teguh versus orang sekitar yang menegur. Dia tidak minder (merasa tidak layak, merasa penuh dosa) dan berhenti. Baik juga kita bertanya bagaimana dengan kita ?
Adakah sudah tumbuh iman yang teguh dalam diri kita ? Siapakah sesungguhnya yang kita andalkan ? Beriman saya pahami sebagai sikap hati untuk mengandalkan apa yang kita imani. Beriman/percaya pada Allh Bapa artinya mengandalkan Bapa dan sekaligus juga berserah padaNya. Dia bukan semacam jin yang dapat kita suruh-suruh sekehendak hati.

Apakah kita menjadi sandungan ?
Si buta punya iman yang teguh meski ditegor orang-orang dekat Yesus. Disatu sisi kita bisa belajar dari dia perihal keteguhan iman. Namun disisi lain dapat kita tanyakan apakah kita tidak kerap menjadi batu sandungan ? tidak penjadi penyesat rekan-rekan seiman kita dan lebih-lebih orang diluar gereja kita? Bagaimana mungkin Allah Bapa dipermuliakan (ay 43: Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah) jika orang-orang yang dekat Yesus tidak mencerminkan kabar baikNya ? Luk 17:1-5
1 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
2 Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.
3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.
4 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."
5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"
Jagalah diri kita – yang konon mau dekat dengan Yesus. Semakin kita dekat Dia semakin besar tantangan kita.

Balikpapan 20 Nov 2006

Luk 7:1-10

Luk 7:1-10
1 Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.
2 Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
3 Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.
4 Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong,
5 sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami."
6 Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;
7 sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
8 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
9 Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!"
10 Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

Penelaahan teks
Fokus dari perikop ini adalah iman besar seorang perwira yang adalah kafir dalam tata agama Yahudi.
Siapakah perwira ini?
Ia adalah seorang yang membawahi 100 orang – Centurion
Bukan Yahudi (lih ayat 5 dan 9)
Simpati dengan orang2 Yahudi (lih ayat 5 “menanggung pembangunan rumah ibadat”
Seorang yang solider dengan hamba / bawahan – hamba yang sakit tidak ia buang namun ia upayakan kesembuhannya
Pendek kata: Ia seorang yang cukup punya kuasa, namun solider dan bersimpati dengan orang2 sekitarnya
Latar belakang:
Orang Yahudi dilarang berhubungan dengan orang kafir. Bacalah Kis 10:28
Ia berkata kepada mereka: "Kamu tahu, betapa kerasnya larangan bagi seorang Yahudi untuk bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi atau masuk ke rumah mereka. Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.

Itulah alasan sang perwira untuk:
Minta perantaraan beberapa orang tua-tua Yahudi untuk menyampaikan permintaannya pada Yesus (ayat 3)
Memandang diri tidak layak untuk menerima Yesus dirumahnya (ayat 6-7)

Cukup menarik bahwa Mat 8:5-10 sang perwira datang langsung menghadap Yesus. Luk membuat sang perwira sama sekali tidak berkontak secara fisik dengan Yesus
5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."
7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."
8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.

Logika tentara:
Tentara berhubungan dengan kekuasaan dan pelaksanaan perintah. Pangkat yang lebih rendah harus patuh pada yang lebih tinggi dan seterusnya hingga pangkat yang paling tinggi.
Sang perwira menggunakan logika yang sama pada Yesus dan penyakit hambanya. Buat dia Yesus penuh kuasa, sedemikian hebatnya sehingga tidak perlu lagi repot2 secara fisik datang pada sisakit, cukup berkata saja maka persoalan akan lenyap

Menarik untuk sebentar menyimak Luk 5:12-13
12 Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
13 Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
Disini bahkan tidak perlu lagi perkataan, cukup mau, meski ada unsur aktivitas (Yesus mengulurkan tangan dsb).

Reaksi Yesus :
Yesus heran. Kenapa? Kiranya Yesus sudah bersiap untuk datang dan menjamah. Bukan karena Ia tidak dapat menyembuhkan dari jarak jauh, tapi terlebih-2 untuk kepentingan sisakit.
Yesus ingin bahwa sisakit tidak cuma sembuh raga fisik tapi juga jiwa. Coba bandingkan dengan penyembuhan wanita yang sakit pendarahan

Mat 9:20
20 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya.
21 Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."
22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu.

Bagi Yesus cukan soal sembuh sekadar sembuh. Hal kesembuhan tidak cuma fisik tapi juga jiwa. Supaya orang diubahkan jasmani dan rohani. Orang disembuhkan dan diselamatkan.

Bagi orang kebanyakan penting untuk mengalami jamahan fisik. Yesus yang sungguh hadir secara jasmaniah dan berbuat.
Misal:
Mr 7:33 Dan sesudah Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu.

Tapi perwira ini dengan logika tentaranya memandang bahwa kehadirang secara fisik kurang penting. Yang lebih uatama adalah perintah. Perintah yang penuh kuasa. Bahkan mungkin perintah juga bisa disederhanakan lagi menjadi sekadar kehendak/kemauan. Cukup mau saja maka. Dan dalam hal kehendak kita harus 100% pasrah. Seperti Yesus di Getsemani: bukan kehendakKU tetapi kehendakMU

Dan Yesus menurut Luk memang tidak berkata apa-apa lagi (misal: sembuhlah atau dll) dan sang hamba sembuh.

Belajar beriman dari orang kafir
1. Layak versus tidak layak
Kita kerap dicekam masalahnya sedimikian sehingga dia memandang masalahnya adalah segala-galanya. Masalah itu sedemikian penting buat dia sehingga bahkan Tuhan sekalipun harus memberi prioritas utama pada permohonan/masalah kita. Ini sungguh manusiawi.
Perwira kafir ini juga memandang masalahnya dengan serius, namun ia tetap tahu diri, tahu siapakah dia sebenarnya. Dia cuma orang kafir yang tidak wajib ditolong sebenarnya. Coba bandingkan dengan perikop Mat 7:26-27

26 Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya.
27 Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Kita tahu ceritanya bahwa perempuan itu merendahkan dirinya dan akhirnya Yesus memberikan apa yang dimintanya

Apakah kita rendah hati dihadapan Allah?
Bagaimanakah sikap hati kita jika kita punya permohonan? Apakah kita menuntut Tuhan?Apakah kita meminta upah kita? Karena kita sudah menjadi orang kristen?
Mat 19:27-30
27 Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?"
28 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.
29 Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.
30 Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

Tetap diminta untuk menjadi rendah hati sebab yang terdahulu selalu bisa menjadi yang terakhir dan sebaliknya.

2. Saling mendoakan
Dalam kisah Luk ini sang perwira –karena memandang diri tidak layak- minta bantuan sahabat2nya orang tua-tua Yahudi dan orang tua-tua Yahudi menemui Yesus dan memberikan alasan bagi Yesus untuk menolong dia. Dan Yesus bersedia datang dan menolong
Bagi saya ini saya maknai sebagai salah satu anjuran untuk tidak meremehkan permintaan saling mendoakan. Kalau ada kawan yang minta didoakan maka mohon dalam iman kita semua sungguh membawa itu dalam doa. Jangan sekadar berbasa-basi. Bayangkan jika orang tua-tua Yahudi ini cuma basa-basi berjanji menolong sang perwiara dan tidak datang pada Yesus?
Kita percaya Tuhan mendengar doa-doa kita, dan juga doa-doa yang kita ucapkan atas permintaan teman2 kita

3. Kuasa Sabda
Kira Luk juga hendak mengingatkan pada pembacanya untuk belajar dari perwira akan kekuatan sabda.
katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
Zaman Luk dituli Yesus sudah tidak lagi bersama domba-dombaNya. Yagn tertinggal adalah Kitab Suci. Dalam Kitab Suci kita percaya ada Sabda Tuhan, Dengan demikian Kitab Suci punya kuasa. Sejauh manakah kita sungguh meyakini hal ini ?

Penutup
Perwira kafir ini mengajari orang-2 Yahudi tentang bagaimana beriman. Dua ribu tahun kemudian kita juga boleh belajar dari dia bahwa
Dalam kerendahan hati kita datang menghadapNya
Memohonkan kehendakNya- ingatlah doa Yesus: tetapi kehendakMU
Kuasa SabdaNya, dan
Saling mendukung dalam doa

Renungan untuk PDKK Prapatan 2006 09 18

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur

Mat 5: 4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Siapakah diantara kita yang belum pernah berduka-cita ? Siapakah dari kita yang tidak pernah menderita ? Siapakah dari kita yang tidak bersusah payah ? Kiranya menjadi manusia artinya mengalami segenap duka-cita, penderitaan dan susah payah.

Mengapa Yesus mengatakan bahwa yang berduka cita selayaknya merasa berbahagia?

Semua orang terbuka pada penderitaan
Kej 3: 16-19
16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."
17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.

Mungkin dizaman modern ini kita tidak lagi mencari rezeki dari tanah (dan mungkin juga orang bisa melahirkan tanpa rasa sakit). Namun kiranya kita sepakat bahwa menjadi manusia artinya adalah mengalami segenap duka-cita, penderitaan dan susah payah.penderitaan,

Pertanyaan : bagaimana sikap orang terhadap penderitaan ?

Ada berbagai reaksi

Orang bisa marah dan meninggalkan imannya. Menurut mereka tidak masuk akal bahwa Allah yang maha baik mengizinkan adanya penderitaan didunia ini. Mereka protes.

Dan memang penderitaan menjadi tidak masuk akal jika dikaitkan dengan Allah yang Maha Baik
Penderitaan sebagai hukuman: anak kecil polos yang turut menjadi korban dan menderita
Penderitaan sebagai silih kebahagiaan dialam baka: Apakah Allah sungguh kejam dengan menuntut “pembayaran dimuka” atas kebahagiaan surga. Kenapa surga harus dibayar? Kita manusia dapat berbuat baik dengan tulus tanpa minta bayaran. Kenapa Allah tidak?
Penderitaan sebagai batu uji : ada yang lulus, tapi banyak yang menjadi pahit dan hancur. Apakah gunanya penderitaan bagi mereka yang tidak tahan uji dan tergilas ?

Penderitaan adalah sebuah misteri dalam hidup manusia. Kej 3: 16-19 diatas menyarankan bahwa manjadi manusia berarti terbuka pada penderitaan.

Dan filsafat menjelaskan penderitaan sbb (sedikit kursus filsafat disini):
Allah tidak mencipatakan sesuatu yang bertentangan dengan diriNya sendiri. Allah adalah konsisten. Bahwa kota Yogya terletak dekat dengan lempeng tektonik dan bertabrakan dan menyebabkan gempa adalah sebuah keniscayaan. Bukan berarti Allah tidak mencegah – Ia sekadar konsisten. Demikianlah Ia –Sang Maha Tahu- menciptakan alam ini. Tanpa lempeng tektonik tidak ada gunung api, tidak ada kesuburan dan ujung-ujungnya tidak ada hidup.

Filsafat sebagai ilmu tidak mampu menyelesaikan persoalan maha pelik ttg keberaadan pederitaan ini, namun ia dapat mengantar ini pada Allah dengan pertanyaan ini :
Apabila ada Allah, dari mana hal-hal buruk ?
Tetapi, dari mana pula hal-hal baik kalau Ia tidak ada

Dan demikianlah –penderitaan membuat manusia terpanggil untuk solider, berkurban, setia. Bagaimana hal-hal baik ini muncul kepermukaan dalam dunia yang tanpa derita ?

Fakta adanya sikap-sikap solidaritas, rela berkurban dan setia yang kita miliki adalah tanda bahwa ada makna yang dalam dari derita. Derita “memaksa” orang untuk keluar dari kepompong sempitnya untuk bertumbuh dan menjadi matang.

Pendeknya – kita mungkin tidak mungkin dapat menguliti misteri : mengapa Allah mengizinkan penderitaan, namun kita sekurang-kurangnya melihat titik terang bahwa :
Janji akan kebaikan yang sungguh baik (=ALLAH) adalah sebuah janji yang sejati.
Segenap penderitaan punya tujuan baik bagi masing-masing dari kita

Dan kiranya penderitaan bukan soal untuk dipecahkan(sebagai sebuah “kenapa”) namun sebagai sebuah jalan menuju kebaikan.

Kita boleh saja protes seperti Yesus sendiri kita dengar protes dipuncak salib:
Mk 5: 34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Namun kita tahu bahwa sejurus kemudian Ia berkata:
Lu 23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
Joh 19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Dan Ia kita tahu dibangkitkan Allah – derita salibNya mendatang kehidupan. Derita Nya –kita tahu- bukannya tanpa arti

Kalau kita sepakat bahwa penderitaan kita masing-masing adalah sebuah jalan menuju kebaikan kita sendiri, manakah langkah-2 praktis yang dapat kita ambil agar kita sungguh memetik manfaat sebesar2nya?

1. Sadarilah bahwa Allah mempercayai kita masing2 bahwa kita akan sanggup menanggung salib kita masing-masing.

Adalah lebih mudah untuk mempercayai Allah telah mengutus Yesus puteraNya untuk menyelamatkan orang lain melalui derita salibNya. Tetapi amat sulit untuk mempercayai bahwa Ia pun menaruh kepercayaan pada kita masing-masing: bahwa salib kita akan menjadi sarana bagi kita untuk mencapai kebaikan.

2. Jalan keluar dari penderitaan adalah justru dengan memasukinya dan menjalaninya

2Kor 1:5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.

Flp3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

1Pe 4:13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Rom 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Filip 1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

2Tim2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

Penderitaan kita adalah bagian dari penderitaan Kristus dan sebaliknya penderitaan kita juga menjadi bagian dari penderitaan Kristus

Maz 30:12 Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,

Yesus mengundang Allah untuk mengubahkan deritaNya menjadi rahmat yang menyelamatkan (kalau boleh cawan ini lalu, tapi terjadilah kehendakMu).

2Kor1: 5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.

3. Penderitaan –oleh sebab itu- hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk memurnikan hati, memusatkan hidup pada yang lebih luhur, melepaskan diri dari ikatan yang kurang bernilai.
Penderitaan –mau tidak mau- menantang orang untuk menampilkan sisi terbaiknya. Membuatnya menjadi kreatif dan menguji kematangannya. Orang yang setia memanggul salib akan tampil sebagai “pemenang” dalam arti : akan terubahkan dan menjadi matang

1 Ptr5:10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.

Hidup ini bukan soal memilih apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi melainkan bagaimana sikap kita menghadapi semua ini. Misalnya: hujan tetap berarti jatuhnya butiran-butiran air dari langit, yang membedakan adalah bagaimana kita memberi makna pada peristiwa itu

Sesungguhnya bertobat berarti membiarkan Allah memimpin jalan hidup kita., bahkan jika itu melewati derita.

4. Kalau demikian adanya – penderitaan dapat dipandang sebagai bukti kasih Allah. Sebab Ia menghendaki agar kita bertumbuh

Kej 22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."
2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."

Yak1: 2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Hidup yang dipenuhi syukur perlu dilatih. Dan mengalami penderitaan sebagai sebuah rahmat yang perlu disyukuri adalah sebuah latihan yang utama.

5. Tetaplah ingat bahwa sesungguhnya kemampuan kita untuk menghadapi derita adalah lebih besar dari yang kita kira, sebab

1Kor 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Mungkin kerap kita terlalu mudah untuk menyerah kalah. Terlalu cepat berhenti dan meratap. Allah adalah setia dan Dia tahu yang kerpa kita tidak tahu : yaitu bahwa sesungguhnya kita akan mampu memanggungnya.

Ingatlah pula bahwa Ia selalu hadir bersama kita. Hendaknya kita selalu terbuka untuk menyadari kehadiranNya ini dan menjadikan hal ini sebagai sumber kekuatan.
Kita selalu diundang untuk dapat melihat bahwa bagaimanapun tidak ada yang sanggup memisahkan kita dari Allah.

Maka kata-kata Yesus yang paradoksal dalam sabda kebahagiaan mungkin mulai menjadi terang. Bahwa sesungguhnya orang yang berduka cita layak berbahagia. Sebab –selain mereka akan dihibur- sesungguhnya penderitaan adalah sarana keselamatan.

Yesus tidak meninggalkan jalan lain selain jalan salib. Kita diundang untuk melepaskan genggaman kita pada hal-hal semu yang membuat kita memandang derita secara salah. Sebaliknya kita diajak untuk erat-erat menggenggam salib kita masing2 dan berjalan dibelakang Yesus. Sebab jalan salib adalah jalan menuju keselamatan.

Balikpapan 11 Juni 2006
Untuk Diaz