Sunday, June 23, 2013

Subsidi Iman

Berita-berita perihal pengurangan subsidi BBM ditanah air mengingatkan saya pada Santo Paulus. Dalam 1 Kor  11 kita baca Paulus berkata "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu". Lantas apa hubungannya dengan subsidi ? Konon subsidi yang bermakna "bantuan" ini berakar kata bahasa Latin: Sub + Sedere. Sub = dibelakang/dekat, Sedere = duduk, tetap pada suatu tempat, tidak bergerak. Boleh kita pahami bahwa dari satu sisi subsidi mengandaikan bahwa diperlukan bantuan supaya orang bisa tidak cuma tinggal ditempat yang sama. Tanpa subsidi orang kesulitan untuk maju, alias mandek.
Paulus mengingatkan bahwa dalam hal spiritualitas orang perlu selalu bertumbuh. Tanpa pertumbuhan kita tinggal menjadi kanak-kanak spiritual. Tidak disebutkan persis oleh Paulus apa yang dia pikirkan tentang kanak-kanak, tetapi tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa  pada umumnya kanak-kanak masih memerlukan bimbingan, dukungan, pertolongan. Pendeknya : subsidi.
Secara simbolik kita dianggap dewasa secara spiritual manakala kita menerima sakramen Krisma. Didalam sakramen Krisma, kita menerima "Kepenuhan Roh Kudus" sehingga kita dapat secara penuh dan aktif berkarya dalam Gereja seperti para rasul yang menerima Roh Kudus saat Pantekosta. Tetapi boleh kita refleksikan masing-masing sejauh mana hal ini kita wujudkan dalam praksis nyata. 
Konon ada tiga tahapan menuju tahap dewasa iman ini : Inform - Inspire - Ignite. Dalam tahap inform kita disuapi informasi, pendalaman iman, renungan, rekoleksi, dsb. Selanjutnya dalam  Inspire kita membathinkan, menginternalisasi, membuat segenap masukan tersebut menjadi bagian jati diri kita. Akhirnya kita Ignite dan menyala menjadi suluh dan asin sebagai garam. Di tahap manakah kita sekarang ini ? Apa kita masih perlu subsidi Inform? hingga kapan? apakah kita masih kanak-kanak seperti yang dikatakan Santo Paulus?
Menjadi pergumulan masing-masing dari kita untuk tumbuh dalam hal iman. Sebagian mengalami bahwa "peristiwa batas" kadang justru membuat kita keluar dari kepompong dan memasuki tahap kedewasaan. Peristiwa batas itu adalah krisis-krisis dalam kehidupan kita. Lewat krisis orang bisa mengalami bahwa pola pikir lama tidak bisa lagi ia andalkan, bahwa kita harus melangkah keluar dari comfort zone, bahwa  dibalik malam kelam ada pagi yang hangat dan menyegarkan. 
Hilangnya subsidi jelas dapat dipandang sebagai sebuah krisis, tetapi disisi lain krisis dapat dipandang sebagai sebuah tantangan dan undangan untuk melangkah dan meraih kedewasaan. 

Friday, May 17, 2013

The Unwanted One

Waktu diminta berbaris menerima penghargaan juara, Benitez masih nampak sibuk menghibur pemain-pemain Benfica yang tewas 2-1 dalam laga Piala Eropa. Tim biru dari London lebih baik satu gol dan untuk kesekian kalinya Benfica dipaksa menelan kepahitan. Ketika giliran mengangkat piala sampai padanya Benitez nampak tersenyum, Tidak terlalu nampak meledak suka-citanya dan ia seperti mengangkat piala itu untuk dirinya sendiri. Kamu bisa!  Maklumlah ia bukan pelatih favorit para boboth Chelsea yang tidak bisa lupa bagaimana Liverpool dibawah Benitez mengandaskan tim biru ini lewat gol hantu (Luis Garcia tahun 2005).
Sepanjang persinggahan tujuh bulannya di Stamford Bridge Benitez sudah kenyang dihujat, dilecehkan, tidak dianggap dan litani negatif lain yang ditimpakan pada dirinya. Ia adalah The Interim One, The Unwanted One, yang apa boleh buat menjadi pelatih Chelsea sepeninggal Di Mateo November tahun lalu. Bagi Benitez yang pengangguran Chelsea jelas adalah sebuah kesempatan membuktikan diri, sementara bagi para fans Benitez adalah skandal.
Dari sisi lain, cerita keberhasilan Benitez dan tim Chelsea meraih juara Eropa (meski tetap adalah piala kelas dua dibanding Champion League) dan tiket ke laga Champion musim depan (meski masih harus menang di laga terakhir) adalah satu cerita bahwa garis lurus bisa ditarik garis bengkok, God draws straight with crooked lines. Atau seperti bait lagu kebangsaan Liverpool yang sudah ratusan kali didengar Benitez.
At the end of the storm
There's a golden star
And the sweet silver song of a lark
Jika sesekali hidup mengambil jalur yang tidak biasa, diluar harapan, diluar sangkaan mestinya cerita itu mengajarkan bahwa lebih bijak buat tetap melangkah dan percaya bahwa diujung sana ceritanya tidak sejelek yang kita sangka. Bahkan ada orang yang sampai berkata - tidak ada kegagalan atau kepahitan, yang ada adalah pelajaran. Dan dari kepahitan kita bisa belajar banyak, lebih banyak bahkan dari keberhasilan.
Benitez mungkin tidak pernah akan mendapat tempat pertama dihati penggila Chelsea. Mungkin tidak jadi soal pula baginya. Yang jelas ia boleh meninggalkan Stamford Bridge dengan kepala tegak. Kamu bisa !  and you will never walk alone...

Sunday, April 21, 2013

Krisis Panggilan? Krisis Jawaban? atau Krisis Paradigma?

Diedaran gereja hari ini disebutkan bagaimana gereja membutuhkan Imam. Disisi dalam edaran tersebut dibahas soal krisis panggilan. Menurut penulis mungkin yang lebih tepat adalah krisis jawaban. Mungkin ini soal pemilihan kata saja - krisis panggilan mengandaikan tidak banyak pria menjadi pastor (baca: menjawab panggilan), krisis jawaban mengandaikan tidak banyak pria yang menjadi pastor (baca: menjawab panggilan). Sama saja bukan ? :)

Ditengah narasi penulis melembut nada dengan menulis bahwa panggilan tidak cuma soal menjadi pastor saja. Menikah pun adalah panggilan. Entah kenapa ia kedengaran kurang tulus bagi saya - pasalnya minggu panggilan berbareng dengan perayaan Yesus gembala. Pastor sering disebut gembala. Maka minggu ke-4 paska terasa identik dengan soal menjadi pastor (dan persis itu yang disebut dihalaman depan edaran hari ini: gereja membutuhkan imam).
Perihal krisis panggilan/jawaban penulis berkata bahwa anak muda (laki2) sekarang ini cenderung sibuk dengan urusannya sendiri-2, sehingga tidak mendengar/tidak menjawab panggilan itu. Dalam doa yang saya copas dibawah ini soalnya adalah  orang tua yang kurang mendorong
Biarlah setiap orang tua merelakan anak-anaknya
menanggapi panggilan-Mu untuk turut bekerja di ladang-Mu. 

Dari sisi sini kedua argumen luput bertanya soal paradigma dasar ini : apakah sungguh bahwa  yang diperlukan gereja adalah imam? Apakah gereja akan runtuh jika tidak ada lagi laki-laki mau hidup selibat dan menjadi imam ? Apakah ada bukti sejarah bahwa gereja pupus karena kehabisan imam?
Jika Iblis memang ada (dan ia berniat menghancurkan gereja) masakan ia luputkan strategi ini? Too obvious isn't it?

Bagaimana kalau ditawarkan paradigma baru? bahwa gereja katolik adalah kumpulan umat yang duduk sejajar, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dihadapan Yesus? Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang menjadi kepala. Tidak ada gembala tidak ada domba (after all pastor apakah seorang gembala? bukankah Yesus satu-satunya gembala?). 

Jika demikian maka fokusnya adalah pemberdayaan umat menuju gereja egalitarian. Tidak ada yang lebih penting entah ia adalah kaki atau kepala. Ingatlah Santo Paulus yang mengatakan bahwa ada banyak karuania tetapi satu tubuh, dan tidak ada yang lebih penting dari yang lain.

Dalam gereja macam ini yang ditekankan adalah penyaluran bakat dan kesetaraan peran. Memang tidak semua bisa pandai dalam banyak hal - tetapi yang tahu tentang kitab suci lebih-lebih dipanggil untuk membagikan dan yang tidak tahu tidak boleh duduk manis pasif dan ikut-ikutan belaka. Tidak ada free-rider dalam gereja macam ini

Gereja macam ini adalah kumpulan orang-2 dewasa yang sadar bahwa kita masing2 sungguh diutus (bukan cuma sembunyi dipunggung pastor). Diutus menjadi garam diladang kita masing-masing. Oleh sebab itu adalah menjadi kawajiban masing dari kita untuk meng-upgrade diri supaya kita siap sedia menjadi teman seperjalanan Yesus.

Gereja bukan baby sitter kata Paus Fransiskus. Bukan gereja nina bobo. Dimana kita boleh pasif dan merajuk serta berkeluh - aduh kita ini kekurangan laki-laki yang mau jadi pastor.
Tidak ada krisis panggilan atau jawaban. Cuma krisis paradigma biri-biri yang kekanak-kanakan.


Saturday, March 30, 2013

I will tell you how he lived.

Kalau anda pernah nonton filem Tom Cruise bertitel "The Last Samurai" mestinya anda ingat adegan dipenghujung filem waktu Cruise bersembah pada sang kaisar seraya menyerahkan pedang samurai milik mendiang Katsumoto. 

Emperor: The Samurai is gone. The spirit of samurai lives forever. Tell me how he died.
Algren: I will tell you how he lived.


Bait ini mengingatkan saya pada peristiwa Paska Yesus Kristus. Terutama kata-kata Cruise diatas.  I will tell you how he lived. Pasalnya - kesan saya (saya tidak sendirian nampaknya, baca buku "Saving Jesus from the Church: How to Stop Worshiping Christ and Start Following Jesus" besutan Robin Meyers) orang kristen cenderung terlalu menekankan pada salib, kematian, penderitaan. Syahadat Nicea -dogma iman gereja- pun melewatkan begitu saja cerita kehidupan Yesus. Yang dikenang adalah sengsara, salib, wafat dan bangkit. Apa yang terjadi sebelumnya seperti tidak terlalu penting untuk disebutkan. Rasul Paulus pun tidak banyak (tidak sama sekali?) mengutip ajaran Yesus dalam banyak suratnya. Fokusnya adalah salib, kematian, kebangkitan.

Tidak ada yang salah dalam mengenang puncak-2 peristiwa Yesus itu, tetapi Yesus bukan sekadar tampil di panggung dalam tiga hari itu saja (well, di hari kedua Ia wafat, jadi tidak nampak dipanggung). Ia berjalan, berkeliling dan berbuat baik (Kis 10:38), yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan (Luk 24: 19). Yesus sebagai guru, nabi, penyembuh adalah sungguh Ia yang hadir ditengah kita, Imanuel (Mat 1:23), seperti yang dikatakan malaikat dalam mimpi Yusuf. Ia meyentuh pendosa, wanita yang sakit pendarahan, anak-anak, orang kusta bahkan mayat, makan bersama pemungut cukai, solider pada wanita yang dikatakan penzinah. Ia menyentuh kita dari sisi kerinduan kita yang paling dalam. Sois avec moi - be with me. Hidup kadang berat dan tidak terpahami, tidak adil dan penuh onak duri. Sois avec moi Seigneur.

Di Getsemani Yesus yang tercekik kengerian salib berkata "berjaga-jaga dengan Aku" (Mat 26: 38). Be with Me. Kiranya itulah kerinduan terdalam hidup manusia. Kita masing-masing -suatu saat- menghadapi suatu kesendiran yang senyap. Disaat-saat kesendirian ini lah kita rindu akan kehadiran dan penyertaan, akan solidaritas dan bela rasa. Penderitaan atau apapun yang sedang dihadapi mungkin tidak dengan sendirinya lenyap, tetapi kita bisa lebih teduh menghadapinya

Paska -kata Paus Fransikus- adalah suatu kebaruan yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita. Yesus yang kemarin berdarah-darah, berteriak-teriak dan wafat kini sudah hidup baru. Kiranya tanpa Paska kristianitas tidak pernah ada. KematianNya mungkin heroik, dramatik dan traumatik (karena dosaku yang Ia tanggung), tetapi mungkin kita perlu lebih banyak bicarakan tentang bagaimana Ia hidup dulu (sebelum Kalvari) dan kini (setelah Paska). Karena bukankah kita adalah "saksi dari segala sesuatu yang diperbuatNya" (Kis 10:39)

Selamat Paska

Tuesday, March 26, 2013

Kereta Malam Dari Vatikan

Kiranya bagi sebagian orang konklaf alias pemilihan Paus itu macam menunggu datangnya kereta malam tak berjendela yang setelah melaju tidak tahu kapan akan berhenti atau mau langsir dimana. Sekali "Habemus Papam" dikumandangkan orang-orang ini lantas sibuk menganalisa, hendak kemana kereta akan melaju, apakah lewat jalur selatan atau utara? lewat lembah atau bukit?

Maklumlah lokomotif kepausan ini menarik gerbong yang dimuati 1.2 miliar umat dengan segenap permasalahannya. Roma locuta, causa finita. Roma bicara habis perkara. Paus dalam kapasitas ex cathedranya tidak mungkin salah (infalibel). Apakah Paus baru akan mengambil keputusan atas polemik dan kontraversi macam pernikahan sesama jenis, kontrasepsi dan hal pelecehan seksual? Atau Ia ,alih-alih, menjaga benteng idealis konservatif ?

Maka sebagian orang sibuk mereka-reka dan menebak-terka - dari warna sepatu, pilihan desain cincin kepausan dan salib, pilihan nama. Digali juga foto-foto lama, girl-friend masa kecil, kebiasaan naik kendaraan umum, menjinjing tas nya sendiri, membayar kamar hotelnya sendiri, dsb. The future is not ours to see, tetapi orang tokh tak sabar mencari isyarat - hendak kemana lokomotif ini hendak melaju?

Siapa menarik kereta bermuatan 1.2 miliar umat manusia tentu tidak bisa gegabah, grusa-grusu, sekadar mau beda apalagi ikut-ikutan mode. Apalagi ini soal hidup sesudah kehidupan ini. Soal keselamatan. Soal Surga dan Neraka. Lagipula ia mendapat mandat dari Sang Penyelamat sendiri. Tentu tidak main-main. Maka tidak heran kalau ada kesan lamban. Konsili Ekumenis terakhir kali digelar hampir 50 tahun yang lalu (dan yang sebelumnya hampir 100 tahun sebelumnya). Kalau dibandingkan produk teknologi- dalam 50 tahun komputer sudah diringkas dari mainframe sebesar kamar kontrakan menjadi setipis buku tulis.

Disisi lain yang disebut sebagai karya Roh Kudus memang tidak terduga-duga. Waktu alm. Angelo Giuseppe Roncalli terpilih sebagai Yohanes ke-23 (1881-1963) diusianya yang ke 77 (persis seusia Paus Fransiskus yang incumbent) banyak orang memandang bahwa jabatannya sekadar untuk menghangatkan kursi bagi Giovanni Battista Enrico Antonio Maria Montini (alias Paulus VI) belaka. Namun siapa nyana Yohanes ke-23 ini mencetuskan untuk membuka jendela gereja dan membersih atap bumbungan lewat Konsili Vatikan ke2. Aggiornamento (bringing up to date)! katanya

Namun akhirnya mayoritas 1.2 miliar umat boleh merayakan hari-hari triduum dengan khusuk. Habemus Papam. Business as usual bukan? Mungkin tidak. Kiranya kita tidak boleh lalai untuk tetap menjaga semangat Yohanes ke-23 nun setengah abad yang lalu. Gereja itu bagai bahtera yang mengarungi zaman. Hidupnya penuh tantangan, penuh perjuangan. Zaman yang menantang kita setiap kali menjadi tetap baru namun sekaligus setia pada arah yang sudah dua ribu tahun jadi pedoman

Habemus Papam !

Monday, September 20, 2010

Guncangan Gereja Katolik Belgia

Dalam artikel ini http://www.nytimes.com/2010/09/20/world/europe/20belgium.html?scp=5&sq=belgium%20church&st=cse dibahas mengenai keadaan gereja katolik di Belgia. Konon disana gereja katolik terguncang hebat oleh skandal pelecehan seksual (statistik: lebih dari 400 korban dan lebih dari 10 korban bunuh diri). Sehubungan dengan skandal ini ratusan umat minta untuk "debaptized"mungkin analog dengan mengundurkan diri dari gereja (CMIIW setahu saya sakramen adalah menetap - orang bisa cerai secara sipil tetapi dimata gereja sakramen pernikahannya belum batal dengan cara itu)

Cukup menarik bahwa di Belgia negara menyokong gereja katolik secara finansial (lebih dari 300juta USD / tahun). Seorang uskup mendapat tunjangan 9ribu USD/bulan.

Thursday, September 16, 2010

Yang masih perlu kita temukan

Konon dipuncak salib Allah diam. Teriakan Yesus disambut dengan diamNya Dia. Tetapi apa pula yang hendak Yesus harapkan ? Apakah Dia berharap Allah akan mengirimkan pasukan bala tentara surga? Mestinya tidak - dan Ia mestinya sudah tahu waktu semalam-malam berdoa di taman Zaitun. Hari ini Dia akan mati - Dia harus mati hari ini.
Waktu kita ujian kita tidak boleh berharap bantuan dari guru kita , atau teman-teman, apa lagi contekan. Kita kan sedang diuji - masak mau nyontek atau dibisiki? Jadi lulusan macam apa kita kalau kita berhasil lantaran curang ?
Mungkin ini analog dengan puncak salib Golgota. Dan mungkin Yesus pun sudah tahu bahwa Ia tidak mungkin minta bantuan Allah supaya penyalibannya dibatalkan. Mungkin Ia berteriak karena soal lain ? Kita hanya bisa berspekulasi saja akhirnya. Apa Ia kesepian ? atau simply kesakitan ? atau tiba-tiba mengalami bahwa yang selama ini Ia sangka ternyata salah semua - dengan kata lain : Ia mengalami pencerahan!
Imagine engkau Anak Sulung Allah - what more would you need to know ? Mungkin Yesus tidak menyangka ada lagi yang Ia perlu pahami tentang Allah. Ia tahu semua bukan ? 
Well, mungkin tidak juga. Ibarat ujian, ada satu hal yang perlu Ia pelajari dan tidak ada jalan lain mendapatkan pelajaran itu selain dengan dipancang di puncak salib. Kita tidak pernah tahu apa persisnya pelajaran itu tetapi mestinya Yesus mendapatkan pencerahan itu. Salah satu injil menulis bahwa Ia menyerahkan nyawaNya ketangan BapaNya - tidak ada lagi konflik dan kebingungan (ditaman Zaitun au contraire kita lihat bagaimana gundahnya Yesus)
Yesus yang bangkit tidak cerita secara detail apa pencerahan yang Ia dapatkan dipuncak salib. Mungkin karena masing-masing dari kita harus belajar sendiri dan menemukan pencerahan kita. Kata de Mello SJ - kita harus mengupas dan makan mangga untuk mengalami mangga - tidak mungkin kita diberitahu seperti apa mangga itu lewat ceramah. Demikianpun pencerahan kita masing-masing. Maka sia-sia mencari tahu pencerahan apa yang Yesus alami dipuncak salib. Kita masing-masing harus temukan bagi kita sendiri.