Tuesday, March 3, 2009

Adalah ganjil

Adalah ganjil
bahwa kerap kita baru bisa bersyukur
saat kita hampir kehilangan berkat yang kita terima sejak lama

Kita berterima kasih
baru kalau dikagetkan bahwa segenap yang ada pada kita
bisa saja tidak ada
bisa saja lenyap esok lusa
bisa saja terrenggut percuma

Kapankah kita terakhir kali mengamati
Dan mengagumi
berkat yang sudah kita miliki

Apakah kita bisa menambah sehasta dalam jalan hidup kita?
Kalau tidak
lalu mengapa sibuk dengan hal-hal yang tidak ada
Dan lalai mengalami anugerah nan melimpah?

Kunci bersyukur adalah memandang
Memandang dalam hening
Saat gelombang datang
Kala gelisah menggelora
Berhenti dan diamlah
Lalu pandang
Maka kita akan temukan bahwa
Kita tidak lain dari seonggok besar anugerah Allah
Tidak kurang dari segumpal gemuk karya kasihNya

Janganlah kuatir akan hidupmu
Akan apa yang akan kau makan
Kau minum
Kamu sudah serupa tumpukan rahmatNya

What more would you need?

Le subjonctif au Jericho

Mungkin cerita Zakeus sudah terlalu sering saya dengar – sehingga tidak membangkitkan minat analitis lagi. Tapi semalam saya melihat sisi lain cerita yang sudah sering kali saya dengar. Dalam versi alternatif saya melihat bahwa Yesus-lah yang mencari Zakeus. Fokus cerita bukan klise macam upaya keras Zakeus sebagai simbol tekad untuk bertobat. Tapi lebih-lebih dari awal kisah sudah kelihatan bahwa Yesus lah yang mencari Zakeus.

Ayat 1 dikatakan Yesus masuk dan berjalan terus. Tidak tengok kanan-kiri, tidak berhenti menyembuhkan atau mengajar. Ia berjalan melintas (Il traversait).

Kalau Yesus ingin bertemu Zakeus, Zakeus lebih-lebih (cuma) ingin melihat (saja)Yesus. Yesus yang kiranya sudah kerap ia dengar sebagai seorang selebriti. Lantas apa yang sulit dari kegiatan memanjat pohon bagi Zakeus ? Saya tidak melihat ini sebagai elemen yang sentral. Zakeus –sekadar- ingin melihat dan cara yang paling bagus adalah dari atas. So what ? Lagi pula Zakeus tidak mimpi Yesus kenal dan dia, apalagi mau menginap dirumahnya. Zakeus sudah akan puas jika ia sudah melihat Yesus. Tidak berharap diajak omong segala.

Lantas terucap kata-2 yang mengguncangkan Zakeus dan dalam versi perancis drama itu hadir lebih menggigit: aujourd’hui il faut que j’aille demeurer chez toi (sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu).


Also Sprach Nietzsche

Nietzsche yang memaki habis kristianitas mengecualikan Yesus [Magnis-Suseno, 2006:84]. Yesus –baginya- adalah seorang pemikir bebas yang tidak tertindas oleh perbudakan dogma agama.

Mungkin Nietzsche tidak serieus disini, tetapi pernahkan kita sebentar mengkonfrontasikan Yesus dengan Kristianitas? Apakah Kristianitas serta merta Yesus? Jika Yesus membaca konsili Vatikan II apakah Beliau akan berkata : wah ini gue banget ? Apakah Kristianitas Yesus banget ?

Kalau boleh dikritisi sebentar, omongan ini adalah sebuah kontradiksio interminis, atau dalam bahasa excel “circular reference”. Pasalnya Yesus yang kita kenal sesungguhnya didefinisikan oleh Kristianitas, dan tidak sebaliknya. Kita tidak pernah mengenal Yesus diluar konteks Kristianitas. Diluar kristianitas Yesus bukan Kristus, n’est pas?

Tetapi selalu boleh ditanyakan apakah kita –dalam menghayati kristianitas serta merta menjadi Yesus yang lain? Alter christi ? Disini baru dapat kita tarik distingsi, sebab yang ditanyakan adalah penghayatan pribadi masing2 akan kristianitas dan Yesus. Disini kita melihat diri bercermin pada dogma versus saya berkaca pada Yesus.

Pada level yang sederhana: dogma adalah rapalan kata bahasa sementara Yesus adalah seorang pribadi. Kata dapat ditaati secara legalistik dan alhasil hilang jiwa-nya, sementara dalam mistik Pribadi Yesus selalu punya tantangan selangkah lebih jauh (Mat 5:41). Bukan perihal kata-kata dogmatik, hukum gereja, dsb melainkan meragakan semangat dan semangat yang diragakan ini kadang menerjang batas-batas dan kekakuan dogma yang tanpa jiwa.

Jika segenap orang kristen tidak berhenti dalam kristianitias melainkan berjalan lebih jauh dan menjadi Yesuit (bukan ordo-lho) kiranya Nietzsche akan serta-merta kehilangan dasar kritiknya. Sebab jika kita semua adalah alter Christi maka penantian sudah purna (Mat 11:3-6)

over-loaded

Menurut Magnis-Suseno masyarakat Indonesia termasuk over-loaded dalam hal beragama (buku : menalar tuhan –Kanisius-2006),dan memang maraklah rona kegiatan berlabel agama – dari seremonial (Natalan di Senayan) hingga brutal (baku hantam antar pengikut agama). Yang menjadi pertanyaan agama macam mana yang konon memenuhi kapasitas muat bangsa ini?

Tidak perlu jauh2 menelisik agama lain-mari tengok sharing pendalaman iman APP (bagi yang non katolik, APP = Aksi Puasa Pembangunan- kegiatan seputar masa puasa/pra-paska) gereja kita sendiri. Sekilas kita lihat sebagai umat basis kita rajin berkumpul seminggu sekali membahas topik APP kita, tapi lantas apa ? diskursus tidak (belum) mengubah sejauh berhenti pada kata-kata belaka. Lebih pahit lagi – umat katolik terasa kagok mengupas makna kitab kudus dan ada kecenderungan mencairkan tuntutan2 kenabian didalamnya.

Kata “berbagi” –misal- lantas diartikan berbagi duka, berbagi sms, kerja bakti, koor dan merias altar. Seolah domain kitab suci cuma sekelumit petak seputar gereja saja. Kalau sekadar pernik macam begitu Isa Almasih tidak perlu sampai mati berdarah-darah.

Kata Isa: inilah darah Aku, inilah badan Aku. Lantas kita serta merta menarik ibarat dan memadankan itu dengan hosti dan bahwa jika kita makan itu hosti kita selamat menyeberang jembatan melintas neraka.

Bagaimana jika Isa sungguh-sungguh mengatakan bahwa kita memang makan dagingNya ? dan bahwa tuntutanNya harafiah dan tidak perlu (boleh) dilembutkan dengan ibarat dan penghalus yang ujungnya cuma sekadar pupur kosmetika sahaja?

Dan sesunguhnya kita telah jadi memanipulasi agama, sesuai dengan kepentingan kita. Beragama apa maunya ? – supaya selamat dunia akhirat, tapi isi agama tidak perlu pula mengubah diri kita. Alih-alih, agama yang kita kangkangi demi mau kita.

Alhasil kita bukan over loaded oleh agama, namun agama yang loaded oleh (kepentingan) kita.

Kaset koor GEMA: sebuah perjalanan Emaus

Ditoko buku paroki Buah Batu ndilalah saya jumpai 2 kopi kaset koor Gema zaman baheula. (Cruce Signati dan Per Signum Crucis). Dalam keharuan nostalgik kedua kaset itu saya putar dan kenangan masa lalu berlompatan kepojok-pojok ruangan.

Apa yang terjadi jika masa lalu menyapa dan memenuhi cakrawala (BTW: dalam kaset ini lagu2 buku biru dikemas rudimentari – dengan sekadar gitar dan sejumput organ- bak latihan koor sabtu sore, polos jujur dan tanpa interpretasi) ?

Lebih 20 tahun sudah berlalu dari masa keGEMAan saya, lalu apa yang muncul dalam reuni impersonal dengan sekumpulan nada masa lampau ?

Sepanjang pengalaman ber-reuni saya, nostalgia tidak lebih berupa kegiatan kolektif mengunyah-ngunyah kenangan liwat, lagu lama, percikan2 masa lalu. Biasanya setelah beberapa jenak kita akan terdiam karena kehabisan bahan. Masa lalu – a distant in time- tokh memudar dan tinggal bersisa beberapa tonggak saja. Dan itu tidak terlalu banyak juga.

Namun reuni impersonal saya dengan kedua kaset ini memercikan dimensi lain. Masa lalu keGEMAan saya tokh tinggal tetap. Tidak terulang lagi (dan buat apa juga?) namun saya sudah beranjak dalam 20 tahun lebih ini. Dan dalam jarak – a distant in time- kenangan itu sekarang bicara lain, karena saya tokh bukan lagi seorang muda jerawatan kebak hormon lebih dari 20 tahun lalu.

Dan seperti menikmati teh hangat, nostalgia ini saya seruput pelan-pelan. Saya resapi bahwa tanpa masa keGEMAan saya, saya tidak akan jadi seperti sekarang saya ini.

Ibarat pelaut memandang mercusuar diufuk yang telah jauh ia tinggalkan. Ia bersyukur karena tahu pasti bahwa jika ia luput menangkap sinar mercusuar itu ia mungkin telah kandas atau sesat.

Dan kehangatan sapa seorang sahabat saya alami kembali dan sungguh itu menguatkan saya. GEMA sungguh seorang teman dalam perjalanan ziarah saya. Seperti dua murid yang berjalan menuju Emaus dalam kalut, GEMA menemani masa muda saya yang tidak kurang kalutnya. Ia sabar dan setia. Dan kiranya sekarang saya lihat sisi lain GEMA, seperti kedua murid yang tercelikkan mata saat Yesus membagi roti dan anggur.

Dalam cerita Emaus kedua murid yang terubahkan bergegas kembali ke Yerusalem, sebagai orang2 yang disemangati. Kira saya -dalam skala dan versi lain- sayapun mengalami emaus saya lewat reuni impersonal saya malam ini

playboy

Bangsa ini mengidentikkan moral dengan perihal syahwat. Konon Playboy edisi Indonesia hendak ditentang mati-matian oleh seorang Menteri, pasalnya kuwatir Playboy bakal merusak ahlak moral kaum muda. Apa lantas diasumsikan bahwa seorang muda yang melihat Playboy (well Playboy mula-2 untuk dilihat, baru kemudian dibaca) akan rusak moralnya dan membuat dia menjadi pembabat liar hutan Kalimantan sambil mengawetkan tahu dengan formalin dan me-mark-up proyek hasil membobol bank. Astaga lompata logika yang sungguh akrobatik.

Jika Playboy memang mujarab untuk segenap evil ini maka kita menjadi heran bahwa pria yang menikah (hence melihat kurang lebih apa yang disajikan playboy) tidak lantas dikatakan rusak ahlaknya.

Pertanyaan lain adalah : kiranya 50% dari populasi (=wanita) kurang berminat pada sajian Payboy ini – lagipula 200 juta bangsa ini tidak semua punya akses pada printed Playboy. Lagipula Playboy bukan lagi barang unik di tanah air – boleh sekali2 lewat agen koran anda dan akan anda temukan ½ lusin terbitan seronok lain.

Bangsa ini tidak tahu soal moral tapi sok moralis. Sedemikian sehingga ATM kondom hendak ditolak. Kondom yang dijual bebas diapotik, toko obat, warung dsb, menjadi hal yang laknat saat dijajakan dalam anjung tunai mandiri. Logika macam mana ini? Atau karena ini dianggap mendukung seks bebas, seks ekonomis, dsb. Tapi hal mesum tidak lantas lenyap dengan menolak ATM kondom. Atau perlukah membeli kondom dengan seurat pengantar dari tokoh2 agama yang moralis ?

Soal seks selalu rumit karena dibuat rumit. After all ini sarana yang Tuhan berikan demi penciptaan. Hence biologik. Lantas sudah pada tempatnya –sebagai manusia yang hermeunetis- untuk memberi makna pada aktifitas badaniah. Hence soal cinta, dsb dilengkapkan pada konteks olah tubuh ini. Cukup kiranya sampai disana. Soal moral, neraka dsb tidak kurang dari pembodohan belaka. Macam semua orang dianggap sebagai anak akil balik yang belum paham betul onderdil tubuhnya, sementara hormon2 sudah bekerja.

Tapi dua ribu tahun lalu Santu Paulus dalam 1 Co: 9 menulis “Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu”. Hawa nafsu jadi alasan untuk kawin, dari pada hangus (NB: 1 Co 1: Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin – seks dipandang kurang sebagai sesuatu yang jelek)

Mungkin soal syahwat memang bukan soal mudah, sebab darah berhenti mengalir keotak saat syahwat angkat bicara. Apa boleh buat sehingga kiranya jalan efektif dalam rangka dalmas (pengendalian massa) adalah hantu yang bernama “moral”

Sehingga ATM kondom yang menjual juga Playboy jelas-jelas akan dikutuk neraka jahanam ! karena lebih mudah mengutuk daripada mendidik.


Kalau sang pastor wafat

Konon ada berbagai versi guyonan pastor yang serba salah – misal, kalau pakai HP (mahal) dibilang tidak kaul (kemiskinan), sebaliknya kalau tidak menjawab SMS umat karena punya HP dibilang ketinggalan zaman. Dan seterusnya. Seorang teman mengomentari lelucon ini dengan bertanya retorik – tapi kalau sang pastor wafat siapa yang hendak mengganti?

Tidak ada yang menyangkal peran istimewa pastor dalam gereja Katolik. Maklum saja – sentra perayaan keagamaan katolik adalah ekaristi – dan hanya imam/pastor saja yang sah memimpinnya. Tanpa ekaristi orang Katolik seperti kehilangan jati diri.

Tapi sebenarnya, omong-omong, apa pula yang terjadi kalau tidak ada misa ? Kiranya ikut misa jadi satu pasal dalam hukum gereja. Lalu kalau tidak misa artinya melanggar hukum dan lantas dihukum. Bicara seperti sepertinya mengandaikan kita ini suka berhitung hukum dan ganjar (ikut misa sekian kali – apa ganjarnya? Tidak misa sekian kali – apa hukumnya?)

Mungkin menjadi katolik adalah soal menghitung-hitung berapa kali kita absen misa, berapa kali pula kita ekstra misa harian? Tapi kiranya mengikuti Kristus lebih dari sekadar hitung-hitungan sederhana seperti ini.

Dalam Injil dikatakan Yesus lebih peduli dengan perbuatan, siapa yang berbuat dia yang masuk hitungan. Lain tidak. Ritus tidak jelek, tapi kalau berhenti sebagai ritus maka yang ada hanya kesia-siaan yang justru berbahaya. Karena orang bisa berpikir bahwa segala sesuatu menjadi beres karena kita sudah merayakan misa dengan amat meriah, dengan koor dan sorak-sorai, dengan dupa dan bunga-bunga, dengan lonceng dan baju baru.

Tapi setelah misa selesai (dan kita diutus), kita semua kembali kedunia sebagai orang-orang lama yang tidak ambil pusing dengan berbuat. Buat apa ? bukankah kita tadi sudah misa ? Apa boleh buat – misa yang mestinya dipandang sebagai sarana – dijadikan tujuan. Misa sebagai sarana kiranya adalah saat perjumpaan dengan Allah- sebagai jeda perjalanan ziarah, perjuangan membawa nama Kristus dalam hidup sehari-hari. Sepulang dari misa (dan kita diutus) –idealnya- kita penuh inspirasi untuk lebih kreatif menjalani panggilan masing-masing. Dan justru sepulang misa segala sesuatu baru akan dimulai. Bukan sudah selesai.

Jika misa cuma sarana, maka ia tidak lagi segala-galanya. Dan posisi pastor kita boleh pandang berbeda. Ia adalah kawan seper-ziarah-an yang dipanggil untuk cara hidup yang lain dari kebanyakan kita (dengan tugas- tugas tertentu). Dan masing- masing dari kita dipanggil untuk setia pada perutusan/panggilan masing-masing. (Maaf) pastor boleh wafat, tapi Kristus tetap memimpin didepan. No matter what.

Balikpapan 10 Nov 2006