Wednesday, March 25, 2009

deviasi positif - deviasi negatif

Menurut penulis buku Questions of Truth: Fifty-One Responses to Questions about God, Science, and Belief hal yang paling sulit dipahami adalah hal penderitaan dan kejahatan didunia ini. Mungkin lengkapnya : hal penderitaan dan kejahatan dihadapan ALLAH yang maha baik. Bagaimana Allah mengizinkan hal penderitaan dan kejahatan semisal Dia sungguh maha baik ? Namun lagi menurut penulis yang adalah seorang ilmuwan sekaligus pastor, kita harus menerima bahwa penyelewengan (i.e. hal-hal yang sebut buruk) harus diterima sebagai saru paket dengan hal-hal baik. Misal : pulau yang tropika yang permai muncul dari gerakan lempeng tekntonik yang saat beraksi menewaskan banyak mahkluk hidup. Sel kanker adalah hasil perkembangan 'menyimpang' sel yang sebenarnya juga bisa berkembang ke arah yang baik. Tidak mungkin hanya menerima deviasi positif tanpa sedia menerima deviasi negatif.

Kita yang ditimur mungkin sudah duluan arif manakala berkata bahwa hidup itu seperti roda. Ada saat naik dan saat turun. Tidak mungkin berada diatas terus kecuali dunia berhenti berputar. Yang dibarat sana mungkin kurang sabar melihat segenap kejelekan dan kejahatan didunia ini. Terlebih-lebih karena pandangan bahwa Allah itu mestinya baik, dan mestinya baik menurut pandangan manusia. Ditimur orang percaya hidup bukan linear, ada reinkarnasi dan bahwa ada Brahma tetapi juga ada Siva. Ada saat untuk membangun dan juga masa untuk membongkar.

Bait terakhir tadi kita juga sebenarnya bisa baca dari salah satu buku perjanjian lama. Tepatnya buku Pengkotbah. Sang pengkotbah berkata bahwa segala sesuatu adalah kesia-siaan belaka. Mungkin ini cara lain untuk mengatakan - bahwa jangan terlalu tergesa-gesa menilai jelek atau bagus, karena dibalik yang bagus atau yang jelek tokh alhasil semuanya maya belaka, sia-sia, nisbi dan temporal.

Tidak usah bertanya-tanya mengapa - jalani saja hidupmu. Dan terlebih-lebih karena cuma ini hidupmu (tidak ada hidup lain, hidup sesudah kematian is a whole different ball game anyway) maka make the most out of it. Cherish the moment. Kata pengkotbah itu lagi - segala sesuatu ada waktunya - ada saat tertawa ada saat menangis - meski akhirnya tokh semuanya sia-sia - tetapi engkau tidak bisa hanya mengambil salah satu.

Monday, March 16, 2009

Painkiller

Malam itu mungkin La Vida Loca terlalu berat buat Vida (nama panggilan Nemanja Vidic) yang dua kali membuat kesalahan fatal dalam laga akbar Liverpool - Manchester United. Dua kesalahan yang dihukum berat. Dua gol dan satu kartu merah. Konon Vida berlari sekencang-kencangnya meninggalkan arena lapangan. Seolah ingin lari dari kenyataan - hidup memang sesuatu yang gila, La Vida Loca (Crazy Live). United bukan cuma dikalahkan - tetapi sungguh dipermalukan. Mereka bukan lagi untouchable- team-team boleh belajar dari Liverpool - bagaimana membunuh setan merah ini.

Bagaimanakah kita bisa melupakan kegagalan ? Bagaimana memaafkan diri sendiri atas kesalahan fatal yang menyangkut banyak orang lain ? Bagaimana kita berani bercermin memandang wajah yang mempermalukan orang sekampung ? Kerap kita lebih sulit memaafkan diri sendiri. Memaafkan orang lain sudah sulit - tetapi diri sendiri ? Luar biasa sulit.

Mungkin satu alasannnya adalah - bahwa kita tidak mau mengakui bahwa kita ini sesungguhnya tidak sedahsyat yang orang kira. Kita tidak sehebat gelar yang orang lain berikan. Kita ini sesungguhnya vulnerable. Oh sangat sulit menerima kenyataan bahwa kita tidak sebagus reputasi yang orang tempelkan pada diri kita. To admit that we have made a bad mistake is very hard indeed. Apa boleh buat - kita telah mengidentikan jati diri kita dengan label yang orang tempelkan pada diri kita - the best defender, dalam kasus Vida, ternyata ringkih dan pecundang.

Kata de Mello SJ, jangan pernah mengidentikan diri dengan label yang orang tempelkan pada dirimu. Kalau engkau tidak mau hidupmu terbelenggu ekspetasi orang lain. Lagipula label itu mereka pasangkan pada dirimu karena engkau memenuhi daftar belanjaan (shoping list) mereka. Kalau daftar belanjaan mereka berganti engkau bukan apa-apa lagi bagi mereka. Tetapi engkau jadi sibuk mempertahankan reputasi. Hidupmu habis untuk itu - apakah aku telah memenuhi harapan orang lain ?

De Mello SJ jelas bukan coach sepakbola. Dalam dunia celebriti reputasi adalah segala-galanya. Engkau hidup karena engkau dapat memenuhi harapan penggemar - sekali engkau gagal dimata mereka, hancurlah masa depanmu. Apaboleh dikata - ini resiko profesi jadi orang terkenal. Dunia celeb memang gila. Living La Vida Loca.

Namun demikian satu hal bisa dipastikan - artis atau bukan, tekanan bathin yang tidak perlu mestinya kita buang saja jauh-jauh. Orang selalu bilang - ambil positif-nya saja. Kata De Mello SJ lagi - dari derita kita belajar sesuatu tentang diri kita. Karena dari hidup yang menyenangkan kita tidak akan bisa belajar apa-apa. Deritamu membuat engkau tahu bahwa ada yang perlu diperbaiki dari hidupmu.

Malam itu mungkin Vida perlu obat penghilang rasa sakit. Sakit hati terutama. Dan kalau sudah hilang rasa sakit itu mungkin ia bisa belajar pelajaran yang tidak akan pernah dia tekuni kalau malam itu United menang lagi.

La vida es una locura, pero de hecho, usted debe aprender de él (dan ia boleh minta Fernando Torres menterjemahkan kalimat ini)

Friday, March 13, 2009

Esto es Anfield: Y que?

Sebuah koran terbitan Spanyol entah mengejek atau menyemangati menulis tajuk provokatip: Esto es Anfield: Y que? This is Anfield, so what ? Mereka lupa bahwa setengah skuad Liverpool plus sang manajer berbahasa Ibu Spanyol. Mungkin setengah dicocok-cocokkan atau bagaimana, tapi malam itu Madrid dibantai habis oleh Torres dan kawan-kawan (dan ingat - ada lebih banyak pemain berdarah Spanyol bermain untuk Liverpool dibandingkan Real Madrid).

Di Anfield malam itu hanya tiga orang Inggris bermain dan cuma satu yang masuk timnas. Inggris krisis pemain berkaliber internasional. Maka, meski ditingkat klub, tidak ada yang boleh memandang setengah mata keempat klub besar Inggris tetapi timnas Inggris tidak berhasil menembus piala Eropa tahun lalu. Ironis. Bahkan ke-empat klub ini diasuh oleh bukan orang Inggris (Ferguson orang Skot). Kemana perginya orang Inggris selain menjadi penonton ?

Ditengah tekanan kompetisi liga Inggris orang lebih memilih membeli pemain asing yang sudah jelas prestasinya dibanding membeli pemain lokal. Kata Redknapp : "...if they’re not good enough, it’s a waste of time.." Hukum ekonomi sudah jelas - belanja yang paling baik sesuai dana yang anda punya. Yang paling baik ternyata bukan tumbuh ditanah Inggris.

Sepakbola sebagai industri -apa boleh buat- menjadikan timnas korban keberhasilan klub-klub raksasa. Hukum ekonomi tentu mendorong orang membeli tiket pertandingan dimana pemain-pemain kelas dunia bermain. Tidak masuk akal mengharapkan orang membayar mahal untuk menonton anak-anak kampung bermain. Yang bener saja bung. Maka upaya membatasi jumlah pemain asing menjadi usulan yang tidak menarik. Lagipula dalam kongsi Euro, seorang berpaspor negara anggota Euro kiranya berhak bekerja dimana saja diwilayah negara anggota Euro. Membatasi jumlah pemain asing bisa dipandang sebagai penghianatan terhadap kesepakatan perkongsian. Repot

Inggris satu kali menjadi juara dunia (1966) dan belum pernah satu kalipun jadi juara eropa (maksimum masuk semi final - tahun 1996). Bayangkan - sejak FA berdiri tahun 1863 prestasi Inggris ya cuma segitu saja. Tidak berlebihan kalau anekdot Tuhan yang menangis bisa diterapkan pada persepakbolaan Inggris.

Konon pemimpin dunia dari Afrika, Amerika dan Inggris diberi kesempatan bertanya pada Tuhan - pertanyaan apa saja akan dijawab. Pemimpin Afrika bertanya - kapan negara-negara afrika berhenti bertikai antar mereka sendiri. Jawabnya : 50 tahun lagi. Dan sang pemimpin menangis getir. Giliran yang dari Amerika - kapan Amerika bisa jaya kembali - dijawab: 75 tahun lagi. Dan ia lantas menangis karena ia bakalan keburu mati duluan. Yang dari Inggris bertanya simpel saja : kapan Inggris jadi juara dunia sepak bola ? Kali ini Tuhan yang menangis.



Thursday, March 12, 2009

More "Spanish" than Madrid

Menurut web ini Liverpool FC yang beralamat Inggris adalah lebih Spanyol dari Real Madrid yang konon asli Spanyol. (Ada lima pemain Spanyol di Liverpool versus tiga di Madrid) Dunia memang aneh. Sehingga waktu Real kalah telak dari Liverpool konon dilapangan ada satu fan Madrid yang paling bersuka-cita: Rafael Benitez sang manager Liverpool ! Benitez pernah bekerja dan bermain untuk Real Madrid. Dia dulu adalah seorang Madridista.

Nasionalitas adalah sesuatu yang ganjil. Apakah Benitez terhitung sebagai pecundang Nasional karena mengalahkan tim Spanyol -yang adalah tanah kelahirannya ? Atau justru pahlawan yang mengharumkan nama bangsa ?

Mia Audina, pemain badminton itu, lahir di Jakarta - membawa nama Indonesia ke pentas bulutangkis dunia, dan belakangan menugusung nama Belanda, yang dimasa lalu berperang dengan Indonesia (dulu disebut Hindia Belanda). Dia jelas profesional. Apakah ia patriotik ? Silakan saja didebat lebih lanjut. Tetapi sekali lagi nasionalitas adalah sesuatu yang ganjil.

Sehingga kita pernah dengar anekdot demikian : sebelum di hukum mati sekelompok tawanan perang diberi kesempatan untuk memandang negaranya. Dan mereka berdiri berjajar diperbatasan sembari menangis tersedu-sedan. Oh negaraku, oh tanah airku. Belum sempat habis air mata, ada pengumuman dari sipir - bahwa mereka berhenti terlalu cepat 10 km dari perbatasan. Alhasil yang mereka barusan tangisi adalah tanah air musuh mereka. Tentu saja ini cuma guyonan belaka.

Nasionalisme adalah konsep dan konvensi. Namun ada banyak orang bersedia berkelahi karena konsep. Kita tidak bertanya - kita disuruh berbaris dan maju. Right or wrong my country kata orang. Begitukah ? Bukankah wrong akan tetap wrong - entah in my country atau your country ? Entahlah persisnya - silakan saja didiebat dipinggir lain.

Kita kembali Benitez. Benitez jelas seorang profesional. Tugasnya membawa kepentingan klub dimana ia bekerja. Sama persis dengan manager team lawan. Siapapun dan dimanapun ia lahir. Menjadi profesional berarti menjalankan panggilan tugas dengan tunduk pada norma dan etika profesi. Tidak heran kalau ada kelompok dokter yang mendaku - bahwa mereka tidak dibatasi batas wilayah - medecins sans frontieres. Orang sakit perlu ditolong bukan karena dia satu bangsa atau bagaimana, ia ditolong karena ia sesama manusia. Menjadi profesional -akhirnya- adalah menjadi sungguh manusia. Lepas dari kepentingan sepihak, yang tidak heran kalau ujung-ujungnya adalah onggokan materi, uang atau kekuasaan.

Wednesday, March 11, 2009

my own prison

You can take Fernando Torres from Atletico, but you can not take Atletico from him.

Selepas membobol gawang Real Madrid dalam laga akbar Real Madrid vs Liverpool secara demonstratip Torres unjuk namanya dihadapan publik Madrid yang bergerombol di satu pojok stadion Anfield. El Nino telah memuaskan dendam membara yang ia pendam sejak ia bermain untuk team sekota Madrid. Apapula yang ia dambakan selain menggetarkan gawang Madrid dan menyepak mereka dari ajang kompetisi antar klub paling bergengsi dijagad ini.

Sesungguhnya Torres belum lagi pulih dari cedera yang dideritanya baru-baru ini, tetapi katanya sakit dikakinya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit dihatinya. Dalam dendam orang cuma berpikir akan sakit hatinya. Sakit badan, sakit kaki atau sakit gigi tidak terasa lagi. Dendam yang membara ibarat magma panas mendesak-desak gunung berapi. Asap keluar dan gempa bumi.

Terhadap dendam yang sudah mendarah-daging kita tidak lagi mampu terang memberikan alasan kenapa dan mengapanya. Kita sudah terlanjur benci dan marah. Dan kita tidak akan pernah puas sebelum dendam itu terpuaskan. Entah bagaimana caranya dan bahkan entah "lawan" kita masih hidup atau sudah bertobat. Dalam kasus Torres - pokoke anti Madrid, entah Madrid yang dulu atau yang besok. Alhasil kita sesungguhnya menjadi tawanan (dendam) kita sendiri. Tidak enak makan, tidak enak minum, apalagi tidur.

Dan kita dengar dalam filem eksyen James Bond sang aktris pendamping berkata filosopis: "I wish I could set you free ... but your prison is in there." sembari membelai kening sang jagoan Bond. Dendam dan amarah yang dipiara akan berubah menjadi penjara bagi diri kita sendiri (dan kalau ditularkan bisa menjerat juga anggota keluarga, kawan sekampung, bahkan segenap bangsa). Dan tidak ada escape dari penjara ini - karena ia terletak didalam - direluang yang paling dalam. Dan sepanjang hayat dikandung badan kita baktikan waktu dan tenaga untuk membakar bara dendam itu. Sesungguhnya kita sedang membakar diri kita sendiri. Lebih dahulu daripada membakar pihak lawan.

Ironis.



Tuesday, March 10, 2009

Being Neutral is a crime

Menurut satu web site - being neutral is a crime. Mungkin rada bombastis, tetapi rupa-rupanya meski kompleks, dunia kita ini adalah kumpulan sistem biner yang ruwet. For one thing - a man can not be in two place at the same time. You are either with-in or with-out. Against or for. Yes or no.
Kita bisa saja abstain. Alias tidak memilih, tetapi tidak memilih pun adalah sebuah pilihan juga, meski pilihan yang tidak terdaftar. Engkau tidak bisa tidak memilih, engkau cuma mengatan bahwa pilihanmu tidak ada diantara opsi yang disodorkan.
Netralitas tidak mungkin - karena netralitas kerap berarti kemalasan menjawab, keengganan menghadapi tantangan. Ditengah konflik engkau harus memilih : pro si A, pro si B atau neiter. Tapi sampai disini, jika engkau beranjak pergi engkau diam-diam setuju bahwa konflik adalah sebuah pilihan yang wajar bagi si A dan si B. Bukannya - misalnya: resolusi. Tetapi siapa mau memajukan resolusi kalau engkau tidak ada lagi diantara si A dan si B yang memang asyik bertikai.
Sudah tentu mungkin ada yang namanya juri atau wasit. Tapi kita juga tahu wasit yang 100% netral itu tidak ada. Being human, mereka punya like dan dislike. Maka dalam lomba menyanyi ada minimum 3 wasit. Genap tidak mungkin, satu wasit apalagi. Pihak yang kalah kerap mudah menuding ketidak-adilan wasit, sementara yang menang paling-paling cengar-cengir dan mengatakan yah begitulah pertandingan.
Jalan lain yang biasa ditempuh adalah jalan obyektivitas. Mungkin seonggok emas bisa ditimbang dan dibandingkan dengan mudah. Tetapi bagaimana mau membandingkan perhiasan ? atau piala ? atau mahkota misalnya. Cuma ditimbang beratnya tidak mungkin - karena disana ada nilai-nilai yang tidak bisa "ditimbang". Misal: jerih payah mendapatkanya, atau nilai sejarah, dsb.
Maka tidak bisa tidak orang mesti memilih. Karena tidak memilih akhirnya adalah sebuah pemihakan.

Wednesday, March 4, 2009

Cinta manusiawi

Naksir diasumsikan tidak setara dengan cinta tapi jatuh cinta mengandaikan unsur hormonal yang kental. Cinta Yesus tidak sama dengan cinta romeo, atau cinta parental. Dan dengan demikian batasan cinta menjadi mabur bureng bin tidak jelas

Waktu remaja hormon membanjiri sistem navigasi sehingga membuat Jarak pandang terbatas, maklum otak berkabut sehingga diwajahmu kulihat bulan, atau engkau adalah mawar asuhan rembulan. Tidak dipikir hari esok yang kompleks, karena dunia adalah milik berdua. Sehingga yang lain jelas indekost

Romeo yang katarak tidak mau melihat bahwa Juliet adalah sebenarnya Juleha. Yang suka makan petai dan kalau tidur ngorok, sementara Juliet yang buta pura2 tidak tahu bahwa Remo yang dikampung bernama Rhoma adalah Macam kucing yang jarang mandi

Semua indah pada waktunya, dan semua hanyalah impian semusim

Waktu orang berjalan menuju altar gereja Kuningan, sambil dikendangi kebo giro versi sundanese, orang hanya pikir masa depan penuh madu dan susu Lupa bahwa baju manten adalah sewaan dan atap bocor dimusim hujan Setelah bulan madu usai dan rentenir menanggih bunga, maka mimpi buruk Resmi di mulai.

Juleha melihat Rhoma yang asli dan Rhoma sadar Juleha bukan Juliet dan mulailah pernikahan dirasakan macam memesan makanan yang salah. Mulai ada Pertengkaran dan audibilah, kadang2 piring berterbangan.

Disaat seperti ini pantas diingat bahwa gereja katulik kuningan (dan segenap Gereja roma) memandang bahwa pernikahan adalah sakramen. Artinya tanda Kehadiran Tuhan. Dengan berjangji setia pejah gesang, orang mengikrarkan sesuatu yang tidak manusiawi. Manusia itu lemah, pelupa dan pembosan. Namun didepan altar di kuningan itu dulu, Rhoma dan Juleha berjangji setia dalam untung dan malang, till death do them part. Jangji yang inhuman ini butuh
Peneguhan Gusti Allah, kalau tidak hanya sebatas gombalitas belaka. Maka itu Gereja katulik bilang pernikahan adalah sakramen

Setelah jatuh orang harus berdiri, begitu juga jatuh cinta. Kalau gagal berdiri orang terancam jadi manusiawi: bosan, kolokan, promiscous, etc. Dan disini muncullah definisi cinta sebagai tekad, sebagai pilihan, sebagai komitmen yang tidak ada kaitannya lagi dengan take and give atawa mencari kesenengan belaka.

Dan meneladan Gusti Yesus, kita sadari bahwa cinta yang sungguh justru jauh dari romantika lilin meja makan malam. Cinta yang bener itu heroik, semacam upaya mentransendenkan manusia yang lemah, lebih ingat kepentingan sendiri dan kolokan

Dan dalam wacana Gusti Yesus, cinta yang heroik macam begini diganjar Keabadian, tidak terikat waktu dan ruang

September 06, 2003 7:10 PM