Saturday, February 28, 2009

despite anything...

Bercermin pada cerita kemalangan dua kakak beradik yang saya kenal secara pribadi. Si Kakak punya dua anak laki2 yang satu autis, adiknya terbelakang mental. Si adik punya dua bayi kembar perempuan keduanya tidak punya retina mata

Langit runtuh !

Lalu bagaimana orang bisa berdamai dengan kenyataan macam begini ? Bagaimana dia mencerna: Tuhan melihat segala sesuatu baik adanya ? Dengan cara apa dia mengerti jalan hidupnya ? kenapa harus menikah dengan pasangannya sekarang ? Lalu gen apa yang menyebabkan ini semua. Kalau ini karma : karma yang mana ? salah siapa ? Kalau ini bukan salah siapa-siapa, lalu kenapa saya ?

Kata Yesus : bukan salah orang tuanya, tapi supaya kemuliaan Tuhan diwartakan. Tapi bagaimana melihat kemuliaan Tuhan dibalik kelamnya awan ?

Aku kira ini soal iman. Dalam iman kita melemparkan diri pada kerahiman Tuhan: "despite anything..." Dia tokh baik

Yang aku dengar si adik merencanakan pindah ke satu kota dimana tersedia pelayanan bagi orang buta. Mungkin disinilah mosaik cerita sudah menunggu yang kalau disambung2 mosaik2 ini akan bercerita

"despite anything..." Dia tokh baik

Jan 15, 2003

Kata Tinus

Kata Tinus, yang adalah Martinus (iaitu M dari nama MAW Brouwer), kota kelahirannya adalah kota yang unggul dikalangan sejumput kecil tanah dibawah laut yang bernama Nederland. Tinus kecil suka main pastor2an dan sang Mami yang adalah Katulik saleh membuatkan jubah coklat Fransiskan. Hubungan Tinus dengan sang Mami demikian erat sehingga Tinus nyaris tidak bisa bernafas dibekap rangkulan tentakel sang Mami. Alhasil cerita hidup Tinus selanjutnya dapat dipahami dalam terang relasinya dengan sang Ibu. Benci tapi rindu, suka tapi sebel. Tinus lari dari Delft dan jadi guru di Sukabumi, belajar psikologi dan jadi dosen di Padjadjaran, menulis ratusan kolom dan beberapa buku, dikagumi dan tidak dimengerti (kolom Brouwer termasuk tulisan yang kalut. Kalimat perkalimat memang enak dikunyah, tapi sebagai kesatuan, tulisannya lebih mirip mosaik yang ribet. Konon kata alm Mahbub Junaidi, yang mengerti kolom Pater Brouwer ya Pater Brouwer sendiri)

Dalam hidup kita masing-masing jejak tahun-tahun pertama hidup balita kita nampaknya menentukan siapa kita dikemudian hari. Tengoklah kebelakang, ingat2, bagaimana oarang tua kita bertindak, berkata dan berpendapat. Engkau mungkin memberontak saat itu, tapi ada peluang besar engkau berbuat yang sama dengan mereka, mungkin dengan sedikit modifikasi atau perubahan skala dan versi. Tapi nada dasar terdengar persis sama.

Dalam cahaya ini dapat lah kita pahami bagaimana gereja Katulik memandang Mater Dei, Theo Thokos, Bunda Allah. Apakah yang Yesus alami sebagai bocah Yahudi dikampung yang bernama Nazaret ? Apakah yang Yesus hayati dalam kebersamaan hidup berkeluarga ? Dia menjadi sama dengan kita – kecuali dalam hal dosa. Dan sebagai lumrah manusia pengalaman bersama sang Ibu mestinya membekas dalam manusia Yesus.

Yohanes ini lah ibumu. Mungkin lumrah saja seorang yang sekarat menitipkan ibuNya pada sahabatNya. Sang ibu memang dikatakan tinggal bersama Yohanes dan sang ibu juga hadir dalam masa-masa penantian Pentakostal. Sang Ibu –wanita yahudi sederhana, yang rencana hidupnya dibengkokan manakala Molekat Gabriel menjadi utusan panggilan- setia disemua bagian penting Sang Anak.

Mungkin bisa lantas dipahami landasan devosional orang katolik. Kiranya orang katolik mau berlajar dari sesama manusia bagaimana bergaul dengan Tuhan. Dan wanita ini istimewa karena mendarah-dagingkan Roh Kudus. Sang bunda dikatakan menyimpan segala sesuatu dalam hati dan bahkan sebilah pedang akan menembusi jantungnya. Pengalaman berjalan bersama Tuhan tidak selalu terang maknanya. Dan sikap yang betul adalah menerima dan merenungkan dalam hati. Apa boleh dikata – kita hanya bisa memandang sepelempar batu saja, dibalik tikungan entah apa menanti dan kelokan itu mengarah kemana sebenarnya.

Kembali ke cerita Tinus. Diujung hayatnya Tinus yang dikenal sebagai MAW menjalaninya dengan dengan penuh depresi, kesakitan dan kesepian. Kekecewaan menghantam disana-sini, kebingungan, kehampaan. Sampai akhirnya ia rebah sebelum pertolongan datang. Tinus lantas dimakamkan di gereja tempat dia ditahbiskan. Ia tidak tahu apa yang Maminya rasakan sebelum ia meninggal (Tinus sedang di Bandung waktu itu) dan mungkin mereka boleh obrol dan berdamai dialam sana.

Myra Sidharta, MAW Brouwer, Antara dua tanah air: perjalanan seorang pastor. Gramedia 1994, 162 hlm Rp 10 500 available at Gramedia Blok M

I wish I could blame you

Pernah dengar dialog macam gini:
+ : Aku juga enggak bisa nyalahin kamu, tapi habis gimana ?
- : Habis kamu sikh...aku kan sudah bilang...dst

Pernah merasa depresi karena disalahkan ? It is your fault !!
Pernah merasa lega karena orang lain yang ternyata salah ?

Kenapa kita suka mengorbankan kambing hitam ?
Kenapa tidak enak disalahkan

Well - Yesus konon mati karena kesalahan kita !
Dia -alih2 lari- malah menjemput salib
Tidak ada kasih yang lebih besar dari Ia yang mati buat sahabatnya
**boleh dikritik : kenapa bukan sekalian saja mati untuk musuhnya**

Tapi pertanyaan saya: siapa yang bilang saya ini salah ?
Siapa jurinya ?
well katanya semua dari kita berdosa !

Kadang kalau dipikir-pikir unik juga ya ?
Menjadi Kristen dan dibaptis adalah mengakui Yesus sebagai juru selamat dan pada saat yang sama : mengakui kita berdosa (dan membuat Yesus mati di salib)
that's a lot of burden don't you think ?

Kata Yesus : dosa yang paling besar adalah doa menghujat Roh Kudus mungkin karena dengan demikian kita merasa lagi tidak butuh diampuni karena dengan demikian kita menutup hati pada belas kasihan dan rahmat Allah

Tapi kadang kupikir memandang manusia sebagai 100% "dosa" kok kurang menyegarkan dalam diri manusia ada yang baik bukan ? dalam diri penjahatpun mestinya ada rasa sayang dan dimana ada kasih disitu hadir Tuhan ? Kadang saya melihat bahwa dosa lebih sebagai "embeded bug" macam software yang ada bug-nya, apa boleh buat programernya mendesain demikian dan alhasil programernya sedikit banyak tidak boleh cuci tangan atas "bug" dalam softwarenya

Apr 21, 2003

Kalau doa adalah obat

Kalau doa adalah obat
kita boleh bertanya
Adakah hidup kita diubahkan?
Kalau tidak lalu apa gunanya kita berdoa ?
Seperti makan obat tetapi tidak kunjung sembuh

Lalu buat apa pula kita makan obat ?
Sebuah kesia-siaan belaka ?
Sebuah tipuan konyol semata ?

Siapa pula yang hendak kita kelabui ?
Tuhan disurga ? Paus diRoma ? atau Teman disebelah kita ?

Jika doa serupa tablet resep
kita bisa renungkan
Apakah kita setia meneguk 3 X sehari ?
Apakah kita kurangi kadarnya
Bahkan mungkin kita lancang beli setengah resepnya saja

Lalu apakah kita tahu guna obat ?
Apa kita sudah lebih pandai dari sang pembuat resep ?

Siapakah yang hendak kita permainkan ?

Andaikan doa semacam vitamin B kompleks
Tahukah kita tubuh kita jadi sakit tanpa vitamin ini ?
Sadarkah kita kita bergantung padanya ?

Bukan soal banyak atau sedikit
Vitaminlah yang membuat hidup jadi sehat
Ia bangun tubuh kita jadi kuat

Lalu kalau kita hidup sembarangan saja
Tidakkah kita seperti sedang mencekik leher kita sendiri ?
Atau pelan-pelan membenamkan diri kelumpur kematian ?

Hehe ma hamu martangiang, asa unang hamu bongot tu pangunjunan ! (Luk 22:46)

pengemis profesional

Pernah merasa bahwa pengemis yang datang pada kita tidak cukup professional dalam mengemis ? berdiri tegak, badan sehat, kelihatan tidak kelaparan. Pagi ini saya berikan selembar uang padanya – saya pikir kita layak berbelas kasih karena Tuhan sudah berbelas kasi pada kita

Tapi saat pengemis ke-2 dan ke-3 (yang sama-2 tidak kelihatan professional juga) datang. saya putuskan untuk tidak mengeluarkan lagi dompet saya. Tidak enak rasanya dieksploitasi. Saya yakin si ibu (BTW ke-3nya perempuan semua) mungkin bisa dapat makan dengan jadi tenaga cuci atau sterika, dsb – dan bukan lewat cara yang gampang – menengadahkan tangannya

Saya berpretensi tahu keadaan orang(-orang) ini dan lantas main hakim mana yang saya beri mana tidak. Saya tidak mau dibohongi dengan guratan muka sedih dan suara memelas. Minta dikasihani dan selembar uang.

Lalu bagaimana dengan doa permohonan saya pada Tuhan ? Jika Ia tahu saya menipu adakah Dia mau memberi ? Well. Mungkin saya tidak menipu Dia, tapi mungkin yang saya minta tidak sungguh2 saya perlukan sehingga biar pintu saya ketok sampai tangan kapalan ya tidak bakal dibukakan.

Tapi darimana saya tahu bahwa yang saya minta tidak benar2 saya perlukan? Adakah minta sehat- mohon sejahtera dsb tidak sungguh saya perlukan? Well mungkin yang ini layak dimintakan, tapi minta naik pangkat ? minta tabungan superjoss 3 milyar ?
Tapi disisi lain, konon Tuhan kita sungguh kuasa dan masakan anak minta telor diberi uler, Bapak rampok saja tidak berbuat begitu

Kiranya merepotkan memahami Tuhan dengan bertanya: bagaimana sih teknik memohon yang efektif sedemikan supaya permintaan kita terkabul kobal-kabul ? Sebab dengan berpikir macam begini kita menjadi macam ibu-ibu yang memacak wajah semuram dan semengharukan mungkin supaya orang menarik kocek dan merogoh lembaran tsodakoh. Tuhan yang dipertanyakan macam begini adalah Tuhan yang dirampok.

Bayangkan Tuhan macam gudang harta dan agama adalah soal merumuskan rapalan supaya pintu gudang terbuka dan kita tikus-tikus menyeruak masuk untuk berpesta pora. Supaya gudang tetap terbuka kita ganjal pintunya dengan amalan dan ibadah – dan lagi-lagfi agama menyibukan diri dengan mendefinisikan jurus-rumus-hafalan bagaimana supaya pintu tetap terbuka sehingga kita leluasa pesta pora berakah-nikmat-melimpah-ruah

Apa yang salah dari gambar ini ? Tuhan tidak lagi pribadi yang ber-relasi dengan kita sebagai pribadi lain. Sang pengemis berupaya mengeksplotasi kita dengan memicu urat belas kasihan dan tidak peduli dengan membina relasi personal dengan kita – begitu dompet dibukakan dan duit diserahkan dia menghilang (well mungkin sembari mengucap berkat, supaya skenario sinetron jadi klop)

Sejak Adam dan Hawa berkelayapan bugil di Taman Eden, Tuhan menyapa manusia sebagai pribadi. Mereka diajak ambil bagian dalam karyaNya (Adam memberi nama chewan-2), diberi tahu mana yang boleh dan tidak (chewan mungkin dicegah dengan pagarkawat duri, tapi menungso mah diajak omong)

Kata Yesus kamu bukan hamba tapi sahabatKu. Maka bertindaklah sebagai seorang sahabat, bukan macam aktor pengemis. Berlakulah sebagai seorang pribadi menyapa pribadi manakala kita berlutut berdoa. Doa bukan cuma soal minta membombong, membujuk, meluluhkan hati, beriba-iba. Melainkan menyapa seorang sahabat, bercerita berbagi suka dan duka, menyampaikan harapan, kerinduan

Lha wong akhirnya hidup bukan soal makan minum pakaian kekayaan, tapi teduh kembali pada Ia yang mengutus kita menjadi musafir didunia fana ini. Dan dimensi spritual ini tidak untuk nanti waktu badan berkalang tanah, tapi juga sekarang ini, setiap hari setiap saat – kita boleh hayati pelukan ini. Pelukan gembala yang meninggalkan 99 untuk 1, pelukan ayah yang melupakan harga diri dan berlari mendapatkan anak durhaka, pelukan soerang samaria yang kebetulan liwat dijalan dan berbelas kasih, pelukan Seorang Sahabat yang mati untuk sahabatNya

Kamu bukan pengemis, tapi sahabatKU

in memoriam – Matius Nasution – 21-05-2001/2005

Koeli dan Paduka Pastoor

Kenapa lebih mudah tidak terlambat nonton bioskop daripada ke gereja ? Kenapa orang obrol di gereja ? Kenapa orang tidak khidmat saat misa ?

Satu jawaban yang mungkin adalah : orang lebih memandang "ke gereja" itu sekadar pemenuhan kewajiban, penunaian hukum gereja, penggenapan suruhan. Itu saja

Nonton bioskop au contraire adalah pilihan bebas. Jarang orang nonton bioskop karena wajib hukumnya atau atas alasan takut. Kalaupun sampai ada orang nonton karena alasan tersebut mungkin dia dengan bosan duduk di gedung bioskop, maksimum tertidur - sekurang2nya bete.

Lalu kenapa orang merasa wajib kegereja ? Mungkin orang masih mendekati soal pergi kegereja dengan mentalitas koeli: saya berbuat begini (ie kegereja), maka Tuhan memberi imbalan (sekurang2nya Ia tidak jadi murka). Maka saya adalah koeli atau at least kaum terjajah dan Tuhan adalah majikan saya.

Lantas dimana kehangatan Bapak-anak disini ? Mestinya tidak ada. Yang ada cuma kedinginan hubungan jongos-tuan, babu-majikan, koeli-gubernemen.

Maka kalau koeli-koeli kontrak ini lantas dimarahi pastor yang masygul kenapa gerangan orang terlambat - jelas ada yang putus dalam lingkaran logika. Koeli kontrak ini datang lebih karena pemenuhan kewajiban, maka semangat minimalis yang muncul - asal nderek misa mawon. Asal setor badan 1.1/2 jam setiap minggu.

Kalau mau efektif mendekati semangat koeli begini mestinya sang paduka pastor perlu mengumumkan SK bahwa hukuman datang terlambat adalah neraka jahanam, ribuan tahun terpanggang diapi panas, dilaknat kualat, sekurang2nya tersambar petir !

Para koeli akan serta merta datang lebih awal dan berjejal masuk gereja. Dan paduka pastor boleh menepuk dada - lihatlah domba-domba taat semua. Tapi deep down inside koeli tetap koeli, yang kelihatan rapi beribadah, namun entah dimana hati selama misa.

Yang mungkin lebih masuk akal adalah upgrading: dari koeli menjadi anak, setidak-tidaknya menjadi sahabat. Kalau kita bersahabat dengan Allah - atau dengan Romo Pastor lah, maka kita punya semangat yang lain dari koeli. Apalagi kalau kita ini tahu diri bahwa kita anak Tuhan, mestinya gelora gairah bergereja lebih menggelegak lagi.

Bukan lagi sekadar nderek misa, tapi lebih2 aktif penuh penghayatan – bahwa misa adalah perayaan bersama mensyukuri peristiwa penyelamatan Tuhan - dsb -dst. Dan keceriaan jadi sungguh nampak selama perjamuan suka cita, kasih merebak, syukur membumbung - bla-bla-bla

Lantas siapa pula yang bisa mengubah air got (koeli) menjadi anggur (sahabat) ? Sudah tentu yang bersangkutan, tapi tidak kurang perannya juga sang paduka pastoor. Kalau pastor semangat mengadakan ongoing education, peningkatan pemahaman umat, maka mestinya hasil efektif lebih cepat kelihatan ketimbang bete memasang penghalang didepan pintu.

Kalau tuan pastoor merasa sudah sibuk sana-sini, bahwa bebannya berat sarat - dsb lalu ambil cara gampang potong kompas membuang semua kursi plastik demi mencegah orang duduk obrol diluar - maka meneer pastor lupa tugas utamanya.

Lupa bahwa dia wajib membangun Gereja (iyaitu umah sekalian) lebih dari gereja (yakni gedung mati).

Disurga sukacita membahana manakala salah satu domba sesat kembali kefitrahnya yaitu anak - dan bukan saat gedung gereja (yang besok bisa musnah begitu saja ) diperbaharui, diupgrade, dibangun.

May 4, 2003

skandal lepas jubah

Sekurang2nya kaum protestan tidak pusing dengan kehidupan **eros** pendetanya. Bagi banyak orang katolik kaum klerus yang lepas jubah llau menikah adalah skandal. Hanya saja terasa nuansa double standard disini sebab suster yang keluar dengan pastor yang lepas jubah dipandang berbeda suster yang lepas jubah kerap dianggap tidak tahan dorongan hormonal dari daerah sekitar pinggang sementara pastor yang **pamit** dianggap karena ada wanita yang meruntuhkan kaulnya.

In either case yang salah adalah kaum perempuan dan yang sering muncul adalah komentar **kolot** begini: gembala itu sudah sedikit, mbok ya o jangan dikurangi dengan menggoda pastor-pastor. Terasa macam ekspresi orang putus asa yang bergantung erat pada kaum klerus dibalik ini ada paham bahwa awam adalah dasar hirarki, kaum pariah yang perlu digembalakan kesana kemari bak biri-biri sekurang2nya kaum protestan tidak akan cengeng begini (dan bila perlu bikin gereja..he..he..kidiing)

Tapi dimajalah HIDUP dan satu milis saya baca tekanan berat dipihak kaum lepas jubah ini mereka merasa diri bak orang kusta yang disingkirkan dari masyarakat Katolik Padahal **dosa** mereka **cuma** salah dengar saja Kalau menjadi kaum berjubah karena panggilan adalah yang tidak cocok dan lepas jubah berate salah dengar bukan tidak lebih dan tidak kurang. Tapi dimata orang Katolik mereka adalah skandal. Terasa dibalik naluri adalah pandangan bahwa **eros** itu rendah sehingga orang yang bertekuk lutut oleh erost tidak patut dan dipandang sebelah mata. Padahal apatah dosa mereka sehingga mereka diperlakukan minor begini?

Lepas jubah saja sudah berat masih ditambah lagi dengan tajamnya pandangan kaum yang diajar berdoa begini: ...seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami....

Tuhan kiranya lebih mengampuni daripada kita semua dan lagi-lagi kaum protestan boleh mengucapkan bait doa itu dengan lebih khusuk

Jun 21, 2003