Wednesday, September 9, 2009

Pewartaan Tanpa kata-kata?

Apakah Allah akan diwartakan secara berbeda jika orang dilarang menggunakan kata-kata ? Mungkinkah membagikan pengalaman akan Allah melulu dengan perbuatan ? Ingatlah saya akan tuduhan yang diarahkan pada Yesus yang dikatakan telah mengusir setan dengan kuasa kegelapan. Sudah tentu hal ini tidak logis kata Yesus, sebab iblis tidak mungkin melawan iblis. Oh tentu saja, kalau iblis main fair play – kalau iblis curang dengan bersedia rugi dulu (dengan cara mengorbankan pion iblis) untuk beruntung dibelakang hari – lalu bagaimana ? Sudah tentu tidak ada yang bisa kita tanyai soal ini

Kembali ke topik kita : Mungkin kah membagikan pengalaman akan Allah melulu dengan perbuatan? Bisa saja, tetapi Allah yang disimpulkan oleh mereka yang mengalami perbuatan kita belum tentu sama dengan Allah yang hendak kita wartakan.

Sebagai makhluk yang dikutuk untuk selalu mencari makna akan segala hal yang terjadi kita akan tergoda untuk mencantelkan makna dan makna adalah kata-kata. Ingat pula bahwa kita tidak menilai dunia dengan lensa yang jernih. Kita mulai dengan asumsi dan syak wasangka.

Misal Beata Teresa dari Kalkuta. Dia menyentuh yang dibuang orang, merawat yang disepak masyarakat. Jika ia tidak memakai baju susternya, tidak pernah terlihat berdoa, tidak sowan ke Vatikan – apakah orang akan sampai pada Tuhan Yesus ? saya ragu. Paling-paling orang akan menyimpulkan Beata Teresa sebagai seorang yang baik. Orang memang bisa bertanya : dari mana dia punya semangat yang luar biasa ini ? Nah – disini kata-kata terpaksa diucapkan. Kecuali jika orang hendak dibiarkan untuk mengambil kesimpulannya sendiri-sendiri

Gereja katolik konon disebut mater et magistra (ibu dan guru). Sebagai guru ia adalah penerjemah tunggal perihal wahyu Ilahi. Dan Ia berbuat  demikian lebih-lebih dengan kata-kata. Gereja Katolik bukan macam guru senam yang berdiri didepan memberi contoh gerekan aerobik, ia lebih macam komentator yang menterjemahkan makna lukisan abstrak. Dan hanya ada satu terjemahan yang benar atas lukisan abstrak tadi. Pengalaman akan Allah oleh gereja diterangkan, dijabarkan, diberi ilustrasi dengan kata-kata.

Yang kerap terjadi saya kira adalah orang lebih sibuk dengan kata-kata. Orang berdebat, berpolemik dan menghabiskan banyak waktu dan energi demi kata-kata (termasuk blog ini). Apa boleh buat, orang ingin menjamin bahwa interpretasi sebuah peristiwa tidak sesat. Supaya tidak terjadi macam peristiwa gugatan lawan-lawan Yesus.

Andaikan kesibukan akan kata-kata ini boleh kita hentikan. Andaikan ada masa puasa berkata-kata. Andai pewarta itu lebih-lebih berarti orang yang berbuat. Mestinya dunia akan lebih indah lagi bagi saya dan anda. Karena perbuatan ternyata lebih mudah dipahami daripada kata-kata. Karena action speaks louder than words

Restless Till We Rest in You

St Agustinus yang kudus kita kutip berkata bijak “Restless Till We Rest in You”. Orang beragama menyatakan bahwa entah bagaimana dalam hati manusia ada kerinduan yang dalam dan ia hanya bisa teduh setelah berjumpa dengan dengan Sang Agung. Apapun namanya.

Maka orang beragama kiranya meyakini bahwa orang Atheis dan Agnotis akan selalu gelisah dan disaat terpojok mereka akan serta merta mencari perlindungan. Ungkapan yang kita dengar adalah “There are no atheists in foxholes” (terjemahan bebas: tidak ada yang kuasa tetap menjadi atheis saat ia berlindung dari desingan hujan peluru)

Mungkin benang merahnya demikian : disatu sisi Allah adalah kerinduan, disisi lain Ia adalah kebutuhan mutlak. Kalau kita ingat (lagi-lagi) Maslow sepertinya kedua hal ini adalah bagian continuum dari hirarki kebutuhan. Allah adalah kebutuhan mutlak yang dalam tingkat tinggi menjadi kerinduan.

Allah yang sebagai kebutuhan adalah Allah yang kita minta memenuhi keperluan sehari-hari, kelulusan ujian, kesembuhan penyakit, enteng jodoh dan menang undian. IA bak ATM yang provided kita tahu passwordnya (doanya bener, sajennya pas, puasanya penuh) akan serta merta memberi kita apa yang kita mau. Dan kita tentu percaya Dia Maha Kaya dan Maha Pengasih. Ia memberi hidup dan ia mengasihi umat (baca : mereka yang memeluk agama saya saja) dengan teristimewa. Haleluya !

Dalam level yang lebih canggih Ia menjadi kerinduan. Dalam level itu kita kurang peduli lagi dengan hal-hal material, maklumlah kita mencari yang hakiki. Yang esensi. Anehnya dalam dimensi ini Allah yang tegas sosoknya dalam paradigma Allah sebagai kebutuhan kerap menjadi
sebuah misteri. Santo Yohanes dari salib yang juga kudus mengatakan bahwa Allah itu macam malam gelap. Mungkin sedemikian gelap sehingga kita tidak bisa melihat jari kita sendiri. Jari yang sebelumnya kita gunakan untuk menunjuk itu Allah kebutuhan yang jelas terang benderang.

Seorang Aquinas yang tidak kurang pula kudusnya memutuskan berhenti menulis. Opus Magnumnya (Summa Theologia) konon tidak tuntas selesai. Mendadak saja ia memutuskan untuk berhenti menulis. Orang bilang ia melihat buku tebal yang kini jadi panutan banyak teolog adalah macam jerami belaka. Tentang Allah kita tidak tahu apa-apa. Orang yang berkata tentang Allah tidak tahu siapa Allah. Orang yang tahu Allah tidak berkata-kata.

Lantas siapa itu yang didamba Santu Agustinus sebagai kerinduan hatinya ? Siapa itu yang digambarkan Santu Yohanis dari salib ? Mungkin orang yang telah menemukan tidak kuasa lagi memerikan nya. Dan sebaliknya mereka yang belum berjumpa justru sibuk berkelahi tentang hal yang masih berupa angan-angan belaka. Angan-angan mu tentulah salah, karena tidak sama dengan angan-anganku ! Allah itu seperti ini dan sama sekali tidak seperti itu!

Cerita de Mello : seorang yang bepergian jauh ditanya apa yang ia lihat dinegeri yang jauh. Orang itu menjawab : oh saya melihat taman yang indah. Bagaimana rupanya ? Bunga apa ditanam disana ? Orang itu menjawab lagi : saya tidak sempat memperhatikan ini atau itu – saya mengalami keteduhan yang amat sangat.

Pengalaman akan Allah yang sungguh kiranya melebihi kemampuan bahasa untuk memerikannya. Allah yang diperikan dalam kata apakah sungguh Allah ? (sibodoh sibuk melihat jari yang menunjuk pada bulan – dan melupakan bahwa itu bukan bulan)

KL 08 Sep 09

Thursday, September 3, 2009

blurr

Kalau benar bahwa kitab suci itu sungguh ditulis dua kali : yang pertama tidak menggunakan abjad apapun - karena ia berupa alam semesta raya (yang kedua : kita sudah tahu semua, berupa buku dari jaman kuna yang memuat cerita Allah yang personal). Apakah ke-2 kitab suci ini bicara hal yang sama ? Apakah dari alam kita bisa menemukan Tuhan personal? Tuhan yang cemburu, yang marah dan yang mengasihi ? yang menggugat dosa dan menjawab doa.

Tuhan personal terutama kita jumpai dalam agama samawi (judaisme, kristiantias dan islam). Agama-2 ini meyakini bahwa ada kalanya dimasa lampau Tuhan "berbicara" dengan manusia. Paling tidak begitulah kita baca dalam kitab suci. Apakah mungkin ini cuma simbolisme belaka ? Bukan wewenang saya untuk menjawab - tetapi sebentar kita amini saja bahwa - somehow - begitulah yang terjadi - bahwa Allah berinteraksi secara eksplisit dengan manusia. Eksplisit dalam arti - tidak diragukan bahwa yang diseberang sana itu (kalau dianalogikan manusia sedang bicara lewat telpon) adalah Allah dan bukan pihak lain.

Saya tidak pernah tidak bicara dengan manusia sehingga belum dapat saya bayangkan bagaimana kalau saya dapat berwawancara dengan makhluk lain (apalagi Tuhan). Tetapi untuk melanjutkan diskursus kali mari telaah obrolan dengan sesama manusia tetapi dari lain budaya. Yang kerap terjadi kiranya adalah terutama dua hal prasangka dan "lost in translation". Prasangka karena : saya tidak paham persis sistem makna kawan bicara - apakah bicara keras itu sopan ? atau harus bicara lembut-2 saja ? Bagaimana saya menerka sistem makna lawan bicara kalau saya belum pernah berjumpa sebelumnya dengan yang serupa dengan dia ? Hal lain adalah : lost in translation. Segenap naskah terjemahan boleh dibilang macam penghianatan pada teks asli. Apa boleh buat - setiap bahasa punya cara khas untuk mendeskripsikan sebuah gejala. Misal : Nasi, beras dan padi adalah rice. Maka untuk menterjemahkan "rice" perlu dilihat konteks dan konteks adalah sistem makna yang juga tidak semudah membalik tangan untuk memahaminya

Lalu bagaimana kasus pembicaraan dengan Tuhan ? Sudah tentu agama-agama mendaku (to claim) bahwa hal ini sungguh terjadi dan tidak hendak saya debat iman mereka. Hanya saja ini sungguh merupakan lompatan yang luar biasa. Sama sekali tidak intuitif. Dari alam paling-paling kita bisa sampai pada pemahaman macam: bagaimana manusia ini kecil, bahwa keteraturan alam sungguh menakjubkan, dsb - tetapi dari titik itu ke pemahaman akan Tuhan personal adalah -lagi-lagi- a leap of faith.

Baik kita kembali ke pertanyaan semula: dari alam, apakah kita bisa menemukan Tuhan personal? Kira saya - saya akan menjawab - tidak. Karena saat kita memaknai sesuatu kita berangkat dari sistem makna kita. Sistem makna kita adalah kaca mata kita - sebuah benda menjadi hijau jika ia hijau tetapi juga kalau kaca mata kita hijau. Dan jika kaca mata kita lekat dilensa mata maka kita tidak tahu lagi apa ia sungguh hijau atau karena mata kita diset untuk melihat segala sesuatu sebagai hijau

Interpretasi akan alam pun bisa macam-macam, tergantung kaca mata kita. Alam bisa dipahami sebagai materi dan energi - dan tidak lebih dari itu. Atau ia diber persona (dewa hujan, dsb). Mana yang benar ? Tidak bisa dijawab dengan mudah kecuali disepakati dulu asumsi-asumsi yang kadang tersembunyi.

Maka Galileo dan Darwin menjadi skandal manakala mereka dikatakan mencampakan manusia dan bumi dari tempat terhormat (pusat semesta dan citra Allah) ketempat banal (bagian renik semesta dan hasil evolusi buta). Tetapi mereka sebenarnya cuma menunjukan interpretasi lain dari kenyataan yang sama.

Mungkin orang beragama tidak suka jika agamanya dikatakan sebagai interpretasi semata. Agama saya tentu yang paling benar! Tetapi tidak boleh mereka lupakan adalah - apakah saya tahu saya bisa menemukan kebenaran ? Tidakkah mungkin bahwa yang terjadi adalah saya meneguhkan interpretasi saya dengan melulu melihat segala sesuatu dengan kaca mata saya. Lain kaca mata adalah tidak mungkin.Dan karena hanya mungkin ada satu kacamata yang benar - kita berkelahi demi interpretasi. Ironis.

Wednesday, September 2, 2009

leap of faith

Kata Maslow ada yang disebut "hirarki kebutuhan". Dari yang paling dasar (survival, biologik) sampai yang abstrak (aktualisasi diri). Kira saya Maslow mengandaikan juga (entah lah - saya pun belum membaca detail thesis dia) - pada kebutuhan yang sama bisa ditempelkan label yang berbeda. Misal : memasak bisa dimaknai bagian dari hal dasar (untuk makan) atau aktualisasi diri (koki terkenal).

Pada kerangka Maslow ini kita bisa pertanyakan : lalu bagaimana dengan agama ? Apakah pada agama bisa pula ditempelkan label "survival" atau "aktualiasasi diri" ? Sepintas bisa kita setujui thesis ini. Jika agama dialami sebagai bagian dari identitas sosial (orang sekampung agama sama semua, masak saya tidak?), atau demi keamanan (pemerintah hanya mengakui agama A,B,C,D,E dan lain tidak) maka agama direduksi jadi ritus yang mestinya tidak mendalam, tidak mendarah daging. Macam sampiran yang bisa dilepas mana kala angin bertiup kearah yang berlawanan.

Harap ingat bahwa kita semua mestinya mulai dengan level ini. Waktu kita kecil agama disandangkan begitu saja pada diri kita. Kita yang dibaptis waktu bayi tidak punya pemahaman lebih dari sekadar hadir dan kena ciptratan air dingin. Ritus tidak berarti apa-apa selain keramaian yang samar-samar kita ingat.

Terpulang pada kita masing-masing untuk menaikan level agama dalam hirarki kebutuhan kita. Sebagian mungkin memilih menyibukkan diri dengan hal-hal dalam hidup dan membiarkan agama tetap pada tingkatan dasar. Yang lain mungkin serius dan mencoba memahami lebih jauh dan lebih dalam. Tetapi -apapun pilihan kita- yang kerap terjadi adalah kita tetap tinggal dalam asumsi yang tidak kita pertanyakan lagi: bahwa beragama itu perlu - bahwa keadaan "tanpa agama" adalah sebuah pilihan pula.

Dawkins saya kira menulis ini dalam best seller nya "God Delusion" - Atheisme adalah sebuah pilihan pula dan adalah pilihan yang valid. Tetapi disisi lain - Atheisme mengandaikan sebuah kesibukan intelektual pula - karena ia mengandaikan kita tahu bahwa sesuatu itu tidak ada. Tetapi siapa boleh memberi kepastian ini tanpa sepotong pun keraguan ? Jika Allah tidak ada karena doa saya tidak terkabul maka semua orang beragama dengan cepat dapat memberi argumen balasan atas nama Allah.

Kiranya yang jadi soal adalah Allah (entah ada atau tidak) berada dalam dimensi yang lain dengan kita. Segenap diskursus tentang Allah bisa dikategorikan sebagai monolog semata. Entah ada atau tidak -tidak bisa dibuktikan dengan eskperimen atau logika (kitab suci jelas out of question karena ia tidak mungkin menegasi keberadaan dirinya sendiri - tanpa Allah kitab suci jelas tidak mungkin). Tidak bisa kita adakan eksperimen (entah dengan laboratorium atau logika) yang hasilnya entah menguatkan atau menegasi Allah. Kira saya semua pembuktian atau negasi selalu mulai dengan kesimpulan (either Allah ada atau tidak) yang sebenarnya mau dibuktikan.

Pilihan yang kerap diambil mungkin adalah agnotisisme yang rada malas. Allah ada atau tidak - entahlah, agnotis tidak merasa bahwa hal ini bisa dibuktikan atau dinegasikan. Lebih sering lagi orang tidak peduli - dalam tingkah polahnya dia menganggap bahwa hidup itu cuma kini dan disini. tetapi hidup yang tidak kini dan disini memang hal yang dibahas agama. Agama A mengatakan hidup setelah kematian adalah pengadilan. Agama B bilang hidup adalah siklik yang tidak ada habisnya kecuali engkau melompat keluar lingkaran.

Klaim A atau B jelas diluar domain pengamatan sehari-hari kita. Maka dalam agama ada hal yang disebut iman dan iman adalah sebuah lompatan tanpa bukti. Kalaupun ada bukti tetap merupakan bagian dari kesimpulan yang sebenarnya mau dibuktikan. Pengandaian terbesar dari segenap lompatan iman ini kiranya adalah bahwa dunia ini lebih luas dari apa yang nampak dimata, lebih jauh dari seupil pengalaman kita sehari-hari.

Entah kita putuskan untuk melompat atau tidak tetap ada kenyataan hidup sehari-hari yang kita perlu sikapi. Dan entah manapun pilihan anda: entah agama A atau B, entah atheis atau agnostik: memilih perdamaian dan kesejahteraan bersama adalah jelas pilihan yang paling waras. Entah ada atau tidak hidup diseberang nanti, hidup yang sekarang ini lebih indah kalau kita jalani dalam kedamaian

KL 02 Sep 2009

Friday, July 17, 2009

soal doa

Mengomentari peristiwa bom di Jakarta hari ini seorang teman menulis: "Mari kita satukan doa biarlah kasih setia Allah Bapa melindungi dan menyelamatkan negeri kita". Ucapan yang baik maksudnya - tetapi tidak urung membuat saya bertanya : apa persisnya fungsi doa itu sesungguhnya ?

Konon ada tiga persepsi keliru tentang doa:
1): "Tuhan tidak campur tangan dalam kejadian di dunia ini."
2): "Semua sudah diatur dan ditakdirkan Tuhan, sehingga berdoa tidak mengubah apapun."
3): "Berdoa dapat mengubah keputusan Tuhan."

Alih-alih, doa adalah ".. ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan". Mungkin terlalu sederhana jika hal ini kita katakan dihadapan peristiwa bom ini. Seolah kita tidak punya perasaan, dingin dan mati rasa.

Jika memang doa tidak mengubahkan apa-apa (keliru no.2) maka doa yang berisi harapan manusiawi malah bisa membuat kita kecewa pada Tuhan (yang tidak bisa kita perintah/bujuk semau kita - hence keliru no.3). Tetapi disisi lain - tidak berdoa dan tidak berharap pun dibilang keliru (no.1). Alhasil disimpulkan : doa itu macam sebuah gumaman. Entah susah atau senang.

Jika memang demikian - mungkin lebih positif jika doa diganti meditasi. Meditasi diantaranya membuat kita lebih teduh dan tenang. Dan dalam peristiwa macam bom tadi - ketenangan diri jelas positif dalam menyelesaikan masalah. Meditasi boleh disatukan dengan 'gumaman' itu tadi atau 'sekuler' (olah nafas) - kiranya hasilnya akan sama

Apakah Tuhan menjadi marah kalau kita ganti doa dengan meditasi sekular ini ? I doubt it. Aku yakin Dia Maha Bijak untuk menjadi marah dan merajuk



Thursday, July 9, 2009

Salib Seneca

Katanya Seneca pernah berkata : "suffering may hurt, but it is not an evil". Buku yang tengah saya baca menyambung: it is not an evil when, unable to avoid it, we turn it to profit to learn and to change.

Prinsipnya kiranya - suffering bukan untuk dipeluk, digendong, dibawa-bawa, tetapi digunakan sebagai sarana untuk belajar dan berubah. Pada dirinya sendiri suffering tidak ada nilainya. Ia menjadi bernilai jika ia kita pahami apa adanya dan kita jadikan papan tolak untuk melompat lebih tinggi lagi.

Terbersit dibenak saya bagaimana ucapan Yesus soal keharusan pengikutNya untuk meminggul salib dan mengikuti Dia. Lantas dipahami sebagai ajakan memanggul derita. Karena dalam salib Yesus menderita. Dalam terang paragraf diatas pemahaman salib sebagai derita (yang dipanggul dan dibawa-bawa dengan sabar dan setia) kok jadi aneh.

Saya cenderung mengikuti Groenen OFM memahami salib - bahwa salib disana lebih tepat dipahami sebagai kayu palang yang digotong prajurit Roma yang mau perang. Alhasil Yesus mengajak kita untuk mengikuti Dia macam prajurit yang siap tempur. It has nothing to do with carrying our suffering where ever we roam.

Yesus memang memanggul salib, tetapi aku ragu kalau kita
pengikutNya hanya berhenti disana. Tujuan akhir adalah kebangkitan. Bukan salib itu sendiri. Dan derita -pada dirinya sendiri- tidak punya banyak nilai. Ia baru punya nilai kalau ia membuat kita belajar - berubah dan menjadi baru.


Thursday, July 2, 2009

it's only rock 'n roll

Dari yang aku baca - Budhisme adalah soalan melihat segala sesuatu seperti apa adanya. Misal secangkir teh adalah -pada dasarnya- rendaman daun layu. Mungkin terdengar rada sinis bagi mereka penggemar teh - lantaran bagi yang tahu, ada berbagai jenis teh dengan khasiat yang konon bukan main-main. Namun lepas dari itu teh adalah tetap teh, rendaman daun layu.

Mungkin 'sinisme' boleh dipinjam sebentar supaya kita bisa 'lebih netral', lebih 'lepas'.
Ibarat juri yang mestinya netral, kita bisa lebih melihat lebih lengkap, lebih menyeluruh dan akhirnya sampai menemukan 'yang sebenarnya'. Setelah menemukan apa adanya - sang juri bisa memutuskan apa yang harus dibuat terhadap pilihan-pilihan yang tersedia. Mana yang lebih baik, mana yang kurang bagus dan mana yang mesti ditinggalkan.

Sebelum kita bisa 'netral' pada dasarnya kita terikat. Attached. Kita yang terikat menjadi -pada dasarnya- buta. Melihat apa yang tidak ada disana, dan buta terdapat apa yang sesungguhnya didepan mata kita. Dalam bahasa de Mello : kita tertidur (side note: jebul de Mello ini terdengar lebih Buddhis dibanding Katolik. Tidak heran kalau Vatikan gerah sama dia)

Kita yang tertidur menjadi tidak lagi kritis, kita diombang-ambing, dipengaruhi gejolak dunia seputar kita. Kita menelan saja tradisi, kebiasaan, budaya begitu saja. Tidak lalu berarti kita disuruh jadi pemberontak. Tetapi sekadar berani melihat ulang - melihat apa adanya. Tanpa terikat, tanpa tekanan. Lihat dan temukan.

Aku jadi ingat lagu banal kelompok gaek Rolling Stones: It's Only Rock 'n Roll (but I Like It). Jagger yang dower bernyanyi: I know it's only rock 'n roll but I like it. Lirik lagunya cerita soal cinta monyet yang basi. Soal bagaimana memikat gadis idaman. Apakah kalau aku menangis si gadis jadi jatuh hati? Apakah kalau aku ungkapkan rasa dia akan terpikat? Ribet. Tapi disatu bait dengan bijak sipemuda berujar: I bet you think that you're the only woman in town, oh yeah.

Dan persis disana soalnya - dengan berkata demikian sipemuda 'terbangun'. You are not the only girl around. So what gitu loh. Dan ia menjadi bebas untuk main musik. I know it's only rock 'n roll but I like it.

oh yeah I like it