Wednesday, September 2, 2009

leap of faith

Kata Maslow ada yang disebut "hirarki kebutuhan". Dari yang paling dasar (survival, biologik) sampai yang abstrak (aktualisasi diri). Kira saya Maslow mengandaikan juga (entah lah - saya pun belum membaca detail thesis dia) - pada kebutuhan yang sama bisa ditempelkan label yang berbeda. Misal : memasak bisa dimaknai bagian dari hal dasar (untuk makan) atau aktualisasi diri (koki terkenal).

Pada kerangka Maslow ini kita bisa pertanyakan : lalu bagaimana dengan agama ? Apakah pada agama bisa pula ditempelkan label "survival" atau "aktualiasasi diri" ? Sepintas bisa kita setujui thesis ini. Jika agama dialami sebagai bagian dari identitas sosial (orang sekampung agama sama semua, masak saya tidak?), atau demi keamanan (pemerintah hanya mengakui agama A,B,C,D,E dan lain tidak) maka agama direduksi jadi ritus yang mestinya tidak mendalam, tidak mendarah daging. Macam sampiran yang bisa dilepas mana kala angin bertiup kearah yang berlawanan.

Harap ingat bahwa kita semua mestinya mulai dengan level ini. Waktu kita kecil agama disandangkan begitu saja pada diri kita. Kita yang dibaptis waktu bayi tidak punya pemahaman lebih dari sekadar hadir dan kena ciptratan air dingin. Ritus tidak berarti apa-apa selain keramaian yang samar-samar kita ingat.

Terpulang pada kita masing-masing untuk menaikan level agama dalam hirarki kebutuhan kita. Sebagian mungkin memilih menyibukkan diri dengan hal-hal dalam hidup dan membiarkan agama tetap pada tingkatan dasar. Yang lain mungkin serius dan mencoba memahami lebih jauh dan lebih dalam. Tetapi -apapun pilihan kita- yang kerap terjadi adalah kita tetap tinggal dalam asumsi yang tidak kita pertanyakan lagi: bahwa beragama itu perlu - bahwa keadaan "tanpa agama" adalah sebuah pilihan pula.

Dawkins saya kira menulis ini dalam best seller nya "God Delusion" - Atheisme adalah sebuah pilihan pula dan adalah pilihan yang valid. Tetapi disisi lain - Atheisme mengandaikan sebuah kesibukan intelektual pula - karena ia mengandaikan kita tahu bahwa sesuatu itu tidak ada. Tetapi siapa boleh memberi kepastian ini tanpa sepotong pun keraguan ? Jika Allah tidak ada karena doa saya tidak terkabul maka semua orang beragama dengan cepat dapat memberi argumen balasan atas nama Allah.

Kiranya yang jadi soal adalah Allah (entah ada atau tidak) berada dalam dimensi yang lain dengan kita. Segenap diskursus tentang Allah bisa dikategorikan sebagai monolog semata. Entah ada atau tidak -tidak bisa dibuktikan dengan eskperimen atau logika (kitab suci jelas out of question karena ia tidak mungkin menegasi keberadaan dirinya sendiri - tanpa Allah kitab suci jelas tidak mungkin). Tidak bisa kita adakan eksperimen (entah dengan laboratorium atau logika) yang hasilnya entah menguatkan atau menegasi Allah. Kira saya semua pembuktian atau negasi selalu mulai dengan kesimpulan (either Allah ada atau tidak) yang sebenarnya mau dibuktikan.

Pilihan yang kerap diambil mungkin adalah agnotisisme yang rada malas. Allah ada atau tidak - entahlah, agnotis tidak merasa bahwa hal ini bisa dibuktikan atau dinegasikan. Lebih sering lagi orang tidak peduli - dalam tingkah polahnya dia menganggap bahwa hidup itu cuma kini dan disini. tetapi hidup yang tidak kini dan disini memang hal yang dibahas agama. Agama A mengatakan hidup setelah kematian adalah pengadilan. Agama B bilang hidup adalah siklik yang tidak ada habisnya kecuali engkau melompat keluar lingkaran.

Klaim A atau B jelas diluar domain pengamatan sehari-hari kita. Maka dalam agama ada hal yang disebut iman dan iman adalah sebuah lompatan tanpa bukti. Kalaupun ada bukti tetap merupakan bagian dari kesimpulan yang sebenarnya mau dibuktikan. Pengandaian terbesar dari segenap lompatan iman ini kiranya adalah bahwa dunia ini lebih luas dari apa yang nampak dimata, lebih jauh dari seupil pengalaman kita sehari-hari.

Entah kita putuskan untuk melompat atau tidak tetap ada kenyataan hidup sehari-hari yang kita perlu sikapi. Dan entah manapun pilihan anda: entah agama A atau B, entah atheis atau agnostik: memilih perdamaian dan kesejahteraan bersama adalah jelas pilihan yang paling waras. Entah ada atau tidak hidup diseberang nanti, hidup yang sekarang ini lebih indah kalau kita jalani dalam kedamaian

KL 02 Sep 2009

Friday, July 17, 2009

soal doa

Mengomentari peristiwa bom di Jakarta hari ini seorang teman menulis: "Mari kita satukan doa biarlah kasih setia Allah Bapa melindungi dan menyelamatkan negeri kita". Ucapan yang baik maksudnya - tetapi tidak urung membuat saya bertanya : apa persisnya fungsi doa itu sesungguhnya ?

Konon ada tiga persepsi keliru tentang doa:
1): "Tuhan tidak campur tangan dalam kejadian di dunia ini."
2): "Semua sudah diatur dan ditakdirkan Tuhan, sehingga berdoa tidak mengubah apapun."
3): "Berdoa dapat mengubah keputusan Tuhan."

Alih-alih, doa adalah ".. ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan". Mungkin terlalu sederhana jika hal ini kita katakan dihadapan peristiwa bom ini. Seolah kita tidak punya perasaan, dingin dan mati rasa.

Jika memang doa tidak mengubahkan apa-apa (keliru no.2) maka doa yang berisi harapan manusiawi malah bisa membuat kita kecewa pada Tuhan (yang tidak bisa kita perintah/bujuk semau kita - hence keliru no.3). Tetapi disisi lain - tidak berdoa dan tidak berharap pun dibilang keliru (no.1). Alhasil disimpulkan : doa itu macam sebuah gumaman. Entah susah atau senang.

Jika memang demikian - mungkin lebih positif jika doa diganti meditasi. Meditasi diantaranya membuat kita lebih teduh dan tenang. Dan dalam peristiwa macam bom tadi - ketenangan diri jelas positif dalam menyelesaikan masalah. Meditasi boleh disatukan dengan 'gumaman' itu tadi atau 'sekuler' (olah nafas) - kiranya hasilnya akan sama

Apakah Tuhan menjadi marah kalau kita ganti doa dengan meditasi sekular ini ? I doubt it. Aku yakin Dia Maha Bijak untuk menjadi marah dan merajuk



Thursday, July 9, 2009

Salib Seneca

Katanya Seneca pernah berkata : "suffering may hurt, but it is not an evil". Buku yang tengah saya baca menyambung: it is not an evil when, unable to avoid it, we turn it to profit to learn and to change.

Prinsipnya kiranya - suffering bukan untuk dipeluk, digendong, dibawa-bawa, tetapi digunakan sebagai sarana untuk belajar dan berubah. Pada dirinya sendiri suffering tidak ada nilainya. Ia menjadi bernilai jika ia kita pahami apa adanya dan kita jadikan papan tolak untuk melompat lebih tinggi lagi.

Terbersit dibenak saya bagaimana ucapan Yesus soal keharusan pengikutNya untuk meminggul salib dan mengikuti Dia. Lantas dipahami sebagai ajakan memanggul derita. Karena dalam salib Yesus menderita. Dalam terang paragraf diatas pemahaman salib sebagai derita (yang dipanggul dan dibawa-bawa dengan sabar dan setia) kok jadi aneh.

Saya cenderung mengikuti Groenen OFM memahami salib - bahwa salib disana lebih tepat dipahami sebagai kayu palang yang digotong prajurit Roma yang mau perang. Alhasil Yesus mengajak kita untuk mengikuti Dia macam prajurit yang siap tempur. It has nothing to do with carrying our suffering where ever we roam.

Yesus memang memanggul salib, tetapi aku ragu kalau kita
pengikutNya hanya berhenti disana. Tujuan akhir adalah kebangkitan. Bukan salib itu sendiri. Dan derita -pada dirinya sendiri- tidak punya banyak nilai. Ia baru punya nilai kalau ia membuat kita belajar - berubah dan menjadi baru.


Thursday, July 2, 2009

it's only rock 'n roll

Dari yang aku baca - Budhisme adalah soalan melihat segala sesuatu seperti apa adanya. Misal secangkir teh adalah -pada dasarnya- rendaman daun layu. Mungkin terdengar rada sinis bagi mereka penggemar teh - lantaran bagi yang tahu, ada berbagai jenis teh dengan khasiat yang konon bukan main-main. Namun lepas dari itu teh adalah tetap teh, rendaman daun layu.

Mungkin 'sinisme' boleh dipinjam sebentar supaya kita bisa 'lebih netral', lebih 'lepas'.
Ibarat juri yang mestinya netral, kita bisa lebih melihat lebih lengkap, lebih menyeluruh dan akhirnya sampai menemukan 'yang sebenarnya'. Setelah menemukan apa adanya - sang juri bisa memutuskan apa yang harus dibuat terhadap pilihan-pilihan yang tersedia. Mana yang lebih baik, mana yang kurang bagus dan mana yang mesti ditinggalkan.

Sebelum kita bisa 'netral' pada dasarnya kita terikat. Attached. Kita yang terikat menjadi -pada dasarnya- buta. Melihat apa yang tidak ada disana, dan buta terdapat apa yang sesungguhnya didepan mata kita. Dalam bahasa de Mello : kita tertidur (side note: jebul de Mello ini terdengar lebih Buddhis dibanding Katolik. Tidak heran kalau Vatikan gerah sama dia)

Kita yang tertidur menjadi tidak lagi kritis, kita diombang-ambing, dipengaruhi gejolak dunia seputar kita. Kita menelan saja tradisi, kebiasaan, budaya begitu saja. Tidak lalu berarti kita disuruh jadi pemberontak. Tetapi sekadar berani melihat ulang - melihat apa adanya. Tanpa terikat, tanpa tekanan. Lihat dan temukan.

Aku jadi ingat lagu banal kelompok gaek Rolling Stones: It's Only Rock 'n Roll (but I Like It). Jagger yang dower bernyanyi: I know it's only rock 'n roll but I like it. Lirik lagunya cerita soal cinta monyet yang basi. Soal bagaimana memikat gadis idaman. Apakah kalau aku menangis si gadis jadi jatuh hati? Apakah kalau aku ungkapkan rasa dia akan terpikat? Ribet. Tapi disatu bait dengan bijak sipemuda berujar: I bet you think that you're the only woman in town, oh yeah.

Dan persis disana soalnya - dengan berkata demikian sipemuda 'terbangun'. You are not the only girl around. So what gitu loh. Dan ia menjadi bebas untuk main musik. I know it's only rock 'n roll but I like it.

oh yeah I like it




Friday, June 26, 2009

Wacko Jacko Sio-sio

Pagi ini aku dengar Jacko tutup usia. Konon 2 bulan kurang dari genap usia 51 tahun. Di CNN kudengar komentar yang bagus tetang kariernya. Jacko ini nampak dewasa sekali manakala ia meraih sukses luar biasa lewat album Thrilernya, tetapi belakangan ia nampak makin tua makin kekanak-kanakan (apalagi setelah operasi plastik yang over-dosis itu).
Rupa-rupanya puncak itu cuma satu kali. Setelah lewat orang harus berpisah dan dengan rela melangkah kedepan. Come-back adalah pengecualian.
Lihat saja-sebagai misal- karier anggota the Beatles. Setelah Beatles pecah -secara individual- mereka tidak sampai bisa meraih kesuksesan masa lalu mereka bersama. Aquinas tidak selesai menulis bagian ke-3 dari Summa-nya. Kukira Einstein pun meninggal tanpa lengkap merampungkan teori yang ia mulai. Manusia mungkin macam bunga dipadang yang hari ini mekar esok layu dan lusa mati. C'est la vie. Dan dengan rada sinis pengkhotbah menulis: "kemudaan dan hidup adalah sia-sia" (Pkh 11:10)
Mungkin Pengkotbah memang sinis (coba saja hitung kata-kata "sia-sia" dalam kitabnya). Tetapi kurasa ia mau mengajarkan bahwa hidup adalah seni menggenggam sementara dan melepaskan jika waktunya telah tiba. Semua adalah kesementaraan belaka. Masa muda harus dilepaskan, masa tua harus dijelang dan diterima. Kesuksesan dan puncak boleh dinikmati, tetapi tidak bisa digenggam erat seolah itu bisa jadi milik kita yang abadi.
Hidup adalah aliran dan sia-sia jika kita mau berhenti disatu titik. Perhentian dialami saat badan membusuk. Dan hendak berhenti ditengah jalan adalah tindakan pembusukan yang futile dan self-destructive.

reunion

Setelah 24 tahun aku bertemu kembali dengan wajah dan cerita masa SMA - well dengan update disana-sini, tetapi wajah-wajah masih wajah lama. Cuma sudah tentu dengan jejak waktu disana-sini. Kerut-2 dimata, rambut memutih atau menipis. Pendeknya - 24 tahun tidak bisa dibohongi begitu saja.
Tentang teman-2 wanita aku dengar komentar teman-2 laki sbb: mereka berupaya untuk tetap nampak muda. Tetapi sudah tentu waktu bukan hal yang bisa disembunyikan dibalik karpet. Dengan mudah kita temukan guratan masa, coretan tahun-tahun yang silam. Teman-2 wanita kami sudah tentu bertambah usia seperti kami semua.
Sedangkan tentan teman laki-2ku aku mendengar progress mereka sukses dibidang masing-masing. Ada yang jadi CEO, jadi juragan ini dan itu, punya perusahaan sendiri, dsb. Bahkan ada pula yang mengaku punya isteri ke-2.
Aku jadi ingat audio book yang baru aku tamatkan "Why Do Beautiful People Have More Daughters?" Menurut buku ini "We have one goal in life: reproduction. It’s all about sex". Dalam kaitan dengan reuni ku baru-baru ini aku memahami bagaimana laki-laki dan perempuan mensiasati hidup mereka.
Masa puncak perempuan adalah masa mudanya - puncak kesuburan, masa produktif. Secara naluriah perempuan -konon- tidak suka jika ia nampak tua (padahal memang sudah tua) - karena (meminjam thesis buku yang disebut diatas) perempuan yang tua jelas tidak kompetitif lagi. Syukur jika ia telah berhasil membina rumah tangga dan punya keturunan. Jika tidak maka ia adalah kegagalan dari segi reproduksi. Gen-gennya tidak akan diteruskan kemasa depan - dan ia akan punah.
Masa puncak laki-laki justru bukan diusia muda, manakala ia baru mulai meniti jenjang kariernya. Laki-laki justru menjadi matang diusia -katakanlah- 40-an. Pada umumnya diusia ini mereka telah mencapai minimal tengah tangga jenjang karier dan laki-laki (yang selalu relatif potent dalam hal reproduksi) justru makin menarik sebagai potential partner diusia-usia ini.
Dari sisi sini dapat dipahami bahwa reuni SMA bisa jadi arena menyambung kembali cerita lama. Katakan si Dewi yang dulu bunga kelas bertemu kembali dengan di Dudung yang dulu cowok papan bawah. Katakan Dewi ini gagal dalam arena reproduksi (misal: cerai tanpa anak) sementara Dudung sukses buka warung pojok dan punya franchise segala. Jelas Dudung datang pede sementara Dewi tampil ragu. Dan menurut buku diatas Dewi akan menjadi underdog dihadapan Dudung dan jika tidak ada aral melintang Dewi dan Dudung bisa ber De-Dung de-dung ditepi kali dibawah bulan purnama.

Tuesday, June 23, 2009

apakah ini cuma soal intern belaka?

Agama yang saya lumayan kenal (kristianitas) tiba-tiba menjadi rada ganjil dibenak saya. Pertanyaan saya adalah seputar hal bersalah alias dosa. Tanpa konsep dosa kristianitas menjadi tidak mungkin - ibarat sebuah bilangan dibagi dengan nol- sulit dibayangkan. Yang saya pahami kristianitas berengselkan peristiwa Yesus - yang adalah juru selamat. Sudah tentu konsep juru selamat mengandaikan "ketidak-selamat-an". Mengapa pula ada ketidak-selamat-an ? Karena pemberontakan manusia alias dosa.

Manusia yang memberontak ini disebabkan -konon- kehendak bebasnya. Rada ganjil juga memahami ini - karena ibarat manusia itu ceroboh dan memilih yang jelek karena ia bebas, padahal pilihannya jelek.

Anyway- manusia yang tidak bebas tidak mungkin mencintai - karena mencinta dalam paksa atau demi imbalan adalah cinta yang palsu. Maka Allah yang adalah cinta sejati tidak bisa tidak selaian mendesain manusia bebas yang bisa berdosa.

Lha manusia yang berdosa ini tidak selamat dan oleh sebab itu ia perlu diselamatkan. Maka juru selamatpun dijadikan bagian rencana keselamatan. Sejak semula, sejak selama-lamanya.

Kalau logika ini benar maka the whole bussiness of keselamatan bisa dipahami macam soal intern Allah menghadapi desainnya sendiri i.e. manusia yang bebas.

Satu langkah lanjutan dari logika ini adalah : hal keselamatan adalah given. Allah yang tidak bergegas menyelamatkan adalah bukan Allah -karena Deus Est Caritas. Oleh sebab itu tidak perlu terlalu merasa bersalah kalau berdosa - tokh itu bagian dari desain.Lebih bagus mrencanakan untuk menjadi lebih baik -alih-alih menenggelamkan diri pada rasa bersalah ("karena dosaku IA mati"- not necessarily true)

Aku kok merasa logikaku ini tidak sejalan dengan katekismus. Disisi lain kupikir agama yang menekankan pada pasal "rasa bersalah" atau "hutang" kok bikin kerdil juga