Monday, January 17, 2022

Our imperfectness


I followed this person on twitter - he is a doctor living in US. His tweets are informative and I refer to  his postings for Covid related information (Some of his tweets are in Indonesian. He claimed that he does not speak Bahasa Indonesia at all). I am not sure how to react to this tweet. Is he a hypocrite or a mere imperfect person ?    


I would say he is imperfect. See above. He used his mistake to re-emphasize the thing that he preached: Masks work! We could also see that we human could just lower our discipline when we are among family or people that we assumed are safe. But of course we could never tell

 

Alas he took this opportunity to underline his credential. I would see that this thread as example for all of us. Fall down seven times, stand up eight. From spiritual point of view as Christian we could see the lesson of aiming for perfection. Yes we all made mistakes, weak and imperfect. But those are not reasons to give up. 

Keep walking on. If you fell, stand up and walk on

Sunday, January 16, 2022

The best story ever

When I was in my elementary school one of my favorite past times was reading stories. Gramedia the leading publisher had this story books series called "Cerita dari Lima Benua" (stories from five continents). I love many reading many of those but to me the best ever is Leo Tolstoy'  What Men Live By. Gramedia titled the book as "Simon dan Malaikat" (Simon and an angel). I have been searching for this book but no luck. When I knew that in fact the story was written by Tolstoy and I could find it online I could not tell how happy I was

To me Tolstoy wrote to confess his philosophical/religious view about God and humanity. I was no older than twelve when I first read the story but it had made a deep impression to my childhood brain. I was not sure why Gramedia has picked that title (Simon dan Malaikat) which to me did not give any clue what the story all about. I remember the cover depicted Simon (wearing ushanka, that unique Russian hat) and the pale angel lying naked with half his body covered with snow.

I remember I was also fascinated by the illustration (I think those drawings were by Dwi Koen). I am sure one of the reasons why I love this book was the illustrations. I adored Dwi Koen's drawing.  Anyway when I finished I experienced that moment of awe, similar when the singer mesmerized the audience to complete silence. 

Tolstoy was a genius

PS: I would want to spoiled the reader by hinting the plot of the story here. I would not want to steal that awe moment from you  

When Nokia was King

I remember the time when Nokia was king. I needed to learn the skill of typing SMS. How to type words using those 12 keyboards. The screen was monochrome and drawings made out of ASCII characters were awesome. Those Nokia are bulky, hot and cumbersome. But of course it was a dawn. We could make phone call anywhere. We were no longer tied by cables

When Blackberry offered QWERTY keyboard the end of NOKIA time had arrived. Now people could type text just like typing using the typewriter or computer keyboard. For business people Blackberry offers the ability to access their emails, anytime and anywhere. During the 911 attack all providers were blacked out but blackberry.

When Blackberry ignored the touchscreen technology of Iphone and Android it was their time to extinct. Blackberry insisted that their physical QWERTY would never persuaded people to migrate to the competitor. Of course they were completely fooling themselves. They could have still able to pocket some money were they not too proud to license the famous BBM to their competitors. Whatsapp was sold for $16 billion. But of course they were too proud to do such

Looking back it would be easy to see why consumer moved from one technology to another one. But of course from Nokia or Blackberry the future is where the gambles were. Blackberry were so stubborn to ignore the touchscreen completely. Nokia did not see that QWERTY was their Achilles heel. 

There other thing that I learned experiencing these changes of era is that the future is non linear. If you asked me what would people be using in 20 years time I might imagine smaller phone (like those Star Trek badges). But I would bet that I would be completely wrong. The future is hard to predict. Just ask those smart people in Nokia or Blackberry



Monday, January 13, 2014

Jerami Santo Thomas

Santo Thomas Aquinas pujangga gereja adalah santo pelindung kaum terpelajar, sekolah dan universitas, filsuf, pelajar, teolog, juga penerbit dan penjual buku, sampai-sampai juga pembuat pensil. Maklumlah buah karya tulisnya (yang paling tersohor Summa Theologica dan Summa Contra Gentiles) menjadi salah satu tonggak dalam gereja Katolik.

Thomas lahir dari keluarga bangsawan Italia (28 Januari 1225. Tanggal 28 Januari dirayakan gereja sebagai pesta wajib). Sejak usia lima tahun Thomas mendapatkan pendidikan yang unggul. Rupa-rupanya latar belakang pendidikannya ini membuatnya memilih menjadi Imam Dominikan meski mendapat tentangan hebat dari keluarganya (sampai-sampai mereka sempat memenjarakan Thomas selama setahun dalam sebuah Puri supaya Thomas mengurungkan niatnya ini).

Saat Thomas melanjutkan studi di Paris, bentuk fisik dan sifat pendiamnya membuat ia  dijuluki "kerbau dungu" oleh teman-temannya. Julukan yang tidak elok ini sungguh tidak tepat. Seperti sudah disebutkan, Thomas tumbuh menjadi pujangga gereja yang menulis puluhan karya tulis yang sampai hari ini (Thomisme) masih dipelajari dibangku kuliah teologi.
Minat utama Thomas adalah soal studi,pendidikan dan intelektual. Maka ia menolak tawaran menjadi Uskup di Napoli atau jabatan-jabatan lain dalam hirarki.

Thomas dikanonisasi 50 tahun setelah wafat (1823). Karya tulisnya diajukan sebagai satu bukti mujizat (salah satu syarat mendapat gelar Santo/Santa adalah adanya mujizat). "Tot miraculis, quot articulis" artinya "ada demikian banyak mujizat dalam hidupnya, sebanyak artikel dalam karyanya Summa yang adalah ribuan jumlahnya".

Namun kiranya ada satu keajaiban lain yang dialami Santo Thomas dalam hidupnya. Suatu kali ia nampak bercucur air mata kala berdoa didepan ikon Kristus yang disalib. Kristus bertanya: "engkau sudah menulis demikian bagus tentang aku Thomas. Apakah ganjaran yang engkau dambakan?. Thomas menjawab "Nothing but you, Lord".  Sejak peristiwa itu Thomas mengabaikan penyelesaian karya tulisnya. Manakala ditanya kenapa ia menjawab "mihi videtur ut palea" (semua yang kutulis nampak bak jerami bagiku). Dua tahun kemudian Thomas wafat. Sebelum menghebuskan nafas terakhirnya Thomas berdoa: cinta padaMu-lah yang membuat aku teguh dalam panggilan hidupku.

Pengalaman mistik Santo Thomas -yang memandang karya agung intelektualnya- cuma seukur rumput kering boleh menjadi kiranya sumber renungan kita. Hidup Santo Thomas menjadi teladan kerendahan hati. Sekaligus dapat kita lihat disana bahwa mengalami Allah secara pribadi adalah sebuah pengalaman yang tak terperikan dengan kata-kata. Thomas dalam kapasitas intelektualitasnya menulis ratusan ribu kata demi memerikan Allah yang Maha Agung itu, namun Thomas setelah mengalami Allah secara istimewa berhenti menulis.  Semua cuma jerami. Ut Palea

Friday, November 1, 2013

context, perception, priorities and public taste

Disebuah stasiun metro di ibu kota Amerika, pada suatu pagi yang sibuk, seorang pemusik berdiri memainkan biolanya. Terhitung seribu orang lebih lalu lalang diseputarnya selama "konser"nya berlangsung. Tidak banyak orang memperhatikan, seperti sudah bisa diduga. Siapa punya waktu buat pemusik jalanan? Siapa mau berbagi recehan buat pengamen? Dan demikianlah peristiwa ini terpinggirkan dan lenyap dari ingatan, masuk dalam kategori "tidak penting" dan dilupakan.
Yang berbeda pada hari itu adalah biola yang dimainkannya bernilai sedikitnya 3.5 juta dolar, sebuah masterpiece karya Antonio Stradivari. Dan sang "pemusik jalanan" adalah virtuoso bernama Bell. "Konser" tersebut digelar sebagai eksperimen oleh The Washington Post tentang context, perception, priorities and public taste.
Jika pemusik tiba-tiba muncul saat kita berhenti dilampu merah, memainkan sebuah lagu jazz  dengan penuh kecanggihan apakah anda bisa dengan cepat mengenali bahwa sesungguhnya dia ini pemusik papan atas? Mestinya tidak. Perhentian lampu merah terhitung dalam bilangan detik, kita mungkin sedang kesal menunggu dan mana ada pemusik handal mau menyamar jadi pengamen? Konteks peristiwa menumpulkan kemampuan apresiatif kita
Kiranya Natal pun adalah sebuah pertanyaan tentang context, perception, priorities and public taste. Dalam Injil Matius (Mat 2:2-6) kita baca raja Herodes heran setengah bingung manakala ditanya: dimana Raja orang Yahudi lahir? Raja yang mana lagi ? Bagaimana mungkin dia tidak tahu ada Raja lahir ? Dari kalangan mana ? Tidak mungkin ia tidak tahu? Tidak mungkin pula Raja lahir di kota bernama Betlehem? Kota kecil yang tidak penting itu!
Bagi kita yang sudah tahu persis bahwa Sang Raja memang lahir di Betlehem mungkin yang jadi soal adalah bagaimana meletakkan peristiwa Yesus itu dalam skala prioritas hidup kita masing-masing. Apakah ia kita letakkan sebagai pusat? sebagai rutinitas mingguan (bahkan mungkin lebih jarang lagi: 2 kali setahun saja?) Sebagai apakah Ia bagi hidup kita? Sebagai teladan dan teman perjalanan? Sebagai hakim dan wasit yang tidak pernah berhenti mendelik pada kita? Sebagai ban serep yang dirindukan saat krisis?
Yang terakhir Natal adalah soal public taste. Apakah Natal kita hargai sebagai festival tahunan dimana kita menyanyikan jingle bells dan berbagi kado belaka? Atau kesempatan kontemplasi tentang solidaritas - Immanuel, Allah beserta kita?
Sebelum kita sibuk menyiapkan (liburan) Natal (dan ..ehh...pesta tahun baru), mari sejenak kita renungan dimanakah gema Natal kita dengar dalam hati kita ?

Selamat Natal 

Friday, August 2, 2013

Terima Kasih, Mauliate, Kamsia

Seorang teman mengatakan bahwa konon disurga sana kotak berisi doa ucapan "terima kasih" cukup jarang dijumpai, sementara kotak doa "permohonan" berserak-serak dimana-mana.
Sebuah satire yang menarik. Kalau mau sejenak dihitung sepertinya kita memang lebih cenderung meminta-minta ketimbang berterima kasih.

Pernah dikatakan bahwa salah satu ciri orang yang tidak mengenal Allah alias atheis adalah bahwa ybs tidak pernah berdoa meminta. Kita bisa saja berdebat soal ini, tetapi satu hal sudah jelas bahwa manakala kita meminta kita berfokus pada diri kita, kepentingan kita, kesejahteraan diri kita, kita,kita dan kita. Kita sibuk memandang pada apa yang belum ada, pada apa yang kita sangka kita perlukan.

Sementara manakala berterima kasih kita pun memang memandang kedalam tetapi memusatkan pada apa yang sudah ada, yang sudah diterima, entah apapun itu kita terima dengan syukur dan amen. Kita tidak sok tahu seolah ada yang masih kurang pada diri kita, seakan masih ada yang terlewat dianugerahkan pada kita. Saat berterima kasih kita memandang keatas dengan penuh syukur, alih-alih sibuk merengek dan ingat diri. Berterima kasih juga membuat kita ingin berbagi pada mereka yang memerlukan. Hati yang penuh syukur memandang hidup dari sisi yang berbeda, dibandingkan dengan mereka yang meratap dan memohon. Boleh ditanya apa mereka yang merasa kekurangan sedia berbagi pada sesama? Apa yang hendak dibagikan kalau kita sendiri masih merasa berkekurangan?

Sudah tentu kita memerlukan banyak hal dalam kehidupan kita. Kita perlu sandang, papan dan pangan. Tapi boleh sebentar ditanya seberapa banyakkah yang kita perlukan dalam hidup? Adakah batas keinginan? Pernahkan manusia menjadi puas? Tidakkah kita selalu ingin yang baru, yang lebih besar, lebih mewah, dsb? Jika batas keinginan adalah langit maka siang-malam kita tidak akan berhenti dalam permintaan. Lalu bagaimana dengan ajaran bahwa kita disuruh untuk meminta. Mintalah maka engkau akan diberi. Ketuklah maka pintu akan dibukakan. Kiranya yang menjadi soal bukan meminta atau tidak meminta. Namun memahami bahwa yang kita perlukan untuk hidup kiranya tidak sebanyak yang kita mintakan. Bahwa penyelenggaraan Ilahi sesungguhnya sudah cukup. Bahwa kita semua sudah dianugerahi berkah melimpah.

Dan yang juga penting adalah bahwa kita tidak sungguh tahu apa yang kita perlukan dalam hidup ini. Keperluan kita mungkin hanyalah hasrat sesaat, ikut2an mode, bahkan keinginan untuk lari dari salib hidup kita. Salib yang sesungguhnya menjadi sumber pendewasaan dan pematangan iman.
Maka lain kali naluri minta terbersit dihati boleh sebentar durenungkan sudah cukupkah kita berterima kasih? Lagipula, omong-omong sebenarnya  kita ini anak Raja atau peminta-minta?
(Kredit buat Agnes B untuk cerita tentang  kotak terima kasih disurga)

Friday, July 5, 2013

WajahNya

Kita tidak pernah tahu bagaimana wajahnya...demikian Sushaku Endo membuka novel sohornya A Life of Jesus. Ya, kita yang hidup ribuan tahun setelah Ia wafat tidak akan pernah tahu seperti apa wajah Tuhan kita. Dari penelitian ilmiah tentang kain kafan dari Turin kita bisa merekonstruksi kira-kira bagaimana wajah pria yang pernah terbungkus kain ini 
(http://www.popularmechanics.com/science/health/forensics/1282186 - misalnya). Sama sekali tidak mirip dengan wajah yang kerap kita pandang di kalendar atau poster. Yesus tidak berwajah eropa, tidak bermata biru, tidak pirang dan mungkin tidak gondrong macam rockstar.
Dalam Yoh 8:57 kita baca "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?", demikian dikatakan orang Yahudi pada Yesus. Konon ada tradisi yang mengatakan bahwa setelah orang berusia setengah abad ia menjadi bijak bak Abraham lantas dikatakan bahwa yang bersangkutan sudah "melihat Abraham". Apakah lantas berarti wajah Yesus seperti orang usia setengah abad? 
Maka boleh direnungkan sejenak apa kiranya yang orang alami manakala ia memandang wajh Yesus? (Kata "wajah" kita kutip dari bahasa Arab "wajh"  yang selain berarti "muka" juga bermakna kepribadian)
  
Tidak terlalu berlebihan jika Yesus kita bayangkan sebagai seorang yang berwibawa. Tidak masuk akal jika sekelompok lelaki dewasa mau meninggalkan jala dan perahu mereka dan mengikuti Dia jika penampilannya tidak meyakinkan. Dimata lawanpun Ia jelas tidak bisa dipandang enteng. Luk 4:30 menceritakan bagaimana Ia berlalu begitu saja dihadapan gerombolan yang mengancam untuk membunuhNya. 
Disisi lain - mengutip Shusaku Endo lagi - wajahNya yang kelihatan tua sebelum waktunya ini  kiranya mengisyaratkan a shadow of nameless suffering which always played accross his face, or perhaps his weary eyes reflected interior pain. Kiranya Ia yang wafat disalib untuk dosa manusia sejagat sudah mengalami tanggungan kepahitan hidup manusia diawal masa pelayananNya.
Ia mengalami bagaimana manusia menderita, putus harapan dan didera kerasnya hidup. Ada kemiskinan, sakit-penyakit, kematian dan kesepian. Ada penolakan, kekejaman dan kehampaan hidup.  Tapi Yesus kiranya bukan seorang yang sok masokis yang menekankan mati raga habis-habisan (Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum - Luk 7:34)., tetapi Ia menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung (1 Pet 2:19)
Apakah lantas Yesus seorang yang berwajah serius atau bahkan cenderung murung? Mestinya tidak demikian. Tidak bisa dipahami seorang yang murung bisa mengatakan "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga" (Mat 6:26). Ia yang berkata demikian mestilah seorang yang penuh syukur, penuh harap dan keyakinan. Ia mampu memandang sisi terang kehidupan.
Kembali pada pertanyaan diawal tulisan ini - apakah yang berdesir dalam hati mereka yang berjumpa Yesus dalam jalan hidup mereka ? 
Cukuplah kalau kita renungkan perasaan perempuan yang nyaris tewas dirajam segerombol laki-laki yang menuduhnya sebagai penjinah. 
 + "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?"
 - "Tidak ada, Tuhan."
+ "Akupun tidak menghukum engkau.Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."
(Yoh 8:10-11)
Dapatkah perempuan ini melupakan wajahNya? Mampukah ia melukiskan pengalaman perjumpaannya dengan kata-kata?

Perjumpaan mendalam dengan Yesus kiranya selalu akan mengubah hidup manusia. Bagaimana dengan kita masing-masing? Sudah pernahkah kita jumpai wajahNya dalam perjalanan hidup kita ?