Wednesday, March 4, 2009

Cinta manusiawi

Naksir diasumsikan tidak setara dengan cinta tapi jatuh cinta mengandaikan unsur hormonal yang kental. Cinta Yesus tidak sama dengan cinta romeo, atau cinta parental. Dan dengan demikian batasan cinta menjadi mabur bureng bin tidak jelas

Waktu remaja hormon membanjiri sistem navigasi sehingga membuat Jarak pandang terbatas, maklum otak berkabut sehingga diwajahmu kulihat bulan, atau engkau adalah mawar asuhan rembulan. Tidak dipikir hari esok yang kompleks, karena dunia adalah milik berdua. Sehingga yang lain jelas indekost

Romeo yang katarak tidak mau melihat bahwa Juliet adalah sebenarnya Juleha. Yang suka makan petai dan kalau tidur ngorok, sementara Juliet yang buta pura2 tidak tahu bahwa Remo yang dikampung bernama Rhoma adalah Macam kucing yang jarang mandi

Semua indah pada waktunya, dan semua hanyalah impian semusim

Waktu orang berjalan menuju altar gereja Kuningan, sambil dikendangi kebo giro versi sundanese, orang hanya pikir masa depan penuh madu dan susu Lupa bahwa baju manten adalah sewaan dan atap bocor dimusim hujan Setelah bulan madu usai dan rentenir menanggih bunga, maka mimpi buruk Resmi di mulai.

Juleha melihat Rhoma yang asli dan Rhoma sadar Juleha bukan Juliet dan mulailah pernikahan dirasakan macam memesan makanan yang salah. Mulai ada Pertengkaran dan audibilah, kadang2 piring berterbangan.

Disaat seperti ini pantas diingat bahwa gereja katulik kuningan (dan segenap Gereja roma) memandang bahwa pernikahan adalah sakramen. Artinya tanda Kehadiran Tuhan. Dengan berjangji setia pejah gesang, orang mengikrarkan sesuatu yang tidak manusiawi. Manusia itu lemah, pelupa dan pembosan. Namun didepan altar di kuningan itu dulu, Rhoma dan Juleha berjangji setia dalam untung dan malang, till death do them part. Jangji yang inhuman ini butuh
Peneguhan Gusti Allah, kalau tidak hanya sebatas gombalitas belaka. Maka itu Gereja katulik bilang pernikahan adalah sakramen

Setelah jatuh orang harus berdiri, begitu juga jatuh cinta. Kalau gagal berdiri orang terancam jadi manusiawi: bosan, kolokan, promiscous, etc. Dan disini muncullah definisi cinta sebagai tekad, sebagai pilihan, sebagai komitmen yang tidak ada kaitannya lagi dengan take and give atawa mencari kesenengan belaka.

Dan meneladan Gusti Yesus, kita sadari bahwa cinta yang sungguh justru jauh dari romantika lilin meja makan malam. Cinta yang bener itu heroik, semacam upaya mentransendenkan manusia yang lemah, lebih ingat kepentingan sendiri dan kolokan

Dan dalam wacana Gusti Yesus, cinta yang heroik macam begini diganjar Keabadian, tidak terikat waktu dan ruang

September 06, 2003 7:10 PM

No comments:

Post a Comment