Saturday, February 28, 2009

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur

Mat 5: 4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Siapakah diantara kita yang belum pernah berduka-cita ? Siapakah dari kita yang tidak pernah menderita ? Siapakah dari kita yang tidak bersusah payah ? Kiranya menjadi manusia artinya mengalami segenap duka-cita, penderitaan dan susah payah.

Mengapa Yesus mengatakan bahwa yang berduka cita selayaknya merasa berbahagia?

Semua orang terbuka pada penderitaan
Kej 3: 16-19
16 Firman-Nya kepada perempuan itu: "Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu."
17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.

Mungkin dizaman modern ini kita tidak lagi mencari rezeki dari tanah (dan mungkin juga orang bisa melahirkan tanpa rasa sakit). Namun kiranya kita sepakat bahwa menjadi manusia artinya adalah mengalami segenap duka-cita, penderitaan dan susah payah.penderitaan,

Pertanyaan : bagaimana sikap orang terhadap penderitaan ?

Ada berbagai reaksi

Orang bisa marah dan meninggalkan imannya. Menurut mereka tidak masuk akal bahwa Allah yang maha baik mengizinkan adanya penderitaan didunia ini. Mereka protes.

Dan memang penderitaan menjadi tidak masuk akal jika dikaitkan dengan Allah yang Maha Baik
Penderitaan sebagai hukuman: anak kecil polos yang turut menjadi korban dan menderita
Penderitaan sebagai silih kebahagiaan dialam baka: Apakah Allah sungguh kejam dengan menuntut “pembayaran dimuka” atas kebahagiaan surga. Kenapa surga harus dibayar? Kita manusia dapat berbuat baik dengan tulus tanpa minta bayaran. Kenapa Allah tidak?
Penderitaan sebagai batu uji : ada yang lulus, tapi banyak yang menjadi pahit dan hancur. Apakah gunanya penderitaan bagi mereka yang tidak tahan uji dan tergilas ?

Penderitaan adalah sebuah misteri dalam hidup manusia. Kej 3: 16-19 diatas menyarankan bahwa manjadi manusia berarti terbuka pada penderitaan.

Dan filsafat menjelaskan penderitaan sbb (sedikit kursus filsafat disini):
Allah tidak mencipatakan sesuatu yang bertentangan dengan diriNya sendiri. Allah adalah konsisten. Bahwa kota Yogya terletak dekat dengan lempeng tektonik dan bertabrakan dan menyebabkan gempa adalah sebuah keniscayaan. Bukan berarti Allah tidak mencegah – Ia sekadar konsisten. Demikianlah Ia –Sang Maha Tahu- menciptakan alam ini. Tanpa lempeng tektonik tidak ada gunung api, tidak ada kesuburan dan ujung-ujungnya tidak ada hidup.

Filsafat sebagai ilmu tidak mampu menyelesaikan persoalan maha pelik ttg keberaadan pederitaan ini, namun ia dapat mengantar ini pada Allah dengan pertanyaan ini :
Apabila ada Allah, dari mana hal-hal buruk ?
Tetapi, dari mana pula hal-hal baik kalau Ia tidak ada

Dan demikianlah –penderitaan membuat manusia terpanggil untuk solider, berkurban, setia. Bagaimana hal-hal baik ini muncul kepermukaan dalam dunia yang tanpa derita ?

Fakta adanya sikap-sikap solidaritas, rela berkurban dan setia yang kita miliki adalah tanda bahwa ada makna yang dalam dari derita. Derita “memaksa” orang untuk keluar dari kepompong sempitnya untuk bertumbuh dan menjadi matang.

Pendeknya – kita mungkin tidak mungkin dapat menguliti misteri : mengapa Allah mengizinkan penderitaan, namun kita sekurang-kurangnya melihat titik terang bahwa :
Janji akan kebaikan yang sungguh baik (=ALLAH) adalah sebuah janji yang sejati.
Segenap penderitaan punya tujuan baik bagi masing-masing dari kita

Dan kiranya penderitaan bukan soal untuk dipecahkan(sebagai sebuah “kenapa”) namun sebagai sebuah jalan menuju kebaikan.

Kita boleh saja protes seperti Yesus sendiri kita dengar protes dipuncak salib:
Mk 5: 34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Namun kita tahu bahwa sejurus kemudian Ia berkata:
Lu 23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
Joh 19:30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.

Dan Ia kita tahu dibangkitkan Allah – derita salibNya mendatang kehidupan. Derita Nya –kita tahu- bukannya tanpa arti

Kalau kita sepakat bahwa penderitaan kita masing-masing adalah sebuah jalan menuju kebaikan kita sendiri, manakah langkah-2 praktis yang dapat kita ambil agar kita sungguh memetik manfaat sebesar2nya?

1. Sadarilah bahwa Allah mempercayai kita masing2 bahwa kita akan sanggup menanggung salib kita masing-masing.

Adalah lebih mudah untuk mempercayai Allah telah mengutus Yesus puteraNya untuk menyelamatkan orang lain melalui derita salibNya. Tetapi amat sulit untuk mempercayai bahwa Ia pun menaruh kepercayaan pada kita masing-masing: bahwa salib kita akan menjadi sarana bagi kita untuk mencapai kebaikan.

2. Jalan keluar dari penderitaan adalah justru dengan memasukinya dan menjalaninya

2Kor 1:5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.

Flp3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

1Pe 4:13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.

Rom 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Filip 1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,

2Tim2:3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.

Penderitaan kita adalah bagian dari penderitaan Kristus dan sebaliknya penderitaan kita juga menjadi bagian dari penderitaan Kristus

Maz 30:12 Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,

Yesus mengundang Allah untuk mengubahkan deritaNya menjadi rahmat yang menyelamatkan (kalau boleh cawan ini lalu, tapi terjadilah kehendakMu).

2Kor1: 5 Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah.

3. Penderitaan –oleh sebab itu- hendaknya dipandang sebagai kesempatan untuk memurnikan hati, memusatkan hidup pada yang lebih luhur, melepaskan diri dari ikatan yang kurang bernilai.
Penderitaan –mau tidak mau- menantang orang untuk menampilkan sisi terbaiknya. Membuatnya menjadi kreatif dan menguji kematangannya. Orang yang setia memanggul salib akan tampil sebagai “pemenang” dalam arti : akan terubahkan dan menjadi matang

1 Ptr5:10 Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.

Hidup ini bukan soal memilih apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi melainkan bagaimana sikap kita menghadapi semua ini. Misalnya: hujan tetap berarti jatuhnya butiran-butiran air dari langit, yang membedakan adalah bagaimana kita memberi makna pada peristiwa itu

Sesungguhnya bertobat berarti membiarkan Allah memimpin jalan hidup kita., bahkan jika itu melewati derita.

4. Kalau demikian adanya – penderitaan dapat dipandang sebagai bukti kasih Allah. Sebab Ia menghendaki agar kita bertumbuh

Kej 22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."
2 Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."

Yak1: 2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.

Hidup yang dipenuhi syukur perlu dilatih. Dan mengalami penderitaan sebagai sebuah rahmat yang perlu disyukuri adalah sebuah latihan yang utama.

5. Tetaplah ingat bahwa sesungguhnya kemampuan kita untuk menghadapi derita adalah lebih besar dari yang kita kira, sebab

1Kor 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Mungkin kerap kita terlalu mudah untuk menyerah kalah. Terlalu cepat berhenti dan meratap. Allah adalah setia dan Dia tahu yang kerpa kita tidak tahu : yaitu bahwa sesungguhnya kita akan mampu memanggungnya.

Ingatlah pula bahwa Ia selalu hadir bersama kita. Hendaknya kita selalu terbuka untuk menyadari kehadiranNya ini dan menjadikan hal ini sebagai sumber kekuatan.
Kita selalu diundang untuk dapat melihat bahwa bagaimanapun tidak ada yang sanggup memisahkan kita dari Allah.

Maka kata-kata Yesus yang paradoksal dalam sabda kebahagiaan mungkin mulai menjadi terang. Bahwa sesungguhnya orang yang berduka cita layak berbahagia. Sebab –selain mereka akan dihibur- sesungguhnya penderitaan adalah sarana keselamatan.

Yesus tidak meninggalkan jalan lain selain jalan salib. Kita diundang untuk melepaskan genggaman kita pada hal-hal semu yang membuat kita memandang derita secara salah. Sebaliknya kita diajak untuk erat-erat menggenggam salib kita masing2 dan berjalan dibelakang Yesus. Sebab jalan salib adalah jalan menuju keselamatan.

Balikpapan 11 Juni 2006
Untuk Diaz

No comments:

Post a Comment